Budi Daya Cabai Jawa, Mudah dan Menguntungkan

Editor: Koko Triarko

226
LAMPUNG – Masa panen komoditas cabai jamu atau cabai Jawa (Retrofractum vahl), ditandai dengan buah masak berwarna kemerahan pada tanaman yang merambat pada sejumlah pohon.
Ngadiman (60) salah satu warga Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, menyebut komoditas pertanian itu bisa dipanen saat usia delapan bulan. Proses penanaman cabai jamu dilakukan dengan memanfaatkan lahan tanaman karet di kebun yang dimilikinya.
Siti Aminah,melakukan proses pengeringan cabai jamu atau cabai jawa memanfaatkan sinar matahari [Foto: Henk Widi]
Penanaman cabai jamu cukup mudah, karena memanfaatkan batang merambat yang ditanam pada polybag. Batang cabai jawa yang menyerupai sirih sekaligus menyerupai tanaman lada, selanjutnya dipindah ke lokasi yang disiapkan.
Semua jenis pohon bisa dijadikan rambatan, di antaranya pohon kakao, kelapa, nangka, albasia, karet hingga jenis tanaman medang. Ia mengaku menanam cabai jamu sejak bulan Januari silam dan mulai berbuah hingga menjelang panen bulan Oktober hingga Desember.
Kebutuhan akan cabai jamu sebagai jenis rempah, kerap diminta oleh para pembuat jamu tradisional serta pengepul rempah. Pengepul di antaranya membeli lada, pala, kakao, cabai Jawa, pinang, serta berbagai buah lain.
Mudahnya budi daya cabe jamu, membuat petani memilih menanam cabai Jawa sebagai sumber penghasilan alternatif. Saat musim kemarau, lahan pertanian jagung dan padi tidak bisa digarap, petani bisa memanen cabai Jawa.
“Ketika komoditas pertanian lain tidak bisa ditanam akibat kemarau, saya justru bisa memanen cabai Jawa dengan harga yang cukup lumayan, lebih mahal dari buah kakao yang juga saya tanam,” terang Ngadiman, Minggu (7/10/2018).
Ngadiman menyebut, setiap batang cabai jamu bisa menghasilkan buah bervariasi, mulai dari 5 hingga 10 kilogram cabai jamu basah, menyesuaikan usia. Semakin tua cabai jamu ditandai dengan jangkauan rambatan tinggi membuat, ia bisa memanen dalam jumlah lebih banyak. Tanaman cabai jamu dengan hasil panen rata-rata lima kilogram per pohon berjumlah 100 pohon, membuat ia bisa memanen sekitar 500 kilogram cabai jamu basah.
Cabai jamu yang merambat, menurut Ngadiman, beberapa di antaranya bisa merambat hingga ketinggian lima meter. Akibatnya, ia harus melakukan pemanenan menggunakan tangga segitiga selama pemetikan. Setelah dipanen, cabai jamu akan dijemur hingga kering dan siap disimpan dalam plastik kedap tertutup.
Seperti tahun sebelumnya, cabai jamu hasil panen di kebun miliknya bisa menghasilkan sekitar 300 kilogram cabai jamu yang dipanen secara bertahap. Setelah melalui proses pengeringan, ia bisa mendapatkan cabai jamu sekitar 200 kilogram.
Harga cabai jamu diakui Ngadiman cukup stabil, dan jika mengalami kenaikan hanya berkisar Rp10.000 hingga Rp25.000 untuk cabai jamu kering. Tahun lalu, ia menyebut petani menjual cabai jamu per kilogram seharga Rp65.000 maksimal hingga Rp80.000 per kilogram.
Pada tahun ini, harga bisa mencapai Rp75.000 hingga maksimal Rp95.000 per kilogram, sesuai kualitas cabai jamu yang dijemur. Musim kemarau yang melanda sejak empat bulan terakhir, diakuinya membuat proses pengeringan lebih sempurna dengan terik matahari.
“Panen cabai jamu bersamaan dengan musim hujan, kerap berimbas rentan terkena jamur sehingga harga turun, saat kemarau kualitas cabai jamu cukup baik,” terang Ngadiman.
Petani yang menjadikan tanaman cabai jamu sebagai tanaman penyelang tersebut, mengaku dengan menjual sebanyak 100 kilogram cabai jamu kering seharga Rp70.000 per kilogram, ia bisa mendapat Rp7 juta. Hasil tersebut bisa lebih besar, jika panen cabai jamu meningkat dengan proses perawatan dilakukan dengan pemberian pupuk kandang serta penyemprotan mengurangi hama ulat.
Belum banyaknya penanam cabai jamu, membuat ia bisa memperoleh hasil menjanjikan. Selain digunakan untuk rempah bahan obat tradisional, cabai jamu kerap digunakan untuk bumbu sejumlah kuliner tradisional.
Dian (30), warga di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, sengaja menanam ratusan batang merambat cabai jamu di lahan pekarangan. Sebanyak seratus batang cabe jamu sengaja ditanam merambat pada pohon kakao, randu kapuk, kelapa.
Meski menghasilkan sekitar puluhan kilogram cabai jamu, hasilnya bisa dipergunakan untuk tambahan uang bagi keluarganya. Cabai jamu diakuinya kerap dijual bersama dengan kakao hasil panen kebun miliknya.
“Penanaman cabai jamu cukup mudah, perawatan dilakukan dengan pemupukan dan bisa ditanam bersama tanaman lain, tanpa mengganggu pohon utama,” beber Dian.
Siti Aminah (40), salah satu petani pemilik kebun kakao, kelapa menyebut sengaja menanam cabe jamu sebagai tanaman penyelang. Cabai jamu diakuinya bisa bertahan hingga puluhan tahun, bahkan semakin merambat tinggi hasil buah yang dipanen semakin banyak.
Pada musim kemarau dengan perakaran yang cukup kuat, membuat cabai jamu bisa bertahan. Ketika berbagai jenis tanaman tidak bisa menghasilkan, Siti Aminah masih bisa memanen sekitar 30 kilogram cabai jamu kering dengan hasil penjualan mencapai Rp2,1 juta.
“Hasilnya lumayan, namun masih banyak petani enggan membudidayakan cabai jamu skala besar, hanya ditanam sebagai tanaman selingan,” cetus Siti Aminah.
Cabai jamu yang dipetik ketika sudah cukup tua ditandai dengan warna merah selanjutnya dipetik dan dijemur. Proses pengeringan selama kemarau lebih cepat dibandingkan saat musim penghujan. Cabai jamu bisa berbuah sepanjang musim, meski sudah memasuki masa panen bunga baru akan muncul kembali sehingga bisa dipanen bertahap.
Menghasilkan uang yang lumayan sekali panen, membuat budi daya cabai jamu terus dipertahankan, dan dikembangkan oleh Siti Aminah dengan melakukan regenerasi tanaman baru.
Baca Juga
Lihat juga...