Enam Perantau Asal Sumbar Meninggal dalam Bencana Sulteng

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

399
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit saat berada di ruang kerja. Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Di antara seribuan korban meninggal bencana gempa dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah, terdapat enam orang perantau asal Sumatera Barat.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyebutkan, dari data yang dihimpun oleh Badan Penghubung Sumbar, ada 15 orang yang berdomisili di Palu yang menjadi korban. Rinciannya enam orang meninggal, tujuh masih pencarian,dua orang luka-luka.

“Dari enam yang meninggal, lima orang sudah dimakamkan, satu belum dievakuasi,” katanya di Padang, Kamis (4/10/2018).

Menurutnya, nama yang terdata korban adalah anak dari, suami dari, atau ayah dari. Hal ini dikarenakan informasi yang dikumpulkan juga secara lisan. Ada kemungkinan masih ada keterbatasan pendataan, namun informasi tersebut masih akan terus diperbarui.

Data dari Badan Pehubung itu juga lengkap dengan nama dari parantau asal Sumatera Barat yang ada di Sulteng.

Berikut anggota keluarga Sumatera Barat yang meninggal, luka dan belum ditemukan dalam bencana alam gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

1. Man Rangkito (sudah dimakamkan)
2. Ad Rangkito (belum ditemukan)
3. Amak Sori (sudah dimakamkan)
4. Canak, Mama dari Jon Balaroa (belum ditemukan)
5. Upik, anak Akong (sudah dimakamkan)
6. Suami Camel (belum dievakuasi)
7. Istri Apak (sudah dimakamkan)
8. Menantu Apak (belum ditemukan)
9. Adit suami Yanti Mak Etek (belum ditemukan)
10. On (luka, kaki patah)
11. Dua orang anak si On (belum ditemukan)
12. Menantu Apak (belum ditemukan)
13. Istri Haji Syamsir (luka berat)
14. Suami Karmeldawati (meninggal)

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berencana akan memberikan uang duka cita pada perantau Minang yang menjadi korban bencana di Sulteng.

“Setelah pendataan, kami bicarakan di Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Ada semacam uang duka cita, tapi belum kita tetapkan nominalnya. Kita lihat dulu, berapa yang meninggal, yang dirawat,” sebutnya.

Terkait pendataan perantau Minang yang menjadi korban bencana dahsyat itu, Nasrul meminta Badan Penghubung Sumatera Barat terus melakukan pembaharuan dan verifikasi data melalui jaringan Ikatan Keluarga Minang (IKM) di Palu.

“Kita data terus. Kita tidak usah tentukan batas pendataan. Basarnas itu mencari sampai sepuluh hari, kalau diperpanjang, kita juga tambah waktu untuk pendataan,” bebernya.

Sementara bantuan lain yang dikumpulkan Sumatera Barat untuk korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah telah diterbangkan ke Jakarta hari ini. Selanjutnya diangkut melalui udara menuju lokasi bencana. Bantuan itu berupa randang, makanan berbahan daging khas Minangkabau yang jumlahnya mencapai 1,6 ton.

“Randang telah diterbangkan. Kamis sore 4 Oktober sampai ke bandara Halim Perdanakusuma. Teknis supaya cepat diterbangkan lagi ke Palu, kita sudah instruksikan Badan Penghubung Sumbar untuk berkoordinasi dengan Badan Penghubung Sulawesi Tengah yang ada di Jakarta,” jelasnya.

Selain bantuan makanan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga akan mengirim bantuan uang untuk membantu penanganan bencana.

“Rp1 miliar bersumber dari APBD. Ini untuk membantu penanganan tanggap darurat,” tegasnya.

Baca Juga
Lihat juga...