Hari Batik Nasional, Perajin: Batik Alami Kemunduran

Editor: Satmoko Budi Santoso

186

YOGYAKARTA – Hari ini, tepat 9 tahun silam, atau 2 Oktober 2009, Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, UNESCO, secara resmi mengakui batik sebagai warisan budaya dunia.

Ya, Batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO. Pengakuan terhadap batik ini merupakan pengakuan dunia internasional terhadap budaya Indonesia.

Namun, sayangnya, 9 tahun setelah pengakuan dunia itu, perkembangan batik di Indonesia saat ini dinilai justru tengah mengalami kemunduran. Hal itu diungkapkan oleh para pelaku maupun perajin batik itu sendiri.

Seperti diungkapkan seorang perajin batik yang telah merambah hingga ke luar negeri, Hariyadi, asal Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Seorang perajin batik yang telah merambah hingga ke luar negeri Hariyadi, asal Kalasan, Sleman, Yogyakarta – Foto Jatmika H Kusmargana

“Saya rasa semakin ke sini semakin mundur. Hal itu terlihat dari penurunan kualitas batik yang dihasilkan para perajin, seperti bisa kita lihat di banyak pameran,” ujarnya, saat ditemui Cendana News, Selasa (2/10/2018).

Hariyadi menyebut, jika dilihat dari karyanya, ragam dan corak batik yang dihasilkan para perajin batik saat ini dikatakan semakin simpel dan minimalis. Hal itu terjadi bukan lantaran mengikuti tren yang ada, namun karena memang perajin tak banyak yang mau memproduksi batik dengan corak bervariasi.

“Itu karena perajin berusaha menekan biaya produksi. Karya yang dihasilkan saat ini cenderung simpel. Variasi warna semakin minim dan corak juga semakin sederhana,” katanya.

Semakin mahalnya bahan baku serta biaya tenaga kerja, dinilai menjadi faktor utama semakin banyaknya perajin menurunkan kualitas karya untuk menekan biaya produksi. Terlebih, saat ini karya-karya batik semakin sulit untuk dijual atau dipasarkan.

“Saya sendiri juga begitu. Dulu saya selalu buat batik minim dengan 9 warna kombinasi. Namun sekarang paling banyak hanya 7 warna saja. Desainnya juga lebih simpel. Karena sekarang itu bahan baku mahal, tenaga kerja mahal sementara jualnya juga susah,” ungkapnya.

Hariyadi menyebut, sejak booming sekitar tahun 2005, batik terus mengalami tren kemunduran dari sisi penjualan mulai tahun 2010. Selain semakin banyak perajin bermunculan, adanya batik printing yang mengedepankan proses instan dan cenderung menjiplak, juga menjadi faktor penyebab. Hal itu juga ditambah lagi dengan semakin menurunnya daya beli masyarakat.

“Sekarang, bisa dikatakan penjualan menurun sampai 50 persen. Sementara harga bahan baku naik hingga 100 persen. Itu salah satunya karena, benang sutra untuk kain harus impor dari China,” katanya.

Di hari batik nasional ini pun, Hariyadi hanya bisa berharap agar pemerintah dapat secara konsisten memberikan sokongan penuh bagi para perajin batik di seluruh tanah air. Yakni dengan membantu dalam bidang pemasaran, termasuk menggelar pameran-pameran hingga ke luar negeri.

“Harapannya perajin bisa terus menciptakan ide-ide baru. Sehingga batik tetap bisa menjadi sumber ladang kehidupan bagi perajin dan orang banyak. Paling tidak batik tetap bisa dipertahankan,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...