Jernihnya Air di Pantai Mutiara Lampung Selatan

218
LAMPUNG – Kesejukan semilir angin pantai dengan deburan ombak dan jernihnya air laut, menjadi salah satu pilihan menghabiskan akhir pekan, seperti Pantai Mutiara di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, yang menghadap Selat Sunda.
Berada di tepi jalan lingkar pesisir Rajabasa, pantai tersebut mudah diakses dari pelabuhan penyeberangan Bakauheni dengan jarak tempuh sekitar tiga puluh kilometer, dan waktu tempuh setengah jam.
Barja (40), warga Desa Kunjir, menyebut akses menuju ke pantai Mutiara cukup mudah dari arah kota Kalianda serta Bakauheni. Infrastruktur jalan penunjang untuk kegiatan wisata yang dibenahi membuat kendaraan roda dua, kendaraan roda empat bisa menjangkau ke lokasi.
Pantai Mutiara diakuinya menjadi salah satu pantai yang cukup unik, karena bentang alam dipenuhi dengan jajaran batu karang menyerupai pelindung laut lepas Selat Sunda dan pantai.
Barja, salah satu warga Desa Kunjir, nelayan sekaligus penyedia ojek wisata perahu di pantai Mutiara menuju ke Batu Lapis dan Pulau Mengkudu [Foto: Henk Widi]
“Pantai Mutiara memiliki sejumlah fasilitas penahan gelombang yang dibuat untuk mencegah abrasi dari susunan batu, kini digunakan sebagai tempat membangun saung bambu bisa digunakan untuk santai memandang laut lepas,” terang Barja, saat ditemui Cendana News, Minggu (7/10/2018).
Menurut Barja, Pantai Mutiara menjadi pantai ramah keluarga, terutama bagi yang memiliki anak kecil, karena lokasi yang nyaman dan aman. Pada saat surut, bibir pantai dengan sajian pasir putih berpadu dengan batu batu karang bisa membentang hingga ratusan meter ke laut lepas.
Kondisi air yang surut tersebut, kerap dimanfaatkan pengunjung untuk menikmati air laut dengan sejumlah titik di pantai Mutiara menjadi kolam kolam kecil air laut berair jernih.
Surutnya air laut di pantai Mutiara pada saat tertentu, juga dimanfaatkan untuk mencari ikan karang, rumput laut, anggur laut (lumai) dan kerang. Warga memanfaatkan objek wisata pantai Mutiara, selain sebagai lokasi untuk bersantai juga untuk mencari penghasilan dengan memancing gurita, cumi serta berbagai jenis ikan saat air laut surut.
Pengunjung yang sekadar ingin menikmati suasana pantai sekaligus bisa melihat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), salah satu gunung berapi di Selat Sunda berjarak sekitar 40 mil dari pantai Mutiara.
“Banyak pengunjung pantai Mutiara sengaja menunggu senja menikmati matahari terbenam, kalau beruntung bisa melihat lava pijar Gunung Anak Krakatau menyala saat sore,” beber Barja.
Barja yang berprofesi sebagai nelayan dan penyedia ojek wisata perahu menyebut, pantai Mutiara juga kerap menjadi lokasi transit atau titik keberangkatan perahu bagi wisatawan yang akan mengunjungi objek wisata lain.
Objek wisata tersebut, di antaranya pantai Batu Lapis, Pulau Mengkudu yang berjarak sekitar satu mil dari pantai Mutiara. Sejumlah perahu yang disediakan oleh nelayan setempat, sekaligus menjadi salah satu mata pencaharian warga dengan tarif Rp15.000 per orang sekali jalan. Bagi wisatawan yang ingin sekadar menikmati suasana pantai, bisa duduk di saung yang sudah disediakan atau bermain di pasir putih pantai Mutiara.
Ciri khas pantai Mutiara dengan lokasi tepat berada di tepi jalan lintas pesisir Rajabasa, kata Barja, kerap menjadi titik perhentian. Pasalnya, di dekat pantai Mutiara dibangun pusat wisata kuliner Kunjir, yang ditandai dengan akses jalan lebar dan sejumlah warung kuliner penyedia menu olahan hasil laut, seperti ikan bakar, es rumput laut, kelapa muda yang bisa dinikmati sembari melihat pantai.
Saat cuaca cerah, visual Gunung Anak Krakatau bisa dinikmati dari pantai Mitiara dan pecinta fotografi bisa mengabadikan momen erupsi GAK.
Peristiwa GAK erupsi yang kerap mengeluarkan lava pijar, suara dentuman serta kolom abu vulkanik, menjadi pemandangan biasa bagi warga pesisir. Namun, hal itu menjadi daya tarik wisatawan. Sejumlah pantai di pesisir Rajabasa, bahkan mendaulat diri sebagai pantai Serambi Krakatau, karena bisa mengamati Gunung Anak Krakatau saat erupsi dengan mata telanjang.
Kabul (40), salah satu pengunjung yang mengajak anak-anaknya untuk berwisata di pantai Mutiara, mengaku sangat merekomendasikan pantai tersebut bagi keluarga. Pasalnya, jarak antara laut lepas dengan bibir pantai cukup jauh dengan lindungan jajaran batu karang.
Keamanan bagi anak-anak dengan pengawasan dari orang tua, bisa tetap terjamin, karena ombak laut lepas tidak langsung menyentuh bibir pantai, terutama saat surut pada waktu tertentu sesuai siklus air laut.
“Kesukaan anak-anak saat diajak ke pantai, biasanya ingin bermain air, bahkan berenang, tapi jika pantainya berhadapan dengan laut lepas, saya enggan membiarkan anak berenang di pantai Mutiara, aman bagi anak-anak,” beber Kabul.
Pantai yang berada di tepi jalan mudah dijangkau kendaraan, bahkan kerap gratis biaya masuk membuat Kabul memilih pantai Mutiara, yang ramai saat akhir pekan serta hari raya dan pergantian tahun.
Kabul, salah satu pengunjung mengajak serta keluarga bermain di pantai Mutiara [Foto: Henk Widi]
Pada saat kunjungan ramai, pengelola, di antaranya para pemuda akan bertugas mengelola objek wisata pantai tersebut dengan biaya parkir Rp5.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp15.000 untuk mobil.
Meski sepi saat libur normal, saat libur panjang dan hari istimewa pengunjung pantai tersebut bisa mencapai ratusan hingga ribuan orang.
Septian (10), salah satu anak yang diajak oleh Kabul dan bermain di pantai Mutiara, mengaku senang bisa mencari kerang. Air lpantai yang jernih membuat ia bisa mencari ikan ikan karang, sekaligus kerang yang menarik. Lokasi yang aman untuk bermain di pantai Mutiara diakuinya cukup disukai anak-anak, karena bisa bermain air laut tanpa takut terhempas ombak.
Saat air pasang dan menyentuh bibir pantai, ia bisa berlindung di lokasi yang dipenuhi batu karang penghalang alami dari gelombang. Akhir pekan disebut Septian kerap menjadi waktu tepat mengajak orang tua mengunjungi pantai, dengan tidak lupa membawa bekal makanan untuk makan bancakan di tepi pantai.
Baca Juga
Lihat juga...