Kandaouw Beberkan Kisah Pengangkatan Jenazah dari Lubang Buaya

Editor: Koko Triarko

1.145
JAKARTA – Pembantu Letnan Dua (purn) TNI Angkatan Laut,  Evert Julius Vendor Kandaouw, berbagi kisah proses evakuasi jenazah korban kekejian Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30 S PKI) yang dipimpin Letnan Kolonel (Letkol) Untung.
“Ada ya, orang yang tega berbuat kejam membunuh para jenderal, putra terbaik bangsa. Saya nggak ngerti politik terkait pengkhianatan itu, tapi perbuatan keji harus lenyap dari dunia ini,” kata Kandaouw, pada seminar nasional bertajuk “Membangkitkan Kesadaran Sejarah Generasi Muda Dalam Pembangunan Karakter Bangsa” di Universitas Mercu Buana, Jakarta, belum lama ini.
Kandaouw berkisah, situasi saat itu G 30 S PKI bergerak aksinya pada 30 September 1965, memasuki malam tanggal 1 Oktober. Insting seorang prajurit, Kandaouw bersama teman-teman sepulang dari Tanjung Priuk melihat gerakan dengan gelagat aneh.
Pada pagi harinya, sebut dia, ada pidato Letkol Untung yang ditayangkan TVRI menyatakan, bagi mereka tentara yang mengikuti gerakan ini akan dinaikkan pangkat dua kali. Sedangkan yang simpati hanya satu kali.
“Saya tidak tahu ada penculikan para jenderal, tapi insting seorang prajurit suasana Jakarta beda saat malam 30 September 1965 itu,” kata Kandaouw, kepada Cendana News.
Saat itu, Kandaouw sebenarnya bertugas di Surabaya. Tapi, karena persiapan HUT TNI pada 1965, ia bersama-sama anggota KKO lainnya berada di Jakarta untuk persiapan.
Namun belum perayaan HUT itu digelar, menurutnya, peristiwa mencekam terjadi di Jakarta, yakni penculikan dan pembunuhan terhadap para jenderal.
Dengan cepatnya, beritanya merebak, bahwa enam jenderal dan satu perwira TNI Angkatan Darat dibunuh oleh gerakan bernama G 30 S PKI, dan jenazahnya dimasukkan dalam sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Sontak masyarakat Indonesia berduka, terlebih kebiadaban PKI yang menguburkan para jenderal dalam sumur berdiameter 75 senti meter dan kedalaman 12 meter pada 1 Oktober 1965 hanya untuk menghilangkan jejak kejinya.
TNI Angkatan Darat mengerahkan pasukannya untuk mencari para jenderal yang diculik. Atas kuasa Allah SWT, dua hari kemudian, tepatnya 3 Oktober 1965, Agen Polisi Dua Sukitman TNI AD berhasil menemukan sumur tersebut dan langsung melaporkan kepada Mayor Jenderal (Mayjen) Soeharto.
Kemudian Pak Harto memerintahkan pasukan TNI AD, khususnya RPKAD untuk mengevakuasi jenazah yang ada dalam sumur tersebut. Namun karena keterbatasan peralatan, pasukan ini penyerah.
Untuk mempercepat evakuasi, Pak Harto, kata Kandaouw,  meminta bantuan kepada KKO, yakni Panglima KKO Mayjen Hartono.
Dengan sikap tegas, Mayjen Hartono mengerahkan pasukan yang mumpuni. Di antaranya, Kapten Sukendar, Lettu Mispan, Pelda Sugimin dan Letna Kandaouw.
“Evakuasi dimulai pukul 12.15 WIB, dipimpin oleh Komandan KIPAN KKO-AL Kapten Winanto. Dengan kelengkapan peralatan, kami mengevakuasi jenazah hingga berjalan lancar,” ujarnya.
Hanya saja, sebut dia, di saat ditugaskan untuk menuju Lubang Buaya agak kesulitan.  Mereka datang terlebih dulu ke Halim Perdanakusuma, tapi setelah bertanya-tanya tidak ada satu orang yang tahu di mana lokasi Lubang Buaya.
Setelah dua jam berputar-putar, akhirnya Kandaouw dan teman-teman sampai ke Lubang Buaya. Namun sayang, kata Kandaouw, RPKAD tidak mengizinkan mereka masuk ke lokasi tersebut.
“Saya heran, kenapa nggak diizinkan masuk, kan kami datang atas perintah Pak Harto. Saya berantem dengan mereka, karena kami datang mau kerja membantu evakuasi jenazah,” ungkapnya.
Sekitar pukul 10.00 WIB pada tanggal 4 Oktober 1965, Pak Harto tiba di Lubang Buaya. Kapten Sukendar, kata Kandaouw, bergegas mengabarkan kalau pasukan KKO sudah tiba. Kemudian pasukan KKO masuk dan melakukan evakuasi jenazah.
Menurutnya, satu persatu prajurit KKO dan RPKAD turun ke dalam sumur yang sempit tersebut. Kopral Anang, salah satu anggota RPKAD dengan menggunakan masker dan tabung oksigen turun ke sumur. Sepuluh menit kemudian adalah Serma KKO, Suparimin, turun juga untuk mengikat tali pada tubuh jenazah yang akan ditarik ke atas.
Suparimin berhasil mengangkat satu jenazah. Tapi, jenazah itu  tertindih jenazah lain, sehingga tidak bisa ditarik. Kemudian pada putaran jarum jam 12.30 WIB, Prako KKO, Subekti, mendapat giliran turun ke sumur.
Dan, 20 menit kemudian, Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah dari dalam sumur. Tepat pukul 13.30 WIB, Serma KKO Suparimin kembali turun untuk kedua kalinya.
“Bersyukur pada Tuhan, semua jenazah berhasil diangkat ke atas permukaan sumur,” ucapnya.
Kandaouw berkisah, paling mencekam ketika proses evakuasi terhadap dua jenderal, yaitu Brigjen TNI Sutoyo Siswomihardjo dan Letjen TNI Ahmad Yani. Karena kondisi sumur yang sangat gelap, juga sempit tak mudah bergerak, seorang tim evakuasi mengingat kedua jenazah tersebut menjadi satu.
Pengangkatan jenazah keluar dari sumur berjalan lancar. Namun, kata Kandaouw, saat jenazah tiba di bibir sumur, tali pengikat jenazah putus. Maka, kedua jenazah tersebut tercebur kembali ke dalam sumur.
Kemudian tim evakuasi masuk lagi ke dalam sumur untuk mengikat satu per satu jenazah jenderal tersebut. Lalu, kata dia, jenazah itu  ditarik oleh para prajurit dengan hentakan doa tak henti-henti memohon kemudahan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Namun, menurutnya, ketika ketika jenazah Letjen Ahmad  Yani dievakuasi yang kedua kalinya dari sumur, dirinya terkejut melihat kondisi leher  sang jenderal yang terkulai.
“Pas diangkat, leher Pak Yani langsung terkulai, terus plek, tapi tidak putus. Saya kaget, dan melihat dengan jelas ada bekas sayatan di leher Pak Yani,” ungkapnya, lirih.
Terkait para jenderal lainnya, Kandaouw mengaku tidak melihat jelas kondisinya, apakah penuh luka tersayat benda tajam.
“Kondisi jenazah saat diangkat itu kotor sekali, bercampur merahnya darah, bau menyengat pula. Kami tim evakuasi memakai masker, demikian pula Pak Harto. Masker itu untuk menahan bau jenazah yang menyengat, karena kondisinya,” tukasnya.
Proses evakuasi seluruh korban tujuh putra terbaik bangsa itu berlangsung selama dua jam. Korban yang diangkat dari dalam sumur adalah jenazah Letjen TNI Ahmad Yani (Panglima Angkatan Darat), Mayjen TNI R Suprapto, Mayjen TNI MT Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dan Serta Lettu Pierre Tendean.
Kemudian ketujuh jenazah langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, untuk dilakukan visum. Lalu, jenazah tersebut disemayamkan  di pemakaman Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan dengan upacara kenegaraan yang diiringi kekuatan doa. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar ketujuh putra terbaik bangsa dilapangkan alam kuburnya ditempatkan di surga.
Meskipun jenazah sudah dimakamkan, tapi Kandaouw mengaku masih menyimpan kegelisahan lantaran terbayang terus kondisi jenazah para jenderal tersebut, utamanya Letjen Ahmad Yani.
“Saya masih kebayang terus Pak Yani, dan kondisi jenazah jenderal lainnya yang kotor bercampur darah. Baunya menyengat membuat saya tak mau makan hingga dua hari setelah proses evakuasi. Ya, kebayang kondisinya juga, tak nafsu makan,” tukasnya.
Di usia senjanya, pria kelahiran Banyuwangi 80 tahun ini terus memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berharap putra terbaik bangsa yang dibunuh dengan keji oleh PKI dilapangkan alam kuburnya. Diterima amal kebaikannya dan ditempatkan di Surga.
“Sejarah kelam bangsa itu saya saksikan langsung saat evakuasi jenazah para jenderal. Salut terhadap sikap tegas Pak Harto menumpas PKI, kala itu. Semoga ini jadi pembelajaran generasi muda, jangan pernah lupakan sejarah,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...