Jangan Remehkan Si Kecil Usus Buntu, Kenali Gejalanya

Editor: Makmun Hidayat

164
dr. Lucia Nirmalasari, General Surgeon, RS Cendana - Foto: M. Fahrizal

JAKARTA — Usus buntu bisa dialami mulai dari anak-anak hingga dewasa, dengan gejala yang paling khas yakni di perut kanan bawah.

“Kalau tidak segera diperiksa untuk mengetahui gejalanya, pada akhirnya semakin sakit dan berujung pada operasi. Salah satu penyebabnya ya biji cabe itu,” ucap dr. Lucia Nirmalasari, Sp. B, FiCS, FINACS, General Surgeon, Rumah Sakit Cendana, Rabu (03/10/2018).

Lucia menjelaskan gejala paling dini jika pada anak-anak usia lima sampai tujuh tahun, si anak tidak akan bilang kalau merasakan sakit perut kanan bawah. Si kecil akan mengatakan kepada orangtuanya bahwa dia merasakan tidak enak pada perutnya atau mengatakan kalau dia mengalami buang-buang air (mencret), perut sakit, melilit.

“Si anak akan mengatakan kalau sakitnya sudah lebih dari satu hari, atau sakit perutnya hilang timbul, terkadang sakit, terkadang tidak, si anak lebih suka posisi tiduran, bisa berjalan tetapi membungkuk, mengalami demam naik dan tidak turun demamnya jika sakit perutnya sudah berhari-hari,” beber Lucia tentang gejala dini usus buntu pada anak-anak.

Menurut dia, Kepedulian orang yang berada di rumah harus lebih memperhatikan jika si anak mulai terlihat seperti mengalami gejala tersebut, dan itu harus diwaspadai.

Disebutkan Lucia, penyebab dari usus buntu itu terjadi akibat adanya penyumbatan. Sumbatan itu berasal dari kacang-kacangan, biji-bijian, termasuk salah satunya biji cabe. Kemudian jika fesesnya terlalu keras sehingga menempel dan menyumbat.

“Bagian kecil dari usus, yang terkecil dari usus itulah yang dinamakan usus buntu,” tuturnya.

Dirinya pernah menemukan suatu kasus usus buntu juga diakibatkan adanya penyumbatan oleh cacing. “Memang banyak sekali penyebab dari usus buntu, namun yang sering dan familiar kita ketahui dan dialami disebabkan dari biji-bijian.

Disebutkan lagi, ketika mulai terjadi penyumbatan itulah timbul proses infeksi, bahkan yang paling parah bisa pecah, dan jika sudah mengalami hal ini merupakan kasus yang rumit pasien datang disaat nyeri yang sudah hebat sekali, mengalami demam tinggi, sudah tidak mau makan sama sekali.

“Jika tanda-tanda itu tidak hilang dalam satu kali dua puluh empat jam, itu sudah harus diperiksa karena banyak hal yang bisa terjadi. Untuk itu perlu diperiksa oleh yang berkompeten,” katanya lagi.

dr. Lucia mengatakan memang benar, terjadinya usus buntu terdapat di kanan bawah, namun tidak selalu kanan bawah itu ada atau terjadi usus buntu, semisal ada batu di saluran kencing di ureternya, itu juga akan menimbulkan rasa nyeri, peradangan pada indung telur (khusus wanita), kehamilan ektopik dini yang pecah, itu semua merupakan sakit yang terdapat di bagian kanan bawah.

dr. Lucia Nirmalasari mempraktekkan cara pemeriksaan pada pasien usus buntu – Foto: M. Fahrizal

Disebutkan oleh dr. Lucia bahwa satu-satunya penanganan usus buntu yakni dengan operasi dan harus puasa kurang lebih selama enam sampai delapan jam. Untuk pengobatan usus buntu dalam artian penanganannya, dilakukan dengan dua cara.

“Yang pertama dengan cara konvensional yakni dibuka biasa dengan melakukan irisan sepanjang tiga atau tiga setengah centimeter dan jika memang memungkinkan bisa sampai empat sentimeter di kanan bawah,” urainya.

Dan cara yang kedua, lanjutnya, dengan laparoskopi appendiktomi, yakni melakukan sayatan dengan sangat minim di tiga tempat, satu centimeter di satu tempat yakni di dekat pusar, dan dua tempat lainnya yakni bawah kanan dan kiri masing-masing hanya setengah sentimeter.

Namun pada prinsipnya kedua cara tersebut sama. Mengambil usus buntunya kemudian di buang. Prinsip sama tetapi proses berbeda.

“Dengan cara laparoskopi appendiktomi merupakan cara terbaru. Sebenarnya tidak terlalu baru, sudah ada sejak tahun 2000-an. Dengan metode ini nyeri yang dialami pasien berkurang, proses penyembuhannya jauh lebih cepat hanya butuh satu hari, sementara kalau konvensional bisa tiga empat hari,” Jelasnya.

dr. Lucia juga mengingatkan agar kita semua harus tetap hati-hati dan waspada dengan gejala usus buntu jika tidak sadar akan rasa nyeri dan di biarkan begitu saja, kemungkinan besar yang terjadi adalah sakitnya sudah dikategorikan komplikasi karena sudah pecah usus buntu tersebut dan jika demikian proses penyembuhannya memakan waktu yang lama yakni mencapai 12 hari atau lebih.

Usus buntu jika sekali saja mulai tersumbat prosesnya terus berjalan, dan jika dibiarkan yang terjadi adalah pecah, dan jika sudah pecah akan tumpah kemana-mana di perut kita yang semestinya rongga perut kita bersih atau steril tidak ada kotoran dan lain-lain.

Untuk pencegahan agar tidak terjadi usus buntu, dr Lucia menyarankan agar sebaiknya mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna, itu merupakan makanan yang paling bagus diantara yang lainnya.

“Begitu kita tegakkan suatu diagnosa apendisitis akut pasti kita harus melakukan operasi, terlebih jika sudah pecah, yang kita lakukan adalah cito yang artinya sesegera mungkin kita lakukan operasi untuk pengangkatan usus buntu itu,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...