Gempa Palu, PMKRI Maumere Kumpulkan Rp25 Juta

Editor: Satmoko Budi Santoso

380

MAUMERE – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Maumere, selama dua hari melakukan aksi penggalangan dana dengan meminta sumbangan di perempatan jalan kota Maumere, pasar hingga ke wilayah timur kabupaten Sikka, mendapat sambutan positif.

“Selama dua hari melaksanakan aksi penggalangan dana buat korban gempa Palu, Donggala dan Sigi kami berhasil mengumpulkan dana Rp25 juta dan 10 karung pakaian,” sebut ketua PMKRI Maumere, Benediktus Rani, Jumat (5/10/2018), malam.

Dikatakan Benediktus, antusiasme masyarakat, baik yang beragama Kristen maupun Islam dalam membantu sesama saudara yang mengalami korban gempa serta tsunami di Palu, Donggala dan Sigi begitu besar. Sebab warga Sikka pernah mengalami bencana serupa, tahun 1992.

“Hasil aksi galang dana dua hari, cukup memuaskan, sehingga PMKRI Maumere akan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Sikka mendonasikan secara langsung bagi korban bencana di Palu, Donggala dan Sigi,” tuturnya.

Dalam aksi kali ini, tambah Alvin Aha, presidium PMKRI Maumere, pihaknya membawa isu toleransi yang menjadi jati diri warga kabupaten Sikka. Masyarakat pun sangat antusias menyambut niat baik yang dilakukan PMKRI.

“Pada aksi kedua ini, personil PMKRI Maumere yang turun ke lapangan berjumlah 13 orang, dengan rute yang dilalui di sekitar terminal Lokaria, pasar Geliting, kampung Nangahaledoi, Waigete, kampung muslim Nangahale, pasar Talibura, dan terakhir di kampung Darat Pantai,” paparnya.

Sergius Sani, salah seorang warga kabupaten Sikka yang ditanyai Cendana News mengaku, sangat simpati dengan kegiatan penggalangan dana yang dilakukan aktivis mahasiswa, baik dari PMKRI Maumere maupun GMNI Sikka dengan meminta sumbangan dari masyarakat.

“Sebagai generasi muda yang selalu menyuarakan kepentingan masyarakat, para mahasiswa juga telah menunjukkan tindakan yang bagus. Mereka melakukan aktivitas berkeliling di berbagai wilayah di kota Maumere dan sekitarnya, mengetuk hati masyarakat untuk menyumbang,” sebutnya.

Pengalaman masyarakat kabupaten Sikka sendiri  pernah mengalami kejadian gempa dan tsunami di tahun 1992. Warga merasakan kejadian gempa dan tsunami membuat masyarakat masih ada yang trauma dengan kejadian yang dialami.

“Bangunan rumah, kantor dan pertokoan di dekat pantai semuanya rata dengan tanah, akibat gempa dan tsunami dengan kekuatan 7,5 skala ritcher, saat itu. Apalagi tsunami sangat dahsyat dengan ketinggian air sekitar 30 meter,” terangnya.

Sergius pun berharap, agar pemerintah selalu menjaga alat-alat deteksi tsunami yang dipasang di beberapa lokasi di pesisir pantai dalam kondisi yang tidak rusak. Supaya saat ada gejala tsunami maka alarm peringatan dini berbunyi dan masyarakat bisa menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

“Memang saya melihat sudah banyak dipasang tanda jalur evakusi dan titik kumpul di berbagai daerah di kabupaten Sikka. Bukan hanya di kota Maumere saja. Masyarakat harus menjaga juga rambu-rambu dan tanda yang dipasang tersebut agar jangan rusak,” imbaunya.

Baca Juga
Lihat juga...