Debu Proyek Bandara Kulonprogo Ganggu Kesehatan Murid SD Palihan Lor

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

205

YOGYAKARTA — Pengerjaan proyek bandara di kawasan Temon, Kulonprogo memberikan efek pencemaran udara terhadap lingkungan sekitar. Hal itu berdampak pada munculnya serangan penyakit berupa batuk kering, hingga iritasi mata yang dialami warga sekitar.

Seperti dirasakan sejumlah murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Palihan Lor, yang berada tepat di sebelah pintu masuk proyek lokasi bandara, dusun Palihan Temon Kulonprogo. Tepat berada di sisi sebelah utara jalan raya Jogja-Purworejo, sekolah ini berseberangan dengan lokasi keluar-masuknya truk yang membawa material tanah urug.

“Posisi sekolah kita tepat di sebelah pintu masuk lokasi proyek. Dampaknya debu yang dibawa truk-truk pengangkut tanah urug masuk hingga ke ruang-ruang kelas. Tak hanya mengotori bangku, debu ini juga membuat sejumlah murid sakit,” ujar salah seorang guru SD N Palihan Lor, Sartini, Rabu (10/10/2018).

Sartini menyebutkan, sejak beberapa bulan terakhir, pengerjaan proyek bandara memang berlangsung intensif. Selama 24 jam, ratusan truk keluar masuk lokasi proyek melintasi depan sekolah. Tak hanya menimbulkan polusi udara, kawasan tersebut juga tak jarang mengakibatkan kemacetan panjang.

“Satu bulan terakhir ini, banyak murid yang mengeluh batuk dan sakit mata. Batuknya batuk kering, sedang sakit matanya berupa iritasi. Keluhan mereka mata memerah dan terasa perih. Karena debu,” ungkapnya.

Seorang guru menunjuk debu yang menumpuk di jendela kelas. Foto: Jatmika H Kusmargana

Memiliki sekitar 105 murid, SDN Palihan Lor sendiri hingga saat ini belum mendapat perhatian, baik dari pemerintah tingkat desa, kecamatan, maupun dinas terkait. Pihak sekolah secara mandiri mengimbau agar membawa masker dari rumah. Pihak sekolah juga mengaku tidak memiliki cadangan masker maupun obat-obatan seperti tetas mata.

“Tidak ada bantuan masker. Kita hanya minta murid bawa sendiri dari rumah. Namun masih banyak yang tidak pakai. Pengecekan kesehatan juga tidak ada. Ya kita harapkan ada pihak yang membantu,” katanya.

Untuk meminimalisir dampak polusi udara berupa debu, pihak sekolah sendiri telah berupaya menutup sebagian ruang kelas, khususnya di sisi jalan raya dengan plastik. Selain itu sekolah juga mengurangi kegiatan belajar mengajar di luar kelas seperti olahraga, terkhusus saat angin sedang kencang.

“Tak hanya siswa, akibat debu itu sejumlah guru juga ada yang mengeluh sakit. Kita juga harus kerja ekstra untuk membersihkan ruang-ruang kelas dari kotoran dan debu setiap hari,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...