Edukasi Lingkungan Cegah Dampak Likuefaksi

Editor: Satmoko Budi Santoso

389

JAKARTA – Munculnya cairan seperti lumpur yang menyebabkan banyak bangunan di Baloroa Palu melesak ke dalam tanah, menimbulkan kehebohan di masyarakat.

Sejatinya, lumpur yang diakibatkan oleh perubahan sifat tanah dari padat menjadi cair ini merupakan gejala normal yang menyertai kejadian gempa bumi.

Kepala Bidang Manajemen Operasi Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Ariska Rudyanto, S.Si, Dipl.Tsu, M.Sc menyatakan, fenomena likuefaksi ini dapat dilihat dari kondisi lapisan tanah.

“Intinya, likuefaksi ini adalah pengenceran atau pencairan tanah. Artinya tanah yang mengalami penurunan tingkat keterikatan dari masing-masing partikel tanah dan terisi oleh air. Pada saat terjadi tekanan siklik, maka bisa digambarkan tanah dan air itu menjadi terkocok dan tersembur keluar. Dan saat ada bagian partikel yang naik, maka akan ada bagian yang turun. Sehingga menjadikan likuefaksi sebagai salah satu fenomen yang merusak apa pun yang di atasnya,” kata Ariska kepada Cendana News, Rabu (3/10/2018).

Kejadian likuefaksi ini bukan hanya terjadi di Baloroa Palu saja. Likuefaksi sudah menjadi penyebab sejumlah kerusakan dalam sejarah gempa bumi di seluruh dunia.

“Sebagai contoh kejadian gempa bumi di Taiwan, yang menyebabkan keruntuhan jembatan. Atau kejadian di Nigata, Jepang dimana ada satu apartemen yang mengalami penurunan setengah gedung, yang akhirnya menyebabkan keruntuhan satu gedung,” papar Ariska selanjutnya.

Likuefaksi ini terjadi pada tanah jenuh, yaitu ruang partikel tanah dipenuhi dengan air. Saat belum gempa, tekanan air relatif rendah. Tapi saat terjadi gempa, tekanan air akan meningkat ke titik dimana partikel tanah akan mengikuti sifat air yang mudah bergerak mengikuti gelombang yang menekannya.

“Perlu diketahui, bahwa Palu itu bentuknya seperti mangkok. Jadi bayangkan saja jika air di dalam mangkok. Tekanan akan memantul ke sisi dan terpantul kembali ke sisi lainnya. Dan di bagian bawahnya, ada lapisan bantuan yang kedap air. Jadi getaran gempa ini seperti terperangkap dan menimbulkan gerakan yang terjadi secara terus menerus dan membesar,” ucap Ariska.

Apakah likuefaksi ini tidak bisa dihindari? Likuefaksi ini sebenarnya bisa terdeteksi melalui riset pada data karakteristik tanah melalui NSPT atau Sondir.

“Ini merupakan penelitian Geo-Tech yang menyelidiki karakteristik tanah. Tidak dalam-dalam banget, paling 30 meter. Tapi bisa mengetahui karakteristik tanah, apakah pasir atau lumpur. Sehingga bisa dinilai kerentanan likuefaksinya. Penelitian pernah dilakukan di Palu dan ditemukan bahwa memang sebagian besar daerahnya rentan likuefaksi,” ujar Ariska.

Untuk daerah dengan skala kecil atau lokal, Ariska menyampaikan, likuifaksi bisa dicegah dengan mengganti material pada pondasi tanah.

“Biasanya dilakukan data Sondir, jika ditemukan kerentanan pada likuefaksi, biasanya akan dilakukan pengangkatan pasir dan mengganti materialnya. Ini kalau kecil. Tapi kalau dalam kasus Baloroa, ini agak repot. Karena kan luas. Sehingga salah satu caranya adalah menjadikan area untuk peruntukan yang bukan terkait hajat hidup orang banyak, misalnya lahan hijau,” ucapnya.

Keputusan ini tentunya bukanlah kewenangan BMKG, tapi merupakan bahan pertimbangan untuk semua pihak.

“Bukan hanya pemerintah saja, tapi masyarakat juga perlu mengetahui hal ini dan membuat keputusan yang akan memperkecil risiko bencana,” tegas Ariska.

Perspektif kearifan lokal harusnya mendasari setiap pembangunan tata ruang di masing-masing daerah.

“Masalahnya masyarakat kita ini suka lupa. Bangsa kita ini bukan bangsa written, bangsa yang oral. Jadi semua peristiwa itu hanya dijadikan cerita rakyat. Padahal apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, pastinya dilakukan karena ada kejadian yang melatarbelakanginya. Kita lihat rumah asli di sana, semuanya rumah panggung bukan landed house. Dari sana harusnya kita bisa melihat apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah perulangan dampak bencana,” pungkas Ariska.

Baca Juga
Lihat juga...