Gelur Oblong Maumere, Kaos Bahasa Daerah yang Beromset Menggiurkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

219

MAUMERE — Menjadi wirausahawan diperlukan naluri dan insting bisnis serta kemampuan membaca peluang yang ada di depan mata. Termasuk berani mengambil peluang dan membuatnya menjadi berkembang.

Kemampuan ini yang ada dalam diri perempuan asal Yogyakarta yang sekitar tujuh tahun menekuni usaha Warung Internet (Warnet) serta jasa printing di Maumere, ibukota kabupaten Sikka.

“Sudah dua bulan kami beralih ke usaha sablon kaos menggunakan mesin. Awalnya kami desain kaos dengan tulisan bahasa daerah Sikka,“ sebut Victoria Ginoveva Sumarni, Selasa (2/10/2018) siang.

Saat berbincang bersama Cendana News di tempat usaha yang berada persis di samping kediamannya, di jalan Baru Maumere. Sudah sejak Juli 2018, ruangan usaha Warnet seluas 4 kali 7 meter ini diubah menjadi usaha printing atau sablon kaos digital dengan nama Gelur Oblong Maumere.

“Kami ingin agar wisatawan yang ke Maumere kabupaten Sikka pulangnya dapat membawa oleh-oleh kaos yang disablon menggunakan bahasa daerah Sikka serta gambar khas daerah ini,” sebutnya.

Keberanian menekuni usaha sablon kaos menggunakan mesin tentu patut diacungi jempol, mengingat usaha sejenis di Maumere bukan hanya ada satu. Tapi sablon kaos dengan tulisan dalam bahasa daerah Sikka dan lainnya merupakan merupakan sebuah peluang yang patut direbut.

“Memang sebelumnya ada yang sablon kaos dalam bahasa daerah Sikka tetapi manual, sementara kami menggunakan mesin dan kami mencoba masuk di pasar ini,” ungkap Rani.

Bisnis warnet dan print sebut perempuan 43 tahun ini, semakin lama semakin sepi akibat kemajuan teknologi. Orang lebih memilih berselancar di dunia maya menggunakan telepon genggam.

Belum banyak usaha printing kaos di kota Maumere yang menggunakan mesin. Mereka mengangkat bahasa daerah yang unik dan kata-kata bahasa daerah lain, dimana desainnya disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

“Desainnya kami lakukan sendiri sesuai permintaan pemesan dan gratis,” tuturnya.

Ibu dua anak perempuan yang duduk di bangku kelas 1 SMA dan kelas 2 SMP ini pun menjelaskan, untuk printing kaos satu sisi dikenakan harga 85 hingga 100 ribu rupiah per buah. Sementara dua sisi depan dan belakang harganya mulai 100 hingga 125 ribu rupiah. Kaosnya disiapkan dan pelanggan dapat memilih warna dan ukuran sesuai keinginan.

Untung Lumayan

Meski tergolong baru dua bulan, namun usaha milik isteri dari Hexsa Saputra dengan modal usaha sebesar Rp.50 juta ini dapat meraup untung yang lumayan besar.

Dalam sebulan beber Rani, omzet usahanya mencapai Rp25 juta bahkan bisa lebih dengan keuntungan kotor tujuh hingga 13 juta rupiah sebulannya.

“Dalam sehari dapat mencetak lima hingga 10 kaos dan sudah mulai berdatangan pesanan dalam jumlah yang banyak,” paparnya.

Pesanan membanjir selain dari perorangan, sebut Rani, juga dari kantor pemerintah dan swasta serta sekolah. Ada juga pesanan dari panitia kegiatan semisal renuni sekolah dan kegiatan organisasi.

“Sudah ada satu dua pesanan dari luar daerah juga, sebab kami pun sering mempromosi karya lewat media sosial dan banyak yang mengetahui dan memesan karena postingan di media sosial,” bebernya.

Selama berusaha suka duka telah dilaluinya dan yang terbanyak dialami sebut Rani, dirinya harus sabar menghadapi pelanggan yang rewel. Kadang pihaknya sudah membuat desain sesuai pesanan tetapi pelanggan tidak jadi order.

Tetapi kejadian ini, tuturnya, hanya terjadi pada satu dua pembeli saja. Kalau soal pembayaran tidak ada kendala karena dilakukan sebelum kaos dicetak.

“Ke depannya saya ingin mengembangkan usaha sablon di topi, stiker, baliho atau spanduk. Saya ingin agar wisatawan yang ke Maumere bisa membawa oleh-oleh kaos dengan tulisan khas, sama seperti daerah lainnya, semisal di Bali,” harapnya.

Rani juga mengakui baru dua bulan bergabung dengan organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indoensia (Iwapi) cabang Sikka dan saat ini aktif di komunitas Kombet Kreatif Maumere biar menambah relasi serta bisa berpromosi dan mengikuti pameran.

Dalam berusaha sebutnya selain pandai memanfaatkan peluang, membangun relasi dan jejaring juga sangat penting agar usaha yang ditekuni bisa dikenal sekalian bisa berbagi pengalaman dengan sesame wirausahawan di dalam organisasi.

“Gelur bahasa Sikka artinya purnama, sehingga pilihan kata ini bisa memotivasi saya agar usaha ini seperti bulan purnama yang terus bersinar. Usaha ini terus berkembang dan meriah kesuksesan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...