BPS: Lulusan SMK Penyumbang Terbesar Pengangguran di NTB

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

209
Kepala Bappeda NTB, Ridwansyah. Foto: Turmuzi

MATARAM — Berdasarkan Data Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat, angka pengangguran di NTB sebesar 3,32 persen. Dari keseluruhan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan penyumbang terbesar, yaitu 9,67 persen.

“Masih banyaknya lulusan SMK yang menganggur di NTB, karena lulusan dihasilkan tidak sesuai kebutuhan lapangan pekerjaan yang ada, sehingga ketika lulus tidak dapat terserap lapangan kerja,” kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) NTB, Ridwansyah, Kamis (11/10/2018).

Disebutkan, pengembangan SMK sekarang ini harus berorientasi pada kebutuhan kerja. NTB misalkan sebagai daerah pariwisata, lulusan dihasilkan harus banyak terkait kebutuhan sektor terkait.

Sehingga ketika sudah selesai, lulusan SMK bisa terserap lapangan kerja, baik di perhotelan maupun sektor wisata lain, dengan berbagai spesifikasi dan keahlian dimiliki.

Sebagai upaya mengentaskan masalah kemiskinan, selain peningkatan pendapatan, masalah mendasar seperti pendidikan dan kesehatan tetap jadi faktor utama.

“Kita harus fokus soal itu, misalnya soal pendidikan harus dapat mendukung proses industrialisasi,” katanya.

Sebelumnya, data BPS NTB menunjukkan pengangguran di NTB masih pada angka 3,32 persen, dimana pengangguran didominasi lulusan SMK. Lebih besar ketimbang lulusan SMP ke bawah yang diserap dunia kerja.

Padahal sebagai Sekolah Kejuruan, lulusan SMK seharusnya lebih gampang mendapatkan pekerjaan serta dapat langsung bekerja.

Menurut Endang, ada berbagai kemungkinan penyebab banyaknya lulusan SMK yang menganggur. Salah satunya jurusan yang diambil salah, alias tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang saat ini. Sementara, lulusan SMP ke bawah lebih banyak terserap karena umumnya bekerja di sektor pertanian.

Baca Juga
Lihat juga...