Fuad Bawazier: Kurs Dolar Menuju Rp16.000

Editor: Makmun Hidyat

599
Pengamat Ekonomi, Fuad Bawazier - Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Pengamat Ekonomi, Fuad Bawazier mengatakan, pada Januari tahun 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (UAS) masih di kisaran Rp 13.200. Lalu pada Mei tembus di angka Rp 14.000, dan kini Oktober berada di level Rp 15.200 atau rupiah telah melemah sekitar Rp2.000.

Celakanya sebut dia, faktor-faktor yang mendasari pelemahan rupiah itu masih utuh, bahkan dengan kadar yang memburuk. Faktor itu adalah pasokan dolar (supply of) ke perekonomian Indonesia yang menurun sementara permintaan terhadap dolar (demand for) terus menguat sehingga gap atau defisitnya semakin melebar.

“Sementara obat atau kebijakan yang diambil pemerintah belum ada yang efektif, bahkan cenderung memperburuk perekonomian Indonesia,” kata Fuad dalam rilisnya yang diterima Cendana News, Senin (8/10/2018) malam.

Untuk mempertahankan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) telah intervensi pasar valas yang di perkirakan telah menghabiskan USD10 miliar cadangan devisa BI. Menurutnya, kebijakan BI ini, selain merangsang spekulan valas, intervensi yang menurunkan cadangan valas itu justru semakin mengurangi kepercayaan pasar.

Sementara membela nilai rupiah rupiah dengan menaikkan suku bunga, seperti yang selama ini ditempuh telah mengurangi daya saing dan pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Langkah langkah tersebut menurutnya, ternyata tidak efektif, sebab hanya mampu mengobati gejolak pasar untuk sementara saja. Tapi belum menyentuh pokok masalahnya, yaitu shortage atau kekurangan dolar di pasar.

Dalam kenyataannya, defisit atau ketekoran dolar semakin membesar yang dapat di tunjukkan dengan semakin membesarnya defisit Neraca Perdagangan (Trade Balance) dari perkiraan awal tahun.

Bahkan pertumbuhan impor sampai dengan akhir 2019 akan lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor. Yaitu tahun 2019 impor diperkirakan tumbuh 7,1 persen, sementara ekspor hanya 6,3 persen. “Artinya, defisit Neraca Perdagangan akan membesar,” tukasnya.

Begitu pula menurutnya, dengan Current Account deficit (CAD) yang semula di taksir paling tinggi 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun melihat data yang ada sampai dengan September 2018, Menteri Keuangan Sri Mulyani akhirnya mengakui bahwa CAD akan melampaui 3 persen PDB.

“Dengan PDB Indonesia yang sudah mencapai USD1Triliun, berarti CAD akan defisit diatas USD30 Miliar,” ujarnya.

Seperti halnya sebut dia, yang terjadi di Itali, CAD yang melampaui 3 persen dan diiringi dengan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanda Negara (APBN), telah mampu mengguncangkan ekonomi Itali. “Hal yang sama sebenarnya sedang di hadapi keuangan Indonesia,” ujar mantan Menteri Keuangan (Menkeu) ini.

Sementara itu, lanjutnya, sentimen sentimen negatip membentang didepan mata atau pasar valas Indonesia yang semuanya mengarahkan pada pelemahan rupiah.

“Pertama, utang jangka pendek valas kita yang USD50 miliar yang berarti pasar valas akan berebut dolar,” tukasnya.

Kedua, aliran dana masuk untuk investasi portofolio ke negara negara berkembang dalam 2 tahun ini di taksir akan berkurang USD70 miliar. Sejak tahun 2010 Indonesia adalah salah satu penikmat utama aliran dana hot money ini, sehingga pasti akan sangat terpukul.

Ketiga, yakni akan terjadi penurunan nilai portofolio di pasar global yang berarti semakin sulit bagi pemerintah maupun swasta menerbitkan surat utang.

“Lagi-lagi Indonesia yang selama ini menikmati hot money global akan semakin sulit menerbitkan surat utang dan harus membayar bunga mahal atas surat utangnya. Sekarang saja yield surat utang negara sudah diatas 8 persen,” paparnya.

Adapun keempat, Fuad memprediksi kedepan akan terjadi penundaan investasi di pasar global karena langkanya modal dan bunga yang tinggi.

Dan kelima adalah minat yang melemah terhadap Surat Berharga Negara (SBN) menyebabkan harganya turun dan yieldnya naik.

Keenam, yaitu minat atau porsi kepemilikan asing dalam SBN menurun dari 39,82 persen pada awal 2018 menjadi 36,89 persen di akhir September 2018.

Meskipun nilai nominalnya (net) selama 9 bulan ini naik hampir Rp15 triliun, tentu menurutnya, kenaikan absolut itu tidak berarti dibandingkan dengan kenaikan utang negara yang sekitar Rp1 triliun perhari. Artinya investor asing jelas sedang meninggalkan Indonesia.

Ketujuh, adalah naiknya harga Bahan Baku Minyak (BBM) dunia, seperti minyak Brent yang mencapai USD80. Sementara dalam RAPBN 2019 ditaksir USD68,7. Nilai tukar rupiah ditaksir hanya Rp14.400. “Sementara sekarang sudah Rp15.200,” ujarnya.

Menurutnya, begitu pula dengan asumsi makro lain dalam perhitungan RAPBN 2019 yang nampaknya akan meleset, akan semakin menyulitkan pencapaian target target di dalamnya.

Dalam tahun anggaran 2018 ini di perkirakan target penerimaan pajak tidak akan tercapai meski mungkin tidak seburuk tahun yang lalu. Tetapi tetap saja mengkawatirkan pemegang SBN Indonesia terhadap kemampuan negara memenuhi kewajiban utang dan bunganya.

Kedelapan, yakni sebut dia adalah last but not least, dengan membaiknya ekonomi AS, maka diprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga dolar paling tidak dua kali lagi menuju acuan 3,25 persen.

Kondisi ini pastinya akan semakin memperkuat USD dan mendorong pulang kampungnya dolar, meninggalkan pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Gejala-gejala ini sebenarnya kata Fuad, sudah terasa dengan terjadinya capital outflows di pasar modal Indonesia. Padahal selama ini, investasi hot money inilah yang berjasa atau diandalkan membantu memperkuat cadangan devisa Indonesia.

“Indikasi dan fakta diatas nampaknya akan terus melemahkan kurs rupiah. Sehingga ceteris paribus, kurs rupiah sedang menuju ke batas psikologis barunya Rp16.000,” ujarnya.

Setelah mencapai angka itu, maka menurutnya, kepercayaan pasar menurun dan diperkirakan pasar valas atau kurs akan semakin sulit dikendalikan. Dan pemenangnya atau yang di untungkan adalah mereka pemegang dolar.

“Kini bola ada di tangan pemerintah dan BI, semoga mampu mengatasinya,” tutup Fuad.

Baca Juga
Lihat juga...