Film ‘Menunggu Pagi’, Kisahkan Anak Muda Metropolitan

Editor: Koko Triarko

322
JAKARTA – Dunia anak muda identik dengan spontanitas, dinamis, dan enerjik. Darah mudanya bergejolak. Daya hidupnya meletup-letup. Demikian yang mengemuka dari film ‘Menunggu Pagi’.
Film ini berkisah tentang kehidupan anak muda kota metropolitan yang terbiasa dengan gemerlap dunia malam. Empat sahabat partygoers yang mengalami banyak intrik dan konflik sempit dunia remaja, dikisahkan dalam balutan kisah percintaan.
Diawali dengan adegan Martin (Mario Lawalata) yang seusai beraksi DJ, mengajak kencan dengan perempuan yang ditemuinya di tempat DJ-nya. Tapi, ketika mereka sedang bermesraan, pacar Martin, yaitu Sarah (Aurelie Moeremans) memergokinya. Sarah marah dan kemudian memutuskan hubungannya dengan Martin.
Kesabaran Sarah sudah habis menghadapi Martin yang tidak pernah berubah, baik itu dalam urusan dengan perempuan lain, atau dengan urusan narkoba. Martin memang masih mengkonsumsi narkoba dan menjadi penjual juga. Narkoba yang ia dapatkan berasal dari bandar senior (Yayu Unru), yang selalu mengancam Martin, jika tak mampu habiskan stoknya.
Sementara itu, di tengah Sarah mengalami masalah, Kevin (Raka Hutchison) yang merupakan mantan dari Sarah terus menghubunginya, untuk ikut ke iven Djakarta Warehouse Project (DWP) 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Sarah tentu saja langsung menerima tawaran itu, karena tak ingin larut dalam masalah hubungannya dengan Martin.
Sarah dan Kevin pun janjian untuk bertemu di toko vinyl milik Bayu (Arya Saloka). Namun, karena Sarah masih harus menghadapi Martin terlebih dahulu, ia datang terlambat menemui Kevin. Sedangkan, Kevin yang memang suka iven DWP tak mau menunggu Sarah yang lama sekali datangnya, dan kemudian memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke DWP 2017 bersama kedua temannya, Adi (Bio One) dan Rico (Arya Vasco).
Tiba di toko vinyl, Sarah tentu tak bisa bertemu dengan Kevin yang sudah pergi ke DWP bersama kedua temannya. Di Toko vinyl, Sarah berkenalan dengan Bayu. Sarah memang kecewa, lantaran Kevin meninggalkannya. Tiket DWP 2017 yang Kevin berikan pada Sarah, ada dua. Sarah kemudian iseng-iseng membujuk Bayu untuk pergi bersamanya.
Bayu awalnya menolak, lantaran ia sudah berjanji tahun ini akan absen ke DWP 2017, dan lebih memilih menjaga toko vinyl saja. Bagi Bayu yang mempunyai toko vinyl (piringan hitam), di daerah Santa, keinginan untuk pergi ke acara festival musik terbesar tahunan DWP bukan menjadi prioritas. Namun karena Sarah memaksa, Bayu pun kemudian terpaksa ikut dengannya.
Sarah yang cantik jelita membuat Bayu penasaran dan tertarik ajakannya untuk ke DWP. Bayu memutuskan datang ke acara bersama Sarah, dan segera menghubungi para sahabatnya. Di perjalanan dengan Sarah, Bayu menemukan banyak kejanggalan dan kesialan yang tanpa disadari berasal dari Sarah dan sahabat–sahabatnya.
Di tengah perjalanan, Adi, Rico dan Kevin, ketiga teman Bayu itu, menemui seorang penjual narkoba (Toddy Zilla) langganan mereka sebelum ke DWP 2017. Mereka sepakat, tahun ini absen tidak memakai narkoba terlebih dahulu. Mendengar alasan sepele itu, membuat si penjual narkoba sedikit marah dan kecewa. Si penjual narkoba yang ternyata ditemani Martin, kemudian iseng-iseng memasukkan narkoba ke minuman Adi dan membuatnya nge-fly.
Ketika akan tiba di lokasi acara, kondisi nge-fly Adi semakin kacau dan berantakan. Rico dan Kevin kemudian membawa Adi ke tempat clubbing dahulu, agar kondisi nge-fly-nya bisa diatasi. Namun sialnya, di sana Adi malah berbuat ulah dan dikejar-kejar oleh seorang pria (Ganindra Bimo) dan anak buahnya.
Pada satu sisinya, perjalanan menuju DWP 2017 antara Bayu dan Sarah membuat mereka berdua saling curhat satu sama lain. Bayu ternyata nasibnya sama seperti Sarah. Ia baru saja putus dari kekasihnya (Putri Marino), dan sedang berusaha move on. Kebersamaan mereka berdua perlahan mulai bisa membuka hati masing-masing.
Bagaimana mereka semua sampai ke iven musik terbesar di Asia ini, tampaknya penuh dengan cerita dan kejadian yang tak terduga. Ada yang terluka, tapi ada juga yang tertangkap karena kasus narkoba.
Film ini mampu menggambarkan anak muda metropolitan dengan komplesitas masalahnya. Sutradara Teddy Soeriaatmadja mampu mengemasnya dengan baik. Teddy dapat menyelami kehidupan anak muda zaman sekarang, yang tantangan dan godaannya tentu lebih besar dan jauh lebih berat daripada yang dihadapinya di masa muda sang sutradara dulu.
PH Ifi Sinema kembali menghadirkan film yang mengangkat kehidupan remaja millenial, setelah berhasil menyentil lewat film My Generation (2017). Jika film My Generation menceritakan kehidupan remaja millenial yang berkonflik dengan keluarganya, dalam film ini mengangkat cerita remaja millenial yang akan pergi ke iven Djakarta Warehouse Project 2017.
Alur ceritanya mengalir lancar dalam mendedahkan cerita cukup singkat, hanya satu hari satu malam saja. Kita bisa menyaksikan empat orang remaja yang begitu excited untuk datang ke DWP. Subplot cerita tentang narkoba dan karakter masing-masing peran sangat menjanjikan sebagai sebuah cerita anak muda dengan segala problematikanya.
Akting mereka para anak muda dalam menjalin chemistry dalam film ini cukup baik, meski tampak masih terlihat canggung. Untungnya, kecanggungan itu dapat terselamatkan oleh akting Bio One sebagai Adi yang gila dan total dalam menjiwai ketika sedang nge-fly. Bahkan, bisa dibilang Bio mampu mencuri perhatian penonton dengan aktingnya yang memang gemilang.
Kemudian, yang tentu patut diapresiasi aktingnya Aurelie Moeremans yang tampil berani dibandingkan dengan film-film yang sudah ia mainkan. Dalam film ini, Aurelie mendapat kesempatan untuk eksplor seni peran dengan sebebas dan sekreatif mungkin.
Film ini mengingatkan kita pada gejolak darah muda yang enerjik, dinamis dan spontan. Apalagi di kota Metropolitan, yang memang penuh tantangan dan godaan. Pesan moralnya, tentu pada orang tua untuk memperhatikan anak-anaknya, apalagi kalau usianya sudah menginjak masa remaja.
Orang tua tak hanya sekadar memberi nasihat, tapi juga menjadi sahabat yang baik, karea orang tua tentu pernah mengalami masa muda juga, yang bisa menjadi contoh yang baik bagi generasi sesudahnya, yakni anak-anaknya sendiri yang kini tengah mengalami masa muda yang penuh gejolak.
Baca Juga
Lihat juga...