Gatot Nurmantyo: Jangan Sampai Peristiwa Kelam Terulang Kembali

Editor: Makmun Hidayat

744

JAKARTA — Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dikenal tegas dalam menggagas pemutaran kembali film Pengkhianatan G 30 S PKI pada saat sekarang, karena justru film tersebut memang ditujukan untuk generasi milenial agar tahu sejarah dan bisa banyak belajar dari sejarah.

“Saya mengucapkan terima kasih pada DPP Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan 66 yang menggelar nobar film Pengkhianatan G 30 S PKI,” kata Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo kepada Cendana News seusai nobar film Pengkhianatan G 30 S PKI di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu malam (30/9/2018).

Lelaki kelahiran Tegal, 13 Maret 1960, itu membeberkan nonton film tersebut bisa sambil mendengarkan sejarah pada masa lalu yang harus tetap kita ingat.

“Kita jangan melupakan sejarah, karena kita bisa banyak belajar pada sejarah,“ beber mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (2015-2017).

Gatot menyebut film tersebut menceritakan tentang sejarah yang dibuat berdasarkan riset dan hasil laporan dari orang-orang yang menjadi pelaku sejarah yang ceritanya tetap aktual dari dulu sampai sekarang.

“Film ini memang wajib ditonton karena dalam hidup hanya ada dua, yaitu pelaku sejarah dan korban sejarah. Jadi jangan sampai kita menjadi korban sejarah,“ paparnya.


Nobar film Pengkhianatan G 30 S PKI di TIM – Foto: Akhmad Sekhu

Menurut Gatot, pemutaran film ini tidak perlu ada instruksi khusus dari pemerintah. “Karena tidak ada instruksi pun masyarakat sudah sadar,“ ungkapnya.

Gatot mengimbau nonton film ini justru ditujukan untuk generasi milenial. “Karena generasi milenial yang ke depannya yang akan menjadi harapan dan tulang punggung bangsa ini,” harapnya.

Gatot menyadari dirinya di sisa umurnya tinggal menunggu akan dipanggil Tuhan. “Sisa umur saya ini adalah kewajiban saya untuk mengingatkan akan sejarah yang sebenarnya,” tuturnya.

Generasi milenial, kata Gatot, orangnya kritis-kritis karena berdasarkan hasil survei 80 persen tidak percaya kalau PKI akan bangkit karena mereka tidak tahu. “Bentuk pengajaran sejarah yang paling mudah itu dengan nonton film ini,“ simpulnya.

Gatot tidak mempermasalahkan orang yang tidak setuju dengan nobar film ini. “Wajar-wajar saja, kalau ada orang yang tidak suka karena seperti misalnya saya suka makan soto, sedangkan ada orang yang tidak suka makan soto, tentu itu tidak apa-apa,“ tegasnya.

Arti malam nobar film ini, bagi Gatot bisa menjadi merefleksi lagi tentang peristiwa yang sangat bersejarah pada tahun 1965. “Saya waktu itu masih kecil, baru umur lima tahun, dengan nonton film ini bisa lebih waspada lagi, kita tidak menyalahkan siapa pun juga, tapi jangan sampai peristiwa kelam masa silam yang banyak korbannya terulang lagi, betapa sangat menyakitkan,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...