Hama Wereng Turunkan Produksi Padi di Penengahan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petani pemilik hektaran lahan sawah di Desa Kelau, Desa Pasuruan, Ruang Tengah, Pasuruan, dihantui hama wereng yang menyerang tanaman padi.

Supri, salah satu petani di Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan menyebut, hama wereng dengan populasi berbeda pada hamparan sawah petani berimbas padi mengalami gagal panen.

Sebagian petani yang masih bisa meminimalisir hama wereng memastikan masih bisa panen dengan produksi menurun.

Supri menyebut, hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) menjadi salah satu organisme pengganggu tanaman yang menjadi momok bagi petani. Berbagai upaya penanganan telah dilakukan dengan penyemprotan menggunakan insektisida setiap pagi dan sore.

Meski demikian, wereng yang menempel pada batang padi kerap berpindah dari hamparan sawah milik petani lain. Pola penyemprotan serempak serta pengendalian hama terpadu yang sudah dilakukan bahkan masih belum bisa mengatasi hama wereng di wilayah tersebut.

“Perlu kekompakan untuk mengatasi hama wereng karena jika petani yang satu melakukan penyemprotan tapi petani lain tidak, imbasnya hama wereng bisa berpindah ke areal lahan sawah petani lain,” terang Supri, salah satu petani padi saat ditemui Cendana News, Senin (22/10/2018).

Ciri dampak langsung hama wereng, diakuinya, ditandai dengan kerusakan pada tanaman yang telah dihisap oleh wereng pada bagian batang. Imbasnya, tanaman padi berwarna hijau berubah seperti terbakar kecoklatan. Seperti sudah menguning padahal belum memasuki masa panen.

Kerusakan tersebut mengakibatkan kematian batang padi sebelum memasuki masa panen berimbas gagal panen (puso). Selain lahan miliknya, petani lain di wilayah tersebut, diakui Supri, juga mengalami hal yang sama.

Petani lain pemilik lahan terimbas wereng pada masa tanam ketiga (MT3) bernama Andi memastikan, tanaman yang terkena wereng mulai terjadi saat tanaman muda hingga keluarnya malai.

Andi yang memiliki lahan seluas setengah hektar di wilayah Desa Kelau menyebut, hama wereng menghisap cairan pada batang padi. Ditandai dengan gejala tanaman padi menguning, mengering lalu mati. Sejumlah rumpun padi yang tidak terselamatkan bahkan mengakibatkan butir padi menjadi hampa (kopong).

Andi, pemilik lahan sawah memperlihatkan padi terserang hama wereng ditandai dengan ciri batang layu dan mati seperti terbakar berimbas produksi menurun [Foto: Henk Widi]
Andi yang sudah bertani selama beberapa tahun menyebut, hama wereng masih menjadi momok bagi petani dibanding hama lain. Hamparan lahan sawah terkena hama burung masih bisa diatasi dengan rajin menghalau setiap pagi dan sore.

Sebaliknya hama wereng diakuinya sulit dibasmi, terutama saat serangan mulai meluas. Ia bahkan memastikan, produksi padi yang ditanam akan mengalami penurunan dari semula bisa mendapatkan hasil 3 ton gabah kering panen (GKP) menjadi hanya bisa memanen 2 ton GKP.

“Perubahan iklim dari hujan ke musim kemarau termasuk pola tanam yang berubah karena pasokan air kurang, membuat hama wereng muncul,” terang Andi.

Pengendalian hama wereng, disebut Andi, telah dilakukan dengan rajin melakukan penyemprotan insektisida setiap pagi dan sore. Cara tersebut dilakukan untuk menghindari kegagalan panen padi yang dimiliki. Dilakukan secara serentak bersama dengan sejumlah petani lain.

Populasi wereng yang bisa menyebar sangat cepat, diakui Andi, juga disebabkan faktor mudah berpindahnya hama tersebut dari lahan pertanian lain. Sejumlah petak sawah yang terkena hama wereng bahkan disebut Andi dipastikan tidak bisa dipanen.

Meminimalisir kerugian dampak hama wereng, Andi yang menunggu pemanenan padi sebulan ke depan, rajin melakukan penyemprotan. Penyemprotan dilakukan agar populasi hama wereng bisa berkurang sehingga ia tidak mengalami kegagalan panen yang berujung kerugian.

Selain hama wereng petani di wilayah Desa Taman Baru juga mengalami tanaman padi muda, yang ditanam terimbas hama ulat daun.

Hama ulat daun tersebut masih bisa diatasi sejumlah petani dengan melakukan penyemprotan agar daun kembali pulih dan pertumbuhan padi normal. Selain penyemprotan, pemupukan tahap kedua dilakukan oleh petani untuk merangsang pertumbuhan daun yang dimangsa oleh ulat daun.

Sejumlah petani juga menanam berbagai tanaman bunga refugia jenis bunga kertas, kenikir, matahari di sekitar pematang sawah untuk memunculkan predator alami yang berdampak positif bagi pengurangan hama pada padi.

Lihat juga...