Gumuk Kepel, Sumber Penghidupan Masyarakat Sukorejo

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

232

JEMBER — Keberadaan gumuk (bukit) sangat vital bagi kehidupan masyarakat Lingkungan Sukorejo Kelurahan Karangrejo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Sumber mata air kehidupan dan pertanian bergantung dari resapan yang terdapat di bukit tersebut.

Gumuk seluas 7,7 hektare tersebut secara de jure belum teridentifikasi pemiliknya, namun secara de facto masyarakat lingkungan Sukorejo selama berpuluh-puluh tahun telah merawat serta memanfaatkannya sebagai satu-satunya sumber mata air untuk keperluan sehari-hari dan pengairan lahan pertanian.

Anggota Tim Perjuangan untuk Penyelematan Lingkungan dan Redistribusi Tanah Sukorejo Ahmad Taufik. Foto: Kusbandono.

Menurut anggota Tim Perjuangan untuk Penyelematan Lingkungan dan Redistribusi Tanah Sukorejo, Ahmad Taufik, masyarakat lingkungan Sukorejo telah berpuluh tahun menjaga sekaligus memanfaatkan Gumuk Kepel sebagai sumber penghidupan. Warga juga tidak ingin adanya aktivitas yang dapat mengganggu ekosistem lingkungan di bukit tersebut.

“Kami bersama 300 warga lingkungan Sukorejo pada Maret lalu telah melakukan aksi penanaman mahoni sebanyak 500 pohon, sebagai langkah swadaya warga dalam misi penyelamatan lingkungan di gumuk Kepel tersebut,” kata Taufik kepada Cendana News, Rabu (3/10/2018).

Taufik yang juga staf pengajar FKIP Universitas Jember ini menjelaskan, keberadaan gumuk di Jember lebih banyak dimilik secara perorangan, sehingga banyak yang hilang karena diijual oleh pemiliknya kepada pengembang untuk dijadikan perumahan. Tidak sedikit warga yang dulunya tidak pernah mengalami krisis air sekarang malah sering terjadi.

“Beda dengan gumuk Kepel yang keberadaannya tidak dalam status milik pribadi. Untuk menyelamatkan lingkungan, warga lingkungan Sukorejo telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan melakukan penanaman kembali sepanjang 100 meter jalan yang menuju ke atas Gumuk,” jelasnya.

Keberadaan yang masih terjaga ekosistemnya juga mampu memenuhi pengairan seluas 100 hektare area pertanian yang sumber airnya bergantung pada resapan yang terdapat di gumuk tersebut.

Kalaupun Pemerintah daerah sebagai representasi dari negara mau menggunakan gumuk Kepel sebagai tempat wisata sebaik jangan sampai terjadi, andaikata tetap dilakukan harus dalam bentuk wisata alam serta pohon-pohon penyangga tetap dibiarkan hidup.

“Kalau tidak, di samping kerusakan ekosistem lingkungan yang dapat menyebabkan hilangnya sumber mata air bagi warga juga dapat menimbulkan gesekan sosial di masyarakat lingkungan Sukorejo. Karena Gumuk Kepel secara sosial merupakan pemersatu warga Sukorejo,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pertamanan dan Peranserta Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup Jember, Sigit Boedi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan warga lingkungan Sukorejo secara swadaya melakukan penanaman. Namun, pihaknya juga sedikit menyayangkan warga yang tidak memberitahu Dinas Lingkungan Hidup Jember.

“Sepanjang masih ada perwakilan dari unsur pemerintah yang diwakili pejabat kelurahan setempat tidak masalah. Andai kami dikasih tahu, kami akan droping bibitnya,” kata Sigit.

Menurut Sigit, keberadaan gumuk atau bukit di Jember sebenarnya juga sangat penting bagiwarga terutama petani tembakau. Keberadaannya dapat mengurangi kecepatan angin berhembus yang dapat merusak daun tembakau sehingga kualitasnya terjaga.

“Secara ekologi adanya gumuk juga dapat mengurangi risiko terjadinya puting beliung dan sekaligus sumber resapan mata air bagi warga sekitar,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...