Jelang Asian Para Games 2018, Sekolah tak Diliburkan

Editor: Satmoko Budi Santoso

189

JAKARTA – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) DKI Jakarta, Bowo Irianto menuturkan, saat penyelenggaraan Asian Para Games 2018 kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak diliburkan. Karena cabang olahraga atau cabor di Asian Para Games tidak sebanyak saat Asian Games kemarin. 

Faktor inilah yang turut menjadi pertimbangan dinas pendidikan DKI Jakarta tidak meliburkan sekolah-sekolah.

“Enggak ada yang libur, untuk Asian Para Games kegiatan belajar mengajar seluruh jenjang tidak ada yang libur,” kata Bowo di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2018).

Menurutnya, saat penyelenggaraan Asian Games 2018 kemarin beberapa sekolah yang diliburkan banyak waktu belajar mengajar di sekolah tertinggal. Sehingga pihaknya kini menginginkan tidak ada pengurangan kembali waktu belajar para siswa siswi di sekolah.

Tak hanya itu, Bowo juga menyatakan pihak penyelenggara Asian Para Games yakni Inapgoc juga tidak mengajukan permohonan untuk meliburkan sekolah. Pasalnya kemarin siswa dari 70 sekolah di Jakarta diliburkan selama 9 hari saat Asian Games 2018 berlangsung.

“Jumlah hari efektif juga sudah dihitung banget sudah habis. Sehingga kami kalau terkurangi lagi untuk libur, anak-anak nanti jumlah hari efektifnya berkurang,” ucapnya.

Kendati demikian, Pemprov DKI tetap berpartisipasi untuk memeriahkan penyelenggaraan Asian Para Games. Pemprov DKI tetap meminta para siswa untuk meramaikan venue-venue Asian Para Games, namun kali murid Sekolah Luar Biasa (SLB) yang didorong untuk menonton.

“Kendati demikian, Pemprov DKI tetap berpartisipasi untuk memeriahkan penyelenggaraan Asian Para Games. Pemprov DKI tetap meminta para siswa untuk meramaikan venue-venue Asian Para Games, namun kali ini murid Sekolah Luar Biasa (SLB) yang didorong untuk menonton,” tuturnya.

Sementara itu, INAPGOC juga menyiapkan kuota 15 ribu untuk anak sekolah yang ingin menyaksikan Asian Para Games. Jumlah tersebut terdiri dari siswa umum dan berkebutuhan khusus.

“Tetap banyak dari sekolah yang UMKM formal, karena untuk anak luar biasa juga tidak sederhana. Karena anak luar biasa ini orangtuanya mesti ikut, mendampingi,” jelasnya.

Saat ini pihaknya sedang memetakan penjadwalan supaya setiap sekolah bisa berkesempatan untuk menonton pertandingan.

“Nanti akan digilir. Misalnya untuk Sekolah A, akan kebagian menonton di hari pertama lomba, lalu di hari kedua (yang menonton) sekolah lain, dan seterusnya. Biar semua punya pengalaman itu,” ucap Bowo.

Namun terkait moda transportasi, Bowo mengatakan, Dinas Perhubungan akan mengatur penjemputan pelajar yang akan menyaksikan pertandingan Asian Para Games. Tiap sekolah akan menyaksikan pertandingan secara bergiliran dari hari pertama sampai terakhir.

“Supaya semua bisa memiliki pengalaman menyaksikan,” kata Bowo.

Akan tetapi, Dinas Pendidikan DKI Jakarta akan lebih mengutamakan sekolah umum serta hanya mengakomodasi difabel seperti tuna rungu, tuna wicara, dan tuna daksa ringan. Keputusan itu diambil karena Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan memiliki keterbatasan dalam memberikan akses bagi difabel lain di luar itu.

Diketahui, Asian Para Games adalah multi event negara-negara se-Asia khusus untuk atlet disabilitas. Asian Para Games tercatat sudah berlangsung dua kali, yaitu di Guangzhou, China, pada 2010 dan Incheon, Korea Selatan, pada 2014.

Perhelatan Asian Para Games 6-13 Oktober 2018. Kebijakan ini berbeda saat Asian Games berlangsung 18 Agustus sampai 2 September lalu.

Sebelumnya, pada Asian Games, Pemprov DKI meliburkan 70 sekolah selama sembilan hari, pada 20-31 Agustus 2018. Sekolah yang diliburkan, saat itu, berada di dekat arena Asian Games atau yang bersinggungan dengan jalur dari Wisma Atlet di Kemayoran ke arena Asian Games.

Baca Juga
Lihat juga...