Diserang Hama, Produksi Padi di Penengahan Menurun

Editor: Mahadeva WS

209

LAMPUNG – Petani padi di Desa Kelaten, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, mengalami penurunan produksi di masa panen kali ini.

Heriawan (30), salah satu petani padi di Dusun Jatisari, Desa Pasuruan menyebut, penurunan produksi terjadi karena serangan hama wereng. Lahan seluas setengah hektare, yang semula bisa panen tiga ton, kali ini hanya panen sekira 2,5 ton gabah kering panen (GKP). Selain akibat hama wereng, hama burung juga ikut menurunkan produksi padi pada masa tanam ketiga (MT3).

Heriawan padi pada masa panen tahun ini menanam varietas Ciherang, yang memiliki usia tanam 120 hari. Pada penanaman yang dilakukan Juli lalu, sejak awal sudah menghadapi berbagai kendala. Seperti datangnya organisme pengganggu atau hama tanaman. Saat padi berusia setengah bulan, hama keong mas melanda. Hama wereng juga mulai menyerang sebelum padi berbulir, sehingga batang padi menjadi kuning, mengering dan kerdil.

“Sudah kami lakukan proses penyemprotan menggunakan insektisida agar bisa mengurangi dampak hama wereng, tetapi tetap saja produksi berkurang saat panen akibat rumpun berkurang,” terang Heriawan saat ditemui Cendana News sedang memanen padi miliknya, Rabu (3/10/2018).

Menghadapi kondisi tersebut, Heriawan memilikih melakukan ngasak padi yang dipanen, karena sebagian mengalami kerusakan akibat hama wereng. Sejumlah rumpun padi yang terimbas hama wereng, sebagian rusak dengan bulir padi tidak berisi, tetap dipanen dengan sistem pemilahan. Pertumbuhan padi yang terhambat saat masa pertumbuhan, membuat bulir padi tidak berisi biji beras. Proses ngasak dilakukan, karena batang padi tidak bisa dipanen secara manual.

Dampak hama wereng membuat rumpun padi roboh, sehingga tidak bisa dipanen secara manual menggunakan alat perontok. Selain itu, gabah juga mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Pada satu petak sawah sebelumnya bisa menghasilkan dua karung beras, kini hanya mendapatkan satu karung gabah kering panen.

Muda (34), salah satu petani di Desa Pasuruan menyebut, hama burung dihalau dengan menunggu setiap pagi sejak pukul 05.30 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Proses menghalau burung juga dilakukan saat sore, pada pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. “Dampak hama burung yang memangsa padi memang bisa diatasi asal rajin menghalau burung terutama saat bulir padi masih muda,” terangnya.

Muda menyebut, pada masa tanam sebelumnya, hama burung masih bisa diatasi meski dampaknya tetap akan mengurangi produksi panen padi. Dia juga tidak menampik, produksi padi dipastikan akan mengalami penurunan dibandingkan ketika tidak ada hama burung pipit.

Cara manual mengusir hama burung, dilakukan dengan membuat penghalau hama burung menggunakan plastik bekas bungkus makanan, bendera serta kaleng berisi kerikil untuuk menciptakan suara berisik. Semua plastik dan kaleng tersebut dihubungkan dengan tali untuk digerakan mengusir hama burung.

Petani lain Suwondo (30), yang memiliki tanaman padi berusia lebih dari 50 hari setelah tanam menyebut, tanaman padi miliknya terkena hama wereng. Hama wereng muncul dari sejumlah lahan sawah yang sebelumnya sudah dipanen, dan pindah ke areal persawahan milikinya. Langkah penanggulangan hama wereng dilakukan dengan proses penyemprotan menggunakan insektisida. Proses penyemprotan dilakukan untuk memulihkan kondisi rumpun padi yang dimiliki. Akibat hama wereng tanaman padi menguning seperti terbakar.

Penyemprotan secara rutin setiap pagi dan sore, mulai bisa mengurangi dampak hama. Pemupukan sekaligus penambahan nutrisi tanaman dilakukan untuk memulihkan rumpun padi yang sudah terkena wereng. Meski bisa pulih dan tumbuh dengan baik, dampak hama bisa mengakibatkan produksi padi berkurang.

Baca Juga
Lihat juga...