Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Lampung Melimpah

Editor: Koko Triarko

166
LAMPUNG – Hasil tangkapan nelayan di wilayah pesisir Timur Lampung Selatan, dalam beberapa pekan awal Oktober mulai berangsur membaik. Hasan (30), salah satu nelayan di pelabuhan pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak mempengaruhi kegiatan nelayan.
Menurutnya, kebutuhan akan ikan laut di wilayah Bakauheni, cukup tinggi dengan banyaknya pemilik usaha kuliner di wilayah tersebut. Sejumlah usaha kuliner berupa restoran, warung kecil berkonsep serba sepuluh ribu (Serbu) kerap membutuhkan jenis ikan Selar, Tengkurungan,Simba dan Tuna dan ikan lain kerap digunakan untuk lauk. Jenis ikan segar tersebut menurutnya sudah dipesan oleh para pelele (pedagang ikan keliling) atas pesanan pemilik restoran dan warung makan.
“Kebutuhan akan ikan segar mulai mengalami peningkatan sejak dua tahunan terakhir, awalnya hanya untuk pasokan restoran besar, tapi tren saat ini bermunculan usaha kuliner membuat kami tidak kesulitan menjual ikan laut,” terang Hasan, nelayan di pesisir timur Lampung Selatan yang mendarat di dermaga Muara Piluk Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Sabtu (6/10/2018).
Hasan menyebut, sejumlah nelayan bagan congkel dan bagan mini kerap menjual ikan hasil tangkapan ke pelelangan ikan. Sejumlah nelayan kecil dengan modal terbatas, memilih menjual ikan kepada para bos ikan yang langsung terhubung dengan pemilik usaha kuliner.
Aminah (kanan) menjual ikan laut kepada konsumen [Foto: Henk Widi]
Harga ikan tersebut kerap sudah ditetapkan oleh Sang Bos, karena modal melaut berupa bahan bakar minyak (BBM) dan perlengkapan memancing, termasuk umpan disiapkan oleh Bos Ikan (Bos Bale). Relasi saling menguntungkan antara bos bale dan nelayan tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun di Lamsel.
Beberapa jenis ikan dengan nilai jual cukup tinggi menggunakan sistem pancing rawe dasar, di antaranya ikan Kuniran, ikan Simba, ikan Tengkurungan serta ikan Lapeh. Ikan Kuniran dibeli oleh bos ikan dengan harga Rp30.000 per kilogram, ikan Tengkurungan seharga Rp40.000, ikan Simba seharga Rp45.000 perk ilogram dan ikan Lapeh seharga Rp35.000 per kilogram.
Harga ikan tersebut terbilang normal, karena kondisi cuaca sudah cukup baik dibandingkan bulan sebelumnya, didominasi angin kencang dan gelombang tinggi.
Jumadi (30), nelayan pencari ikan di sekitar pesisir Bakauheni, Ketapang menyebut, kerap mendapat pesanan dari sejumlah pemilik usaha kuliner di Jalan Lintas Timur Sumatra.
Ia kerap memperoleh ikan jenis lele laut atau ikan sembilang sebagai bahan baku pembuatan ikan asap. Ikan sembilang asap kerap digunakan oleh sejumlah pemilik usaha kuliner untuk pembuatan kuliner sembilang gulai asap.
“Pesanan ikan untuk diolah menjadi bahan baku ikan asap, ikan kering tawar serta ikan segar hampir setiap hari ada, namun tergantung kondisi cuaca,” beber Jumadi.
Jumadi menyebut, dalam sekali melaut ia memastikan bisa memperoleh hasil tangkapan ikan sekitar 20 hingga 30 kilogram. Selain melakukan pencarian ikan dengan menggunakan perahu jenis ketinting ia bahkan kerap mencari ikan dengan perangkap (bubu) dari kawat, yang kerap dipergunakan untuk menangkap Lobster, Rajungan dan Ikan Sembilang.
Lobster disebutnya kerap dijual ratusan ribu per ekor, dipesan restoran besar, dan rajungan dan sembilang dijual dengan harga puluhan ribu tergantung ukuran.
Aminah (30), pedagang ikan dengan sistem lapak menetap di Desa Rawi, menyebut kebutuhan ikan semakin tinggi setelah banyak pemilik usaha warung makan. Sehari ia mengaku menjual ikan laut dan ikan air tawar dengan total mencapai 100 kilogram. Ikan laut yang dijual, di antaranya Tengkurungan, Simba, Tuna, Kuniran serta berbagai jenis ikan lainnya. Khusus jenis ikan air tawar jenis ikan yang dijual meliputi Patin, Lele, Emas dan Nila untuk bahan kuliner.
“Ikan laut dan ikan air tawar saat ini banyak dipilih untuk bahan kuliner, sehingga stok saya datangkan dari wilayah Lamsel hingga ke Cianjur, Jawa Barat,” cetus Aminah.
Pemilik usaha kuliner berbahan ikan di Bakauheni, Manohara (45), menyebut cara mendapat ikan segar dilakukan dengan memodali nelayan. Nelayan yang diberi modal akan menjaga kualitas ikan, dengan menggunakan box pendingin, sehingga ikan terjaga kesegarannya.
Pemilik usaha kuliner warung apung khas Bugis tersebut mengaku, cuaca yang baik membuat hasil tangkapan melimpah. Dampak positifnya, kuliner berbahan ikan selalu tersedia, di antaranya pindang ikan simba, palumara kepala simba, sop konro dan ikan bakar.
“Ikan yang saya sediakan untuk konsumen selalu dalam kondisi segar, sehingga bisa dipilih mana yang akan dibakar atau diolah menjadi kuliner khas Bugis,” cetus Manohara.
Pasokan ikan yang melimpah, ikut memberi dampak positif, harga kuliner boga bahari (Seafood) dijual dengan harga terjangkau. Beberapa kuliner ikan diantaranya palumara simba, sop konro simba bisa terjangkau oleh konsumen. Kuliner berbahan ikan tersebut kerap dimasak setelah ada konsumen yang memesan sehingga terjaga kesegarannya, terutama ikan laut hasil tangkapan nelayan. Ikan tetap terjaga kesegarannya dengan menggunakan lemari pendingin tanpa zat pengawet.
Baca Juga
Lihat juga...