Generasi Millinial Sangat Butuh Edukasi Bahaya Komunis

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

216

SOLO — Film Penumpasan Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) tak dipungkiri kurang familiar di kaum milinial. Pasca reformasi, film yang disutradarai Arifin C. Noor ini hampir tidak pernah lagi diputar, sehingga proses transformasi sejarah itu terputus.

Anak muda generasi saat ini juga tidak sedikit yang apatis dengan pemutaran film yang sangat bersejarah. Hal ini dikarenakan minimnya pemahaman dan edukasi, bagaimana paham komunis menghalalkan segala cara untuk dapat menguasai Indonesia.

“Menurut saya komunis memang tidak bagus. Cuma masih banyak teman yang kurang sadar betapa bahayanya komunis,” kata Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Jimmi Mahfadilah kepada cendana news di sela Nobar Film G30S/PKI di Halaman Masjid Nurul Iman Kalitan, Minggu (30/09/2018) tengah malam.

Kesadaran akan film sejarah kelam bangsa Indonesia ini terlihat dari minimnya minat mereka saat diajak Nobar. Tak sedikit yang menyebut jika komunis adalah bagian dari sejarah dan itu telah lampau.

“Banyak teman saya saat diajak Nobar tidak mau. Mereka nilai jika komunis hanya masa lalu. Menganggap enteng lah,” lanjutnya.

Menurut Jimmi, secara teori para mahasiswa saat ini paham tentang ajaran komunis, termasuk tokoh-tokoh komunis dan sosialis. Namun, tidak sedikit yang mengetahui ancaman ketika komunis menguasai negara.

“Sebenarnya mereka paham, tapi mereka terlihat fine-fine saja. Maka harapan saya kepada pemerintah bagaimana cara membendung komunis agar tidak merebak di kalangan muda, dan masyarakat,” pintanya.

Tak hanya kalangan millinial, seorang ibu muda, Alin Silfi Anggraini juga mengaku sangat resah terhadap perkembangan paham komunis di Indonesia yang mulai menunjukkan jati diri secara nyata. Tantangan harus mendidik anak-anaknya akan semakin besar, terlebih keberpihakan pemerintah terhadap sejarah di dunia pendidikan sangat rendah.

“Saya kira sebagai seorang ibu yang mempunyai anak-anak juga terus terang khawatir yang sangat tinggi terhadap bahaya laten komunis. Karena beberapa tahun belakangan ini banyak sekali sekolah yang menghilangkan mata pelajaran yang berkaitan dengan PKI. Sehingga yang saya khawatirkan anak-anak sekarang jadi berubah haluan,” tambahnya.

Sebagai perempuan yang melek informasi, perempuan yang akrab disapa Alin menyebutkan jika paham komunis di Indonesia telah menyusup ke berbagai organisasi dan instansi pemerintah. Bahkan telah masuk dalam organisasi-organisasi mahasiswa yang pada umumnya berbasis agama.

“Kalau melihat data dan fakta saat in, kita tidak bisa menutup mata jika komunis telah menyusup di berbagai lini,” tandasnya.

Mewakili jutaan ibu-ibu Indonesia lainnya, Alin berharap ada upaya yang masif untuk dapat menangkal paham komunis yang sangat membahayakan bagi keberlangsungan NKRI.

“Sangat mengkhawatirkan,” sebutnya.

Ia berharap sebagai ibu dari anak-anak yang harus menjaga mereka dari gempuran paham kiri. Pemerintah atau siapapun yang ada negara ini sama-sama ikut membendung dan menangkal agar PKI tidak menjadi virus di kalangan anak muda.

“Harus dikembalikan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan sejarah-sejarah PKI atau Komunis,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...