Bupati Karanganyar Temui Dua Belas Warga Selamat Bencana Palu

Editor: Satmoko Budi Santoso

193

SOLO – Sebanyak 12 warga Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah yang selamat dari bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, hari ini bertemu dengan Bupati Karanganyar.

Dua belas warga Karanganyar ini sebelumnya dijemput oleh Relawan Karangpandan (Rendan) di Surabaya. Tiba di Karanganyar, keenam warga yang berhasil selamat dari bencana itu tidak langsung bertemu keluarga, melainkan singgah di rumah dinas bupati.

Mereka langsung ditemui Bupati Juliatmono dan bercerita hingga akhirnya selamat dan dapat pulang ke tempat kelahiran. “Mereka ini baru sebulan bekerja di Palu. Belum juga dapat bayaran, mereka harus berlari menyelamatkan diri, karena dikejar tsunami, hingga akhirnya bisa selamat,” kata Juliatmono kepada awak media, Jumat (5/10/2018).

Dari 12 warga Karanganyar yang selamat bencana di Palu, enam di antaranya sudah sampai di Karanganyar. Sementara sisanya masih berada di Palu, tengah persiapan pulang ke kampung halaman. Kedatangan warga yang selamat dari bencana ini meminta bupati agar memberikan  pekerjaan sebagai ganti di Palu.

“Mereka ini pergi ke Palu untuk mengubah nasib. Tapi justru terkena bencana. Jadi agar punya pekerjaan, mereka akan diperkejakan untuk membangun pasar Karangpandan. Kebetulan kita baru bangun pasar,” terang Juliatmono.

Selain menjanjikan pekerjaan, bupati juga memberikan sedikit uang lelah untuk keluarga yang ada di rumah. Bupati juga memberikan baju, karena pasca-bencana mereka tidak memiliki apa-apa, termasuk pakaian ganti.

“Ini ada sedikit bantuan, mudah-mudahan bisa meringankan. Di Palu tidak digaji tidak apa-apa, saya yang gaji,” kata bupati sembari tertawa lebar.

Sementara itu, salah satu korban selamat Dwi Wijayanto menceritakan, awal bencana terjadi saat akan pulang dari mess kontrakan. Saat itu masih gempa, baru saja terjadi, dan berbagai ruas jalan sudah banyak yang rusak.

Kepanikan terjadi saat ribuan orang yang berada di pesisir pantai mulai berlari berhamburan untuk menyelamatkan diri karena tsunami. “Saat itu, 12 teman dari Karanganyar menyelamatkan diri dan terbagi menjadi tiga kelompok. Enam orang naik mobil, lainnya berlarian ke tempat tinggi,” ungkap warga Berjo, Karangapandan.

Pasca Palu digoyang gempa dan tsunami, Dwi bersama 11 rekannya mengaku tak memiliki bekal apa pun. Sebab, berbagai bekal tertimbun di mess. Sementara dia dan rekan-rekannya harus menyelamatkan diri. Bahkan hingga satu setengah hari, Dwi mengaku tidak makan. “Semuanya tidak makan, cuma minum air saja,” kenangnya.

Bahkan untuk baju ganti, Dwi bersama rekannya, baru mendapat baju ganti setelah di Posko Palu. “Baju juga tidak punya. Baju ini kita dapatkan saat sudah di posko. Barang lainnya tidak punya,” imbuhnya.

Cerita Dwi bersama 11 rekan lainnya berhasil sampai di Karanganyar karena ikut dalam grup media sosial. Dari itu, mereka yang selamat dari bencana itu mengabarkan jika membutuhkan bantuan untuk pulang kampung halaman.

“Dari group facebook, saya minta kalau ada yang akan perjalanan ke Karanganyar kami ikut. Baru setelah sampai Surabaya kami dijemput teman-teman relawan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...