Desa Mandiri Lestari Tamanmartani Miliki Potensi Batik Berkualitas

Editor: Mahadeva WS

262

YOGYAKARTA – Desa Mandiri Lestari Tamanmartani Kalasan Sleman, memiliki potensi usaha batik yang sangat potensial untuk dikembangkan. Selain memiliki karakteristik yang khas, batik yang dihasilkan desa binaan Yayasan Damandiri tersebut, sudah mampu merambah ke pasar luar negeri. 

Adalah Hariyadi (48), warga Dusun Bogem RT 06 RW 02, Tamanmartani, pelaku usaha batik tersebut. Dia memulai usaha batik, khususnya batik tulis 18 tahun lalu. Selain memenuhi pasaran dalam negeri seperti Kalimantan dan Bali, lelaki lulusan Sekolah menengah Industri Kerajinan (SMIK) tersebut, bahkan pernah memasarkan langsung hasil karyanya hingga ke Swiss.

“Awalnya saya kerja di Yayasan Sosial Indonesia dan Swiss dalam bidang batik. Disana saya sempat mengajarkan proses pembuatan batik pada orang-orang Swiss. Setelah itu saya lalu bekerja di batik sekitar Jalan Magelang. Tapi saya nyambi buat batik sendiri dan saya pasarkan secara langsung di Swiss,” katanya, Rabu (3/10/2018).

Setelah mampu mendirikan usaha batik secara mandiri, Hari kemudian mengaku dipertemukan dengan Istri Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X, yakni GKR Hemas. Dari situlah usaha batiknya berkembang pesat, dan dikenal di Yogyakarta. Dia pun kerap mengikuti sejumlah pameran besar, termasuk fashion show di Jakarta.

Hariyadi menunjukkan salah satu karya batiknya – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Jadi waktu itu saya ikut pameran di sekitar Kalasan. Lalu ada kunjungan GKR Hemas. Setelah lihat batik saya, beliau kaget dan bilang disini ada batik bagus kok tidak bilang. Akhirnya saya dikenalkan dengan Deperindakop DIY. Dan ditawari untuk ikut pameran-pameran di Jakarta,” tuturnya.

Hari fokus membidik kalangan menengah ke atas sebagai konsumen batiknya. Oleh karenanya, batik yang dihasilkan merupakan batik dengan kualitas unggul. Satu batik buatannya, dijual dikisaran harga Rp1,5 juta hingga Rp6,5 juta untuk sarimbit atau pasangan. “Memang saya lebih cenderung kedepankan kualitas. Minim ada tujuh hingga sembilan kombinasi warna dalan batik saya. Setiap batik juga selalu khas tidak ada yang sama. Biasanya motifnya berupa flora dan fauna. Semua warna bisa masuk, dan bisa disesuaikan pesanan,” ungkapnya.

Dibantu sekira delapan orang tenaga, Hari mampu memproduksi sedikitnya 20 batik dalam satu bulan. Satu karya batik membutuhkan waktu hingga satu bulan lebih untuk membuatnya, mulai dari proses desain, pemalaman, pewarnaan hingga finishing.

Lamanya proses pembuatan batik tersebut, membuat Hari kini lebih fokus untuk melayani pasar dalam negeri. Khususnya pesanan-pesanan dari para pelanggan. Ia mengaku tidak lagi kerap mengikuti pameran-pameran di Jakarta, karena alasan tren batik saat ini yang sedang menurun.

“Padahal dulu saat sedang ramai-ramainya, sekali ikut pameran di Jakarta saya bisa dapat sampai Rp40juta. Namun sekarang susah, bahan baku mahal, jualnya juga susah,” ungkap pengusaha yang kini lebih banyak memberikan pelatihan membatik pada sejumlah warga di Sleman itu.

Hariyadi mendukung dan menyambut baik adanya program Desa Mandiri Lestari di desanya. Ia berharap dapat bersinergi dengan pihak pemerintah desa untuk memberdayakan warga masyarakat melalui batik. Terlebih saat ini sudah ada beberapa warga desa yang ikut membatik di tempatnya.

Baca Juga
Lihat juga...