Kasus Filariasis di Papua Barat Cukup Tinggi

Pemberian obat Filariasis pada anak-anak sekolah dasar oleh petugas Dinas Kesehatan. Foto : Ebed de Rosary

MANOKWARI — Kasus penyakit filariasis atau kaki gajah di wilayah Provinsi Papua Barat cukup tinggi, dan masyarakat diimbau mengikuti gerakan eliminasi yang dilaksanakan setiap bulan Oktober.

“Kasus filariasis ada di seluruh kabupaten kota, kecuali Pegunungan Arfak. Gerakan eliminasi filariasis sudah kita mulai pada tanggal 1 Oktober,” kata Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, Otto Parorongan di Manokwari, Kamis (4/10/2018).

Ia mengutarakan, dalam gerakan eliminasi filariasis ini seluruh warga dari usia dua hingga 70 tahun wajib mengonsumsi obat. Hal itu dilakukan untuk mencegah penularan.

Dari 12 kabupaten kota di Papua Barat, kata dia, Sorong Selatan menduduki urutan pertama sebagai daerah dengan kasus kaki gajah kronis tertinggi. Disusul Manokwari, Teluk Wondama, Maybrat, Kabupaten Sorong, Fakfak, Manokwari Selatan, Tambrauw, Kaimana, Kota Sorong, Teluk Bintuni, dan Raja Ampat.

Kabupaten Sorong Selatan, lanjut Otto, terdapat 178 kasus kronis, Manokwari ada 142, Teluk Wondama 63 dan Maybrat 51 kasus. Cacing filariasis mudah menular melalui gigitan nyamuk “Semua jenis nyamuk bisa menularkan cacing. Saat nyamuk menggigit orang yang mengalami kaki gajah disitulah proses penularan mulai. Cacing yang ukurannya sangat kecil menempel pada moncong nyamuk, kalau nyamuk itu menggigit orang lain maka sudah pasti dia akan tertular,” kata dia lagi.

Otto menyebutkan, gerakan Eliminasi Filariasis sudah dimulai pada tahun 2014. Tahun 2018 merupakan tahun keempat dan program ini akan berakhir pada 2019.

Ia menargetkan seluruh masyarakat minum obat yang disiapkan pemerintah secara gratis tersebut. Ia juga berharap seluruh kabupaten kota kecuali Pegunungan Arfak melaksanakan program pengobatan secara merata.

“Pegunungan Arfak bukan karena disana tidak ada populasi nyamuk dan tidak ada kasus. Di sana kami melaksanakan program kecacingan,” ujarnya lagi. [Ant]

Lihat juga...