Diperjualbelikan, 82 Satwa Dilindungi Disita Polres Morotai

799
Iliustrasi satwa burung yang dilindungi - Foto Dokumentasi CDN

TERNATE – Polres Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menyita 82 ekor satwa dilindungi. Penyitaan dilakukan, saat satwa dilindungi tersebut sedang diperjualbelikan.

Hasil sitaan tersebut, kini diserahkan ke Balai Karantina Ternate. “Semua barang bukti yang disita berupa burung kaka tua putih lima ekor, nuri bayan ada 25 ekor, kasturi ternate ada 44 ekor dan nuri kalung ungu delapan ekor,” kata Kapolres Pulau Morotai, AKBP M Sitanggang, Selasa (2/10/2018).

Menurut Dia, puluhan satwa yang dilindungi itu dibawa ke Balai Karantina Ternate, karena di Pulau Morotai tidak ada tempat untuk menampung. Polres Morotai berhasil mengamankan satwa dilindungi tersebut, setelah mendapat laporan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Morotai, terkait adanya sejumlah jenis burung langka di Kabupaten Pulau Morotai yang diperjualbelikan.

Anggota Polres Morotai langsung bergerak cepat turun ke lokasi, di mana burung-burung tersebut diperjualbelikan. Tim Reserse yang turun ke lapangan dan tempat lokasi burung-burung diperjualbelikan, berhasil menyita puluhan ekor satwa dilindungi tersebut. Dalam kesempatan tersebut, petugas mengamankan oknum berinisial M, penjual burung langka tersebut. Selain burung langka, puluhan kura-kura langka juga ikut disita, tetapi kura-kura tersebut sudah dilepas di Pulau Galo-Galo dan oknumnya tetap diproses hukum.

Polres Morotai meminta BKSDA turun ke masyarakat dan melakukan sosialisasi, karena sebagian besar masyarakat Morotai belum mengetahui jenis-jenis satwa langka yang dilindungi undang-undang, atau tidak boleh diperjualbelikan. Polisi memilih menyerahkan puluhan ekor burung langka tersebut ke karantina untuk dipelihara. Jika ditahan, dikhawatirkan burung-burung tersebut malah akan mati. “Oknum penjualnya belum ditahan, tetapi proses hukumnya tetap berjalan,” tandas Kapolres.

Pelaku akan dijerat pasal 1 ayat 21 Undang-undang No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana maksimal lima tahun dan denda Rp100 juta. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...