Ekonomi Kreatif di Balikpapan Terus Tumbuh

Editor: Koko Triarko

193
BALIKPAPAN – Sejak 2011, pelaku ekonomi kreatif start-up digital terus bermunculan di Kota Balikpapan, dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat lokal.
Potensi tersebut harus terus didukung secara konsisten, agar para pelaku dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi, khususnya pada subsektor aplikasi, game dan web serta internet of things (loT).
Melalui Bekraf Developer Day (BDD) yang digelar Badan Ekonomi Kreatif di kota Balikpapan, Minggu (7/10/2018), untuk menguatkan ekonomi digital, mengingat kota mengalami pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Kalimantan Timur, yakni 4,76 persen.
“Pada 2011, ekonomi kreatif (ekraf) di Balikpapan mulai berkembang dan memiliki nilai jual. Bekraf Developer Day adalah salah satu upaya Bekraf meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif di Tanah Air,” ucap Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari, Minggu (7/10/2018).
Menurutnya, berkembangnya ekonomi kreatif di Balikpapan, karena potensi ekonomi Kota Balikpapan dapat dilihat dari berbagai fakta, seperti tersedianya fasilitas jasa dan transportasi yang lengkap, dibanding kawasan lain di Kalimantan, bahkan wilayah Indonesia Timur. Selain itu, Balikpapan merupakan jalur utama distribusi dari dan ke kabupaten/kota, serta provinsi di wilayah Indonesia Timur.
“Sehingga dukungan teknologi sangat dibutuhkan di kota ini (Balikpapan) dengan mendorong para pelaku ekonomi digital, kreatif digital, dan pre-startup membentuk ekosistem digital, guna mendukung potensi ekonomi di Balikpapan,” jelas Hari Santoso.
Hari Santosa Sungkari juga menyebutkan, BDD yang digelar di Balikpapan ini lebih menonjolkan pada start-up, yang merupakan kreativitas generasi milenial seperti aplikasi permainan dan yang berhubungan dengan e-commerce.
“Ini menjadi salah satu sektor prioritas yang ditangani Bekraf dari hulu sampai hilir. Jadi, sebelum menjadi start-up, kami lakukan pendampingan sampai jadi produknya, termasuk modal dalam membangun start-up,” imbuhnya.
Bahkan pada BDD kali ini, developer juga diberikan peluang dan difasilitasi untuk melakukan pembuatan HAKI, agar karya yang diciptakan dihargai dan dapat dipasarkan.
BDD yang diikuti mahasiswa, akademisi dan pelaku start-up, juga diharapkan dapat membentuk ekosistem digital, sehingga bermanfaat bagi masyarakat lokal. Potensi itu pun harus didukung secara konsisten, agar para pelaku dapat meningkatkan kompetensi di subsektor aplikasi, game dan web serta Internet of Things atau IoT.
“Kami ingin talenta-talenta dan produsen-produsen baru bermunculan dan aplikasi yang berkualitas bisa menggerakkan perekonomian nasional, melalui ekonomi kreatif digital di kota Balikpapan,” harap Hari Santoso.
Berdasarkan survei, lanjut Hari, sekitar 28 persen populasi penduduk Indonesia atau sekitar 64 juta orang merupakan generasi muda dengan rentang usia 15-29 tahun. Sehingga iven ini juga dapat mendorong kontribusi anak-anak muda untuk berkreasi menghasilkan aplikasi dan game yang membantu aspek kehidupan masyarakat Balikpapan dan sekitarnya.
“Harapannya bisa mendorong kontribusi anak-anak muda untuk berkreasi, dalam menghasilkan aplikasi dan game yang membantu masyarakat sekitar,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, mengharapkan adanya sumbangsih dari perusahaan melalui CSR, agar industri start-up bisa tumbuh dan berkembang. Terlebih dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dalam tren otomasi dan pertukaran data terkini.
“Jangan terlalu mengharapkan APBD, karena belum tentu bisa selaras pola pikir dan pemahaman di birokrasi pemerintahan,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Balikpapan merupakan kota kelima penyelenggaraan BDD 2018 dengan menghadirkan sejumlah pelaku, praktisi dan expert industri kreatif digital Tanah Air, di antaranya Senior Software Engineer – Go-Jek Indonesia (Go-Pay Division), Deny Prasetyo; Country Manager ACA Pacific – Alcatel Lucent Enterprise, Wiranto; Cloud and Enterprise Business Group Lead – Microsoft.
Juga Yos Vincenzo; Dicoding Elite, Product Manager Mobile Apps – Sociolla, Najib Abdillah; CEO – Educa Studio, Andi Taru Nugroho Nur Wismono; Chief Innovation Officer and Google Developer Expert for Android – Nusantara Beta Studio (PT Kode Aplikasi Indonesia), Sidiq Permana; VP Technology – Helpster Limited Company, Nurendratoro Singgih; CEO Arsanesia, Adam Ardisasmita; dan Co-Founder Digital Semantika Indonesia/ Digital Happiness, Dito Suwardita.
Baca Juga
Lihat juga...