Hoaks, Tanda Belum Mengerti Kebhinnekaan

65
Ilustrasi -Dok: CDN
PANGKALPINANG – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI, mengajak ratusan mahasiswa Bangka Belitung untuk berdiskusi menangkal berita hoaks dan menanamkan spirit kebhinekaan, guna merajut Indonesia damai dan bermartabat.
“Ini upaya kita menanamkan nilai kebhinekaan untuk generasi muda. Banyaknya penyebaran berita hoaks menandakan masyarakat kita belum mengerti makna kebhinekaan, sehingga mudah terprovokasi,” kata Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo RI, Ismail Cawidu, di Pangkalpinang, Minggu (7/10/2018).
Ia mengatakan, di era digital ini banyak pihak dan kelompok tertentu menyebarkan berita bohong atau hoaks, untuk memecah masyarakat agar saling beradu domba. Upaya masyarakat, khususnya generasi muda memaknai kebhinekaan belum terlihat, karena masih mudah terprovokasi dan saling mengujar kebencian di media sosial maisng-masing.
“Ini menjadi tugas kita membangun karakter bangsa, khususnya di benak generasi muda, agar mereka memahami makna kebhinekaan, sehingga mampu menangkal berita hoaks yang beredar di medsos,” ujarnya.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencatat, 4 dari 10 orang aktif di media sosial. Meski 60 persen pengguna medsos tidak punya rekening tabungan, tapi 85 persen punya ponsel. Dan, pengguna medsos bisa hidup tanpa ponsel paling lama tujuh menit.
Pengguna medsos mengakses internet rata-rata 8-11 jam, sehingga menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia rendah, yakni peringkat ke 60 dari 61 negara.
Minat baca buku masyarakat rata-rata hanya 27 halaman per tahun, dan minat baca koran hanya 12-15 menit per hari. “Kita harus mengubah pola pikir masyarakat, menanamkan kerelaan gotong royong dalam jiwa bangsa. Bagaimana cara mengingatkan kita, agar selalu memegang prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan bangun harmonisasi.  Tanamkan jati diri, bahwa NKRI harga mati,” ujarnya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...