Disiplin Positif, Alternatif Pengganti Hukuman Fisik

Editor: Satmoko Budi Santoso

144

GIANYAR – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) melalui Deputi Bidang Perlindungan Anak bekerjasama dengan Yayasan Nusantara Sejati melaksanakan workshop penerapan disiplin positif di Rumah Luwih, Kamis (4/10/2018).

Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Valentina Ginting, mengatakan, penerapan disiplin positif dirasa sangat penting diterapkan di sekolah. Disiplin positif adalah suatu pendekatan yang memberikan alternatif pengganti hukuman fisik, yaitu memastikan bahwa hukuman yang diterima anak bersifat logis sehingga anak belajar untuk tidak mengulangi perilaku yang tidak diinginkan.

“Guru diperbolehkan untuk mendisiplinkan siswa di sekolah, namun tentu dengan cara-cara tanpa kekerasan, yakni dengan menerapkan disiplin positif. Disamping itu, peran orang tua juga sangat penting untuk memperhatikan keadaan anak dan membimbing anak untuk disiplin dan menghormati guru,” ucap Valentina Ginting.

Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pengendalian penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kab.Gianyar Cokorda Gede Bagus Lesmana Trisnu.-Foto: Sultan Anshori.

Valentina Ginting, menambahkan bahwa program penerapan disiplin positif di satuan pendidikan sebagai kegiatan nasional sudah dilakukan di sekolah-sekolah agar siswa tidak mendapatkan bullying. Disiplin positif juga diharapkan memberikan pendidikan dampak yang baik sebagaimana tercantum dalam UUD no 35 tahun 2014.

Dilanjutkan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Penduduk Indonesia sebagian besar berada pada usia produktif. Karena pada saat itu jumlah kelompok usia produktif (umur 15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orang tua berusia 65 ke atas).

“Selama terjadi bonus demografi tersebut, komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang bakal menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Gianyar, Cokorda Gede Bagus Lesmana Trisnu, mengatakan, tumbuh kembang anak merupakan prioritas utama dalam membentuk kematangan fisik dan mental sehingga menjadi generasi yang Genius (Gesit, Empati, Berani Unggul dan Sehat) sehingga bonus Demografi tahun 2030 dapat dimanfaatkan dengan baik.

“Pembentukan karakter anak dimulai sejak dini dan ini dilakukan tanpa ada kekerasan, sehingga anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabatnya,” ujar Cok Trisnu.

Kepada peserta workshop Cok Trisnu berharap agar mengikuti workshop dengan sungguh-sungguh sehingga mampu mengimplementasikan penerapan disiplin positif dalam proses belajar mengajar di sekolah masing-masing.

“Karena disiplin positif merupakan salah satu pendekatan untuk menumbuhkan kedisiplinan pada diri siswa tanpa kekerasan untuk menunjang terwujudnya Kabupaten Gianyar Layak Anak (KLA),” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...