Cilota, Suvenir Boneka Daun Lontar Bercirikan Bali

Editor: Mahadeva WS

272

MALANG – Melihat potensi alam yang ada di lingkungan berupa daun Lontar, seorang mahasiswa, I Gusti Putu Surya Angga Buana, mencoba memanfaatkan potensi tersebut. Mahasiswa Universitas Udayana, Bali tersebut, menciptakan suvenir boneka dengan label Cilota, yang mencirikan budaya lokal Bali.

Cilota merupakan suvenir baru di Bali, memanfaatkan bahan-bahan daur ulang berbahan dasar daun Lontar. Bahan baku tersebut banyak terdapat di Kabupaten Karangasem Bali. “Di Karangasem sebenarnya banyak sekali tersedia potensi daun lontar, namun sayangnya oleh masyarakat setempat belum di manfaatkan secara maksimal. Di sana daun lontar hanya digunakan pada waktu ada upacara agama saja per enam bulan sekali,” ujar Angga, Selasa (2/10/2018).

I Gusti Putu Surya Angga Buana menunjukkan boneka Cilota – Foto Agus Nurchaliq

Bercermin dari permasalahan dan potensi yang ada tersebut, Angga dan beberapa kawannya coba menghadirkan suvenir boneka Cilota. Suvenir tersebut mengusung konsep daur ulang, dan memasukkan unsur budaya Bali di dalamnya. Pembuatan bonek dengan cara anyam.

Nama Cilota merupakan sebuah singkatan dari kata Cili dan Lontar. “Cili memiliki arti kecil dan indah, yang merefleksikan simbol dari rasa syukur masyarakat Bali terhadap kesuburan dan kemakmuran kepada Tuhan. Sedangkan Lontar merupakan bahan dasar untuk membuat boneka Cilota,” jelas Angga.

Selain daun lontar sebagai bahan dasar, kami juga memanfatkan bahan-bahan bekas lain seperti, kain perca, kardus, koran bekas dan jerami. Cilota bukan hanya sekedara boneka biasa, karena banyak mengandung pesan positif yang dimuatkan di dalamnya. Termasuk nilai Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab terciptanya kebahagian.

“Tri Hita Karana ditekankan pada tiga hubungan manusia yang meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Tuhan,” terangnya.

Bentuk hubungan sesama manusia, diwujudkan dalam bentuk memberdayakan masyarakat untuk membuat Cilota. Hal itu secara tidak langsung juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Kemudian hubungan manusia dengan alam, di implementasikan melalui penggunaan bahan-bahan bekas, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Selanjutnya adalah hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan dalam penggunaan simbol Cili pada boneka Cilota.

Sejak dikembangkan pada awal Januari 2017, boneka Cilota kini telah dikembangkan dalam bentuk boneka wisuda, dengan tetap menggunakan bahan dasar daun lontar dan bahan daur ulang. “Boneka Cilota sudah kami pasarkan secara online melalui media sosial, dengan target pasar  mahasiswa, dan kaum milenial dengan kisaran harga Rp95 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung tingkat kesulitannya,” sebutnya.

Selain di Bali, boneka Cilota juga kerap mendapatkan pesanan dari pelanggan di Malang. Semua produk boneka Cilota kami ciptakan bersama-sama dengan rumah produksi Cilota Bali, di Dusun Taman Sari, Desa Tianyar Barat, Karangasem, Bali.

Baca Juga
Lihat juga...