Fenomena Gay di Cianjur Terus Meningkat, Capai 3.452 orang

189
Ilustrasi - Dok. nu.or.id

CIANJUR — Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lensa Cianjur, Jawa Barat, mencatat ada 617 penyuka sesama jenis atau gay baru di Cianjur selama periode Januari-Juli.

Angka tersebut membuat jumlah gay di wilayah tersebut mencapai 3.452 orang, seperti diungkapkan Koordinator Lapangan Komunitas Lensa Cianjur, Tedi Rustandi pada wartawan di Cianjur, Rabu (10/10/2018).

“Dibandingkan tahun lalu, temuan gay baru lebih rendah angkanya, sekitar 100-200 orang per bulan,” katanya.

Namun demikian perlu dicatat, ujar dia, angkanya bertambah terus dengan 47 persen di antaranya merupakan warga berusia 17-24 tahun.

Para gay atau LSL (lelaki seks lelaki) tersebut tambah dia, sudah memiliki perkumpulan atau komunitas sendiri, bahkan ada beberapa tempat keramaian yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas tersebut. “Untuk lokasinya ada di beberapa pusat keramaian di Cianjur kota dan utara,” katanya.

Setiap pelaku seks menyimpang, ujar dia, cenderung akan mencari target baru dengan sasaran mereka yang sedang tidak memiliki tujuan ataupun tengah menjalani masalah di keluarga.

“Awalnya korban akan diajak berkomunikasi secara intens, kemudian dibelikan barang, kuota internet dan lainnya. Hingga pada akhirnya melakukan seks sesama jenis dan menjadi pelaku seks menyimpang,” katanya.

Selama ini, tutur dia, tidak ada ciri khusus yang bisa terlihat dari pelaku seks menyimpang karena meskipun sedikit kemayu atau lebay belum tentu dia gay, begitupun yang terlihat maskulin belum tentu normal.

“Orangtua harus lebih waspada dengan terus mengawasi perilaku anaknya. Minimalnya dengan memeriksa telepon pintar, jika ditemukan ada percakapan dengan sesama jenis yang menyimpang segera berikan bimbingan,” katanya.

Kepala Bidang Advokasi dan Penanganan Perkara Pusat Pelayanan Terpadu dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Cianjur, Lidya Umar, mengatakan banyak mendapatkan laporan masuk terkait anak yang hampir bergabung dengan kelompok gay.

“Orangtua menyampaikan jika anaknya akan diajak bergabung, tapi ketahuan dan minta konsultasi ke kami untuk pencegahan,” katanya.

Untuk mengantisipasi penularan perilaku seks menyimpang tersebut, tambah dia, perlu ketahanan keluarga dikedepankan karena mereka yang terjerumus dalam perilaku negatif, kebanyakan bermasalah dengan keluarga

“Kami terus sosialisasikan dan genjot ketahanan keluarga, salah satunya untuk mengantisipasi perilaku seks menyimpang,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...