ISI Bali Tampilkan Drama Tari ‘Bhisama’

Editor: Koko Triarko

145
DENPASAR – Hal yang tidak biasa coba ditampilkan Mahasiswa ISI Denpasar, dalam seni pertunjukan drama tari. Dalam pagelaran kolaborasi drama tari dan musik, para mahasiswa kesenian di Denpasar ini melirik persoalan perbedaan perspektif generasi old (orang tua) dengan generasi now (anak muda).
Salah satu tim penggarap, I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, akrab disapa Gus Bang, mencoba membuat tim penggarap dramatari bertajuk ‘Bhisama’ ini pun kian tertarik menghadirkan sosok Tualen sebagai penengah di antara kedua generasi itu.
Gus Bang menuturkan, peran Tualen dalam pertunjukkan tersebut yang diketahui sebagai sosok yang bijak, sangat cocok menjadi penasihat dalam konflik yang terjadi.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, I Komang Sudirga. -Foto: Sultan Anshori.
“Kerap kali kita menemui perbedaan paham antara generasi tua dan muda, baik dari alur berpikir maupun budayanya, sehingga sosok Tualen-lah yang nantinya akan memberi nasihat, bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk bersatu,” papar Gus Bang, saat ditemui di Kalangan Madya Mandala Taman Budaya, Denpasar dalam Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III, Minggu (7/10/2018).
Gus Bang mengungkapkan, para penampil sebagian besar berasal dari mahasiswa semester 1 (satu), dan menjalani latihan kurang lebih selama 20 kali. Mahasiswa ISI tampak bersemangat dalam menampilkan garapan dramatari.
Kolaborasi gerakan tari modern dan tradisional sebagai sebuah penggambaran perbedaan budaya antara zaman dulu dengan sekarang. Saat terjadi pertengkaran antara golongan tua dan muda, sosok Tualen datang di akhir cerita sebagai pemberi petuah.
“Kita memberi ruang dan kesempatan kepada mahasiswa semester satu dulu untuk memberikan pengalaman, tapi ada juga beberapa mahasiswa semester lima  dan tujuh yang membantu,” ujar Gus Bang.
Sementara itu, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, I Komang Sudirga, mengungkapkan dirinya sangat mengapresiasi pertunjukkan yang dilakoni anak didiknya. “Saya juga apresiasi antusiasme penonton yang cukup ramai,” tambah Sudirga.
Sudirga berharap, dengan adanya ruang kreativitas layaknya Nawanatya, dapat menambah kerja sama sekaligus pengalaman untuk menciptakan garapan yang lebih baik dan tajam. Sebab itu, garapan pertunjukkan ke depan bisa lebih bagus, sebagus wajah ISI sebagai kampus kesenian di Bali.
“Saya harap, ke depan para siswa bisa menyuguhkan penampilan yang lebih bagus lagi,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...