Bupati Tegaskan Pariwisata Flotim Harus Berbasis Masyarakat

Editor: Satmoko Budi Santoso

329

LARANTUKA – Pariwisata di Kabupaten Flores Timur (Flotim) hendaknya merupakan pariwisata berbasis masyarakat yang lahir dari masyarakat dan dikelola oleh masyarakat untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Pariwisata berbasis masyarakat direncanakan, dilaksanakan untuk masyarakat. Festival Nubun Tawa adalah kesempatan bagi masyarakat Lewolema khususnya, dan Flores Timur pada umumnya, untuk boleh mengelola kekayaan yang menjadii miliknya,” sebut bupati Flores Timur Antonius Gege Hadjon, Jumat (5/10/2018).

Saat membuka festival Lewolema di lapangan sepakbola desa Bantala, Anton menegaskan, kekayaan yang telah lama hidup dan menjadi budaya harus terus dipertahankan di tengah tantangan globalisasi.

Bupati Flores Timur Antonius Gege Hadjon. Foto : Ebed de Rosary

“Saat ini pragmatisme dan hedonisme begitu kuat. Masyarakat mulai meninggalkan budayanya. Apakah anak muda saat ini masih bisa mengenal budayanya?” tanya bupati Flotim.

Apakah masyarakat sebut Anton, masih menyadari adat dan budaya yang diwariskan leluhur serta masih bisa mempertahankan di tengah berbagai tantangan perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari?

“Saat ini penenun dalam menenun lebih banyak menggunakan benang dari pabrik, bukan yang asli berasal dari kapas. Dulu perempuan Lamaholot menenun sarung atau kain tenun menggunakan benang yang diproses secara tradisional dari kapas yang ditanam di kebunnya,” ungkapnya.

Momentum festival Nubun Tawa, tegas Anton, harus dijadikan semangat membangun kesadaran, mencintai apa yang kita miliki agar semua mempunyai nilai dan tetap hidup dalam keseharian masyarakat Lamaholot Flores Timur.

“Budaya itu sesuatu yang hidup dan bertahan lama sehingga harus menjadi milik, tidak boleh terlepas dan harus terus dimaknai. Potensi alam dan sosial budaya harus dipadukan supaya menghasilkan sesuatu yang baik dan menjadikan sebagai nilai jual wisata,” pesannya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Apolonia Korebima, menyebutkan, dalam rangka melestarikan nilai-nilai budaya, maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Flores Timur menyenggarakan Festival Budaya Nubun Tawa di Kecamatan Lewolema yang merupakan tahun pertama diselenggarakan.

“Festival seni budaya berbasis masyarakat. Masyarakat diminta untuk menggali berbagai atraksi, seni budaya yang dimiliki yang mungkin selama ini mulai dilupakan oleh masyarakat,” terangnya.

Pemerintah kabupaten Flores Timur, sebut Apolonia, melihat Lewolema memiliki beragam seni budaya yang perlu diangkat dan dipeihara seperti makna Nubun Tawa yang artinya menghidupkan dan menjaga budaya sebagai perekat keberagaman di bumi Flores Timur.

“Nubun Tawa juga berarti tumbuh dan berkembang sehingga generasi muda diharapkan lebih percaya diri dan memiliki keberanian memungut kembali kepingan-kepingan budaya yang dibiarkan mati selama hampir berabad-abad,” ungkapnya.

Festival ini, beber Apolonia, lahir dari kesadaran akan pentingnya menghidupkan dan menjaga budaya yang menjadi perekat keberagaman. Diharapkan menjadi sarana untuk mengembalikan kebudayaan pada basis ekosistemnya.

“Kegiatan festival selama 3 hari diadaptasi dari kegiatan keseharian yang dipadukan dengan seni pertunjukan lain sehingga bisa menjadi nilai jual kepada wisatawan dan memperkenalkan budaya masyarakat Flores Timur,” pungkasnya.

Disaksikan Cendana News, ribuan masyarakat Kecamatan Lewolema dan Flores Timur memadati lapangan bola Desa Bantal sejak pukul 09/00 WITA dengan menggunakan pakaian adat.

Berbagai atraksi seperti menganyam perlengkapan rumah tangga menggunakan daun pohon Tuak, menumbuk padi di Lesung, menenun, memanah, tinju tradisional, ritus membuat api, serta tarian Soka, Sole Oa, dan tarian Dolo-Dolo dipentaskan penari berpakaian adat.

Baca Juga
Lihat juga...