BWI: Wakaf Sukuk Kembalikan Kedaulatan Negara

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

207
Wakil Ketua BWI, Imam T Saptono pada diskusi wakaf di Jakarta, Kamis (4/10/2018) sore. Foto : Sri Sugiarti

JAKARTA — Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Imam T Saptono menilai, wakaf surat berharga syariah (sukuk) dapat menjadi salah satu solusi untuk mengembalikan kedaulatan negara dengan berutang kepada warga negaranya.

Disebutkan, utang itu sebenarnya bukan seberapa besar jumlahnya, tetapi maksud atau syarat tertentu yang ada di belakangnya. Seperti, tujuan China meminjamkan utang pada negara lain untuk menjajahnya secara tidak langsung.

“Apabila dia (yang memberikan utang) sudah bisa mengontrol kebijakan negara atau konsensi dan seterusnya, ini bahaya,” kata Imam dalam diskusi wakaf di Jakarta, Kamis (4/10/2018) sore.

Jepang sebut dia, salah satu negara dengan tingkat hutang tertinggi di dunia dengan rasio 230 persen lebih, tetapi negara tersebut nyaman saja. Ini karena 85 persen utangnya berasal dari pinjaman ke warga negaranya, bukan ke negara lain.

Bencana Lombok mengalami kerugian sebesar Rp 7,7 triliun. Mau diambil dari zakat itu tidak mungkin, karena bicara emergency. Tetapi kalau untuk membangun sekolah dan puskesmas baru, misalnya, sifatnya ini harus dari wakaf.

“Daripada negara pinjam utang ke China. Saya lebih rela negara pinjam ke badan wakaf. Itu jalan keluar kalau memang negara butuh modal, spirit umat berwakaf bisa kita bangkitkan,” tukasnya.

Negara Turki, sebutnya, bisa galang zakat untuk bangun kereta api, begitu pula dengan Arab Saudi. Negara yang pinjam utang ke badan wakaf juga ada, salah satunya Mesir.

Mesir meminjam dana wakaf dalam konteks karena anggaran negaranya devisit. Tetapi meminjam dulu ke link-nya, seperti sukuk.

Untuk mengembalikan negara mencari kedaulatan dalam membangun, maka BWI jelas Imam, akan menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk) ritel dengan nama Wakaf Link Sukuk pada 14 Oktober 2018 mendatang.

Dengan kuon atau imbal hasil 7,75 persen hingga 8 persen. Total dana yang diincar mencapai Rp50 miliar. Nantinya tempo sukuk ritel ini berjangka 5 tahun. Sementara itu sukuk ini merupakan seri SW001.

“Masyarakat bisa berwakaf mulai Rp1 juta. Tidak ada batasan maksimal untuk pembelian,” ujarnya.

Dalam hal ini, tambah dia, BWI bekerjasama dengan bank syariah untuk memudahkan nasabah membeli sukuk tersebut.

“Saya harapkan wakaf sukuk ini kalau jumlahnya sama seperti obligasi negara yang Rp500 triliun suatu saat nanti. Ini uang bisa mengontrol pemerintah. Karena pemilik sukuk ini adalah nadhir,” tandasnya.

Nadhir ini diwakili lembaga nadhir yang terdaftar di BWI. Yaitu anggota Dompet Dhuafa, Wakaf Al-Azar, Global Wakaf ACT, Inisiatif Wakaf dan Mandiri.

Adapun manfaat wakaf link sukuk bagi negara, jelas Imam, adalah sumber dana alternatif dengan margin yang murah, menunda beban APBN dan APBD berjalan, menjaga financial deepening dan stabilitas makro, mengurangi ketergantungan utang luar negeri dan membangun kesetiakawanan nasional.

Sedangkan manfaat untuk umat sebut dia, yaitu sarana ibadah dan dakwah, juga sebagai alternatif investasi sekaligus beramal, dan memastikan obyek pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga
Lihat juga...