Era Ekraf, Kebudayaan Harus Bisa Datangkan Penghasilan

Editor: Koko Triarko

262
LARANTUKA – Hampir seluruh ritual di Flores dilakukan dengan lagu, dan budaya ini masih tetap dipertahankan, dan menjadi kewajiban generasi muda untuk mewariskannya.
“Banyak alat musik dan rekaman lagu-lagu tradisional asli Flores yang kini berada di museum Tropen di negeri Belanda, dan alat-alat musik dan lagu-lagu ini tidak ada lagi di Flores,” ungkap Ivan Nestroman, seniman tradisonal asal Flores,Minggu (7/10/2018).
Dikatakan Ivan,untuk menghidupkan budaya dan tradisi ini, salah satu caranya lewat festival seni budaya dan anak-anak muda sebagai garda terdepan untuk memperjuangkan kebudayaan, agar tidak tergerus oleh globalisasi.
“Kita tergerus oleh modernitas, dan saat ini anak-anak muda lebih suka menyanyi lagu dalam bahasa Inggris dan malu menyanyi dalam bahasa Flores. Ini sebuah tantangan,” sebutnya.
Ivan Nestroman, seniman dan budayawan asal Flores yang sering mementaskan musik tradisional Flores di luar negeri. -Foto: Ebed de Rosary
Dikatakan Ivan, dulu dirinya suka menyanyi lagu reggae, dan pada 2.000 ia berhenti menyanyikan lagu reggae, karena menetap lama di Perancis dan bermusik hingga bisa membawakan musik dari beberapa negara.
“Saat ada festival di Perancis, ada seorang penyanyi Reggea asal Afrika, dan saya malu sendiri ketika membawakan lagu reggae. Penyanyi Reggea tersebut meminta saya  menyanyikan lagu dalam bahasa Flores, sehingga sejak saat itu saya menyanyi lagu berbahasa Flores,” terangnya.
Saat ini, katanya, era industri kreatif, sehingga bagaimana membuat kebudayaan ini menghasilkan uang seperti orang Bali yang memainkan gamelan dan menghasilkan uang.
“Musik dan tradisi harus dihidupkan dan menjadi keseharian kita seperti halnya orang Bali. Kita harus menjadikan warisan budaya sebagai nilai jual yang bsia mendatangkan pendapatan,” pesannya.
Tarian tradisional dan lagu daerah Flores, lanjutnya, kadang hanya bisa dinikmati saat tertentu, sehingga ini menjadi sebuah tantangan bagi generasi mdua Flores, agar bisa menghidupkan budaya dan tradisi dan hidup dari budaya dan tradisi ini.
Hal senada disampaikan Joice, salah seorang peserta diskusi budaya Lamaholot saat festival Nubun Tawa di Lewolema, yang mengisahkan bagaimana dirinya menemukan alat musik, barang antik dan lainnya asli Flores yang berada di tangan orang asing tersebut.
“Segala barang antik dan warisan budaya kita dijual olehnya dengan harga yang mahal, setelah membelinya dari masyarakat kita dengan harga murah. Kita terbiasa tidak menjaga warisan budaya dan lebih tergiur dengan uang,” tuturnya.
Sementara itu, Silvester Hurit, berharap agar peran serta pemerintah dan agama untuk mendukung pelestarian adat dan budaya terus digalakkan, tetapi peran masyarakat yang harus lebih besar.
“Masyarakat harus mencintai tradisinya, dan ini tantangan bagi generasi muda menghidupkannya kembali setelah selama berabad-abad berbagai tradisi dan budaya mulai hilang, dan ada yang dilarang untuk dipentaskan,” ungkapnya.
Baca Juga
Lihat juga...