Festival Bebas Batas, Unjuk Karya Difabelitas

Editor: Mahadeva WS

242

JAKARTA – Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Demikian peribahasa yang tepat untuk menggambarkan sosok Sani Tumbelaka. Penyandang szikofrenia tersebut, berkesenian karena memang merupakan keturunan keluarga seniman. Kakeknya dulu, aktif berpameran lukisan.

Sani memamerkan karya lukis berjudul Fill in the Blank, dalam Festival Bebas Batas di Galeri Nasional Indonesia, yang digelar 12 hingga 29 Oktober 2018. Sebuah festival kesenian difabelitas yang ramah difabelitas. “Karena saya penyandang szikofrenia, saya melukis karya lukisan ini dalam keadaan betul-betul terpuruk di dalam hidup saya,“ kata Sani Tumbelaka, salah seorang pengisi pameran lukisan Festival Bebas Batas, kepada Cendana News, Sabtu (13/10/2018).

Karena terkena szikofrenia, Sani ia tidak memandang bagus tidaknya karya lukisan yang dihasilkannya. “Saya hanya merasakan blank dan tidak tahu harus bagaimana, saya hanya tahu tentang gambaran hidup saya yang memang begini adanya, “ tandasnya.

Sani mengaku pasrah dengan menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan, terhadap kondisi yang dialaminya. “Saya tetap pada satu keyakinan bahwa saya punya Tuhan, sehingga apapun yang terjadi pada diri saya, segelap apapun, tetap pada Tuhan dan saya tetap dapat mengisi dan tetap dapat berkarya lukisan,” paparnya.

Sebuah karya lukis dihasilkan Sani dengan cepat. Setiap hari Dia bisa menyelesaikan karya lukis. “Yang lama bagi saya dalam mendapat idenya dengan perenungan yang sangat panjang,” bebernya.

Sani menyebut apapun diri kita sebagai manusia, dalam menghadapi hidup pasti ada naik-turunnya. “Yang penting kita harus pandai bersyukur, setelah itu pasti kita dapat mengusi hidup ini dengan indah melalui karya lukisan seperti ini,” terangnya.

Sani mengaku punya keturunan keluarga yang aktif berkesenian sehingga dari kecil sudah suka menggambar. Tetapi karena sekolah, kuliah dan kemudian kerja, aktivitas berkesenian kini hanya menjadi hobby. “Pak Purwo Hadi, keluarga kami, yang sekarang sudah sepuh, sudah tua, berkesenian sejak zaman dulu hingga sampai tahun 90-an masih berkesenian, “ ungkapnya.

Menurut Sani, sambutan masyarakat sangat baik terhadap pameran Batas. Diharapkan, pameran untuk difabelitas ini semakin banyak dan semakin digiatkan, untuk memberikan kesempatan kepada para difabel. “Kami butuh wadah untuk kami tetap berkarya kesenian dan dihargai banyak orang,” tegasnya.

Lukisan Sani jumlahnya cukup banyak. Hal itu mendorongnya ingin menggelar pameran lukisan tunggal. “Rencananya saya akan menggelar pameran tunggal lagi yang keempat kalinya pameran tunggal sekitar bulan Desember mendatang, “ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...