Film Liam dan Laila, Warga Asing yang Belajar Islam dan Budaya Minang

429

PADANG — Bermusyawarah, menghormati yang lebih tua, taat beragama, dan sopan dalam menghadapi masalah menjadi karakternya orang Minangkabau, yang ditampilkan dalam Film Liam dan Laila yang tayang perdana hari ini, Kamis (4/10/2018) di bioskop di Indonesia.

Film ini mengisahkan hubungan dua hati yang mendapat batasan dari perbedaan negara dan budaya, yakni Liam dari Prancis dan Laila gadih (gadis) Minang, Sumatera Barat. Berawal dari kisah saling kenal di media sosial, membuat Liam tertarik untuk memeluk Islam.

Sembari menjalankan niat untuk menuju Islam, hati Liam juga terpikat untuk menghalalkan Laila sebagai pasangan hidupnya. Akan tetapi, muncul persoalan beda negara dan beda agama bagi keluarga Laila.

Pertemuan sang angku atau paman dari Laila dengan Liam, dan sampaikanlah niat baiknya Liam datang ke Kota Bukittinggi itu, dilanjutkan dengan pembicaraan yang dibahas dalam sebuah musayawarah keluarga.

Di sini, terlihat proses bagaimana bermusyawarah bagi sebuah keluarga di Minangkabau, dimana kakak tertua menjadi suara yang harus dihormati.

Proses musyawarahnya pun berlangsung dengan dialog berbahasa Minang dengan logat yang pas. Serta cara musyawarah yang duduk berkumpul di lantai, juga menunjukan salah satu bentuk cara di dalam adat di Minangkabau.

Di sini, terjadi penentangan dari seorang kakak yang menjadi panutan di dalam Rumah Gadang dan mengajukan sejumlah argumen. Namun pada akhirnya, sang paman berusaha menyelesaikan persyaratan supaya Liam dapat diterima di keluarganya Laila, salah satunya memeluk Islam, bersunat, dan menjalankan ibadah dengan baik.

Adegan demi adegan yang ditampilkan ini, ternyata menarik simpatik dari Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno turut menjadi tamu penayangan perdana Film Liam dan Laila di Cinema XXI Padang.

Usai menyaksikan film pada malam ini, Irwan mengatakan merasa bangga bahwa dalam film ini bahasa daerah di Minangkabau ditampilkan dengan baik.

Ia menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang membuat dirinya bangga, seperti ceritanya yang memang benar begitu terjadi di Minangkabau, terutama soal orang negara asing ingin menikahi gadih Minang.

“Saya menyaksikan betul bagaimana dua negara dipertemukan oleh sebuah ikatan pernikahan. Namun sebelum terjadi. Banyak proses yang perlu dilalui. Karena jika orang negara asing ingin menikahi gadih Minang, pertama laki-lakinnya tentu harus muslim, dan bisa menyesuaikan dengan budaya dan adat istiadat di Minangkabau. Ternyata, hal itu ditampilkan di sini, lengkap pula dengan dialog bahasa Minangnya,” katanya, Kamis (4/10/2018).

Menurutnya, persoalan dan perdebatan yang ditampilkan dalam film tersebut tentang adanya musyawarah untuk menentukan pasangan bagi anak dan kemenakannya, memang begitu adanya di Minangkabau. Dari sisi itu, terlihat bagaimana budaya dan adat istidat yang menghormati orang lebih tua dalam persaudaraan, dan peran seorang ibu di dalam keluarga.

Begitu juga untuk persyaratan bagi orang yang bukan muslim untuk menikahi orang Minang, haruslah masuk dan memeluk agama Islam, serta diminta untuk memahami adat istiadat di Minangkabau.

“Selain film ini berbicara tentang budaya dan adat di Minangkabau, saya juga melihat ada beberapa adegan yang lucu, apalagi dengan mengucapkan bahasa Minang, dan hal yang demikian seakan nyata terjadi di kehidupan sehari-hari masyarakat di Sumatera Barat,” ujarnya.

Ia berharap industri perfilman terus berkarya menampilkan isu-isu di daerah Sumatera Barat, karena ada banyak lagi yang masih belum diperkenalkan.

“Mudah-mudahan memberikan makna yang cukup baik, dengan tampilnya Sumatera Barat di layar kaca perfilman di tanah air,” harapnya.

Baca Juga
Lihat juga...