hut

‘Generasi Micin’ Kisahkan Kenakalan Remaja Milenial

Editor: Koko Triarko

Adegan Film Generasi Micin -Foto Ist.
JAKARTA – Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Dalam masih peralihan itu, remaja selalu dilanda kegalauan dan kegelisahan. Dampaknya, remaja yang sedang dalam pencarian jati diri itu cenderung nakal.
Apalagi, zaman sekarang, remaja milenial mendapat pengaruh buruk dari game yang semakin menjauhkan dari kenyataan kehidupan sebenarnya. Demikian yang mengemuka dari film Generasi Micin, yang berkisah tentang kenakalan remaja milenial.
Film menyandang judul ‘Generasi Micin’, tentu mengacu pada istilah untuk menyebutkan perilaku anak muda zaman sekarang yang kurang bisa dipahami. Generasi Micin cenderung asyik dengan dunianya sendiri, apalagi kalau sudah terjerumus dalam permainan game yang tak kenal waktu, karena memang harus bisa memenangkan permainan dalam game.
Kisahnya diawali dengan adegan Kevin (Kevin Anggara), seorang siswa SMA kelas IPA yang cenderung asyik dengan dunianya sendiri, yakni bermain game. Kebiasaan buruknya itu selalu membuat ayah Kevin (Ferry Salim) dan ibu Kevin (Melissa Karim) tampak marah-marah.
Main game memang mengasyikan yang membuat anak remaja, seperti Kevin tak bisa lepas dari kebiasaan buruk dengan main game terus-menerus tak mengenal waktu,
Ada adegan jadul (jaman dulu) mengenai ayah Kevin (Brandon Salim) dan ibu Kevin (Sonya Pandarmawan) yang sedari muda dan sudah menjadi pedagang ulet dan penuh usah,a merasa sedih lantaran anaknya susah diberi nasihat.
Kevin tidak sendiri yang selalu kena marah, karena paman Kevin, yakni Trisno (Morgan Oey) juga terkadang selalu terkena imbas kemarahan dari kedua orang tua Kevin, karena ia tidak mempunyai pekerjaan tetap dan belum memiliki pasangan.
Ada pun kisah di sekolah, Kevin berteman dengan Dimas (Joshua Suherman), penggemar KPOP, Bonbon (Teuku Rizky) dan Johanna (Kamasean Matthews). Keempatnya satu kelas, yaitu kelas IPA, di sekolah yang memang hanya diisi oleh mereka berempat.
Diceritakan, beberapa bulan lagi mereka akan lulus SMA. Kevin dilanda kegelisahan lantaran masa-masa akhir sekolahnya terasa begitu membosankan, dan tidak mengesankan baginya. Kevin yang awalnya dikenal sebagai blogger menjadi berhenti menulis, lantaran dibilang culun dan kurang pergaulan oleh teman-teman di kelas IPS.
Ada masalah lagi, kisah cinta monyet Kevin semasa SMA dengan pujaannya, yakni Chelsea (Clairine Clay), juga terasa memprihatinkan, karena terjebak friendzone, dan harus bersaing dengan siswa vlogger populer di sekolah, yakni Aldo (Ari Irham).
Pada suatu hari, Kevin tak sengaja menemukan sebuah flyer tentang Student Rebel Group. Ketika Kevin menelusuri website-nya ia seperti ditantang untuk melakukan hal-hal jahil di sekolah. Kevin kemudian tertarik dengan isi website itu, lalu mendaftarkan diri.
Berbagai tantangan jahil mulai ia coba bersama dengan ketiga temannya. Perlahan tapi pasti, hal iseng yang mereka lakukan berhasil. Kevin menjadi ketagihan dan semakin merasakan, kini masa-masa SMA-nya semakin menyenangkan usai mengikuti website tersebut.
Kejahilan yang Kevin, Dimas, Bonbon dan Johanna lakukan ternyata membuat siswa-siswi lain merasa terganggu. Hingga puncaknya, acara Student Competition di bawah yayasan Ibu Dibyo (Cut Mini) yang rencana akan digelar di sekolah mereka, gagal diselenggarakan akibat kejahilan-kejahilan yang dibuat oleh Kevin.
Kepala Sekolah (Mathias Muchus) dibuat geram oleh apa yang sudah dilakukan oleh Kevin dan teman-temannya. Mereka berempat kemudian diskors dari sekolah. Gara-gara kejadian tersebut, masing-masing orang tua dari mereka merasa kecewa.
Ayah-Ibu dari mereka merasa gagal dalam mendidik anak-anaknya. Para orang tua menganggap generasi sekarang ingin melakukan dan mendapatkan sesuatu hanya menggunakan cara instan semata, tanpa mempedulikan usaha dan kerja keras.
Mampukah Kevin memperbaiki semua kesalahan yang telah ia dan teman-temannya perbuat? Memang tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan keadaan sekitar. Tapi, untuk dapat melakukan perbaikan tentu tak semudah seperti membalikkan kedua telapak tangan.
Film ini cukup mampu menggambarkan kenakalan anak remaja zaman sekarang. Sutradara Fajar Nugros mampu mengemasnya dengan cukup baik, dari cerita serta skenario oleh Faza Meonk yang selama ini dikenal sebagai pencipta komik Juki. Keduanya meracik antara drama komedi, keluarga, cinta dan pertemanan dengan cukup baik.
Alur cerita film ringan dan mengalir lancar. Konflik-konflik yang dihadirkan juga tidak terlalu berlebihan, meski kadang alay, istilah anak zaman sekarang, yang mengacu pada berbagai hal yang kekinian.
Akting Kevin Anggara dan ketiga temannya, Joshua Suherman, Teuku Rizky dan Kamasean Matthews, cukup menghibur. Keempatnya mampu menjalin chemistry persahabatan yang cukup baik, erat dan kompak.
Kemudian, akting Clairine Clay tampil manis dalam melakukan cerita cinta monyetnya dengan Kevin. Keduanya, bintang-bintang muda yang mencoba memerankan gambaran generasinya sendiri, generasi micin.
Ada pun, akting Ferry Salim, memang gemilang dan begitu menyakinkan dalam memerankan sosok ayah yang berwibawa. Begitu juga sosok ibu yang cerewet diperankan Melissa Karim dengan gemilang. Keduanya mampu menjalin chemistry yang baik, sebagai sepasang suami-istri yang sama-sama pekerja keras dalam menjalankan usaha toko kelontongnya.
Film ini mengingatkan kita tentang arti kerja keras dalam berusaha yang memang tak mengenal putus asa. Semangat berusaha yang ditunjukkan karakter orang tua cukup mengena yang dikaitkan dengan keadaan sekarang. Sedangkan, semangat berbuat lebih baik untuk dapat menjawab tantangan zaman, tampak jelas ditunjukkan karakter anak remaja yang masih mencari kesejatian diri.
Kedunya perlu dicatat dan patut diapresiasi, karena dengan demikian secara langsung atau tidak langsung mengedukasi masyarakat lewat film yang tak hanya hiburan semata.
Dalam keluarga Kevin, memang tampak interaksi antara ayah-ibu dengan anaknya yang cukup hangat, meyakinkan dan pastinya untuk menghibur.
Lihat juga...