Kecil Kemungkinan Gempa di Lombok Sebabkan Erupsi Gunung Agung

Editor: Koko Triarko

144
JAKARTA – Rentetan gempa yang melanda Indonesia, belakangan ini, seperti gempa di Lombok, Palu, Situbondo hingga Maluku, adalah sesuatu yang alami. Hal ini mengingat kondisi geografis Indonesia memang terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia.
Demikian dikatakan Kepala Bidang Manajemen Operasi Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Ariska Rudyanto, S.Si, Dipl.Tsu, M.Sc., yang dihubungi Jumat (12/10/2018).
Ia juga menyatakan, bahwa BMKG saat ini terus memantau semua aktivitas alam ini, untuk mencegah timbulnya risiko yang besar. Terutama, saat perhelatan besar Pertemuan IMF-World Bank yang saat ini berlangsung di Bali.
Saat ditanyakan mengenai kemungkinan adanya erupsi pada Gunung Agung di Bali, akibat kegiatan seismik di beberapa lokasi seputar Bali, Ariska menyatakan, bahwa secara teori hal itu memang bisa terjadi.
“Ada beberapa faktor yang bisa menghubungkan antara kegiatan seismik dengan erupsi gunung api. Antara lain, jarak, kekuatan getaran gempa serta posisi dan kondisi dapur magma,” kata Ariska.
Namun karena data-data di lapangan belum mendukung, Ariska menyatakan belum dapat memberikan angka persentase atas pengaruh kegiatan seismik ini pada erupsi gunung api.
“Saya tidak bisa bilang berapa persentasenya. Tapi, ada analisis yang dapat digunakan untuk memperkirakan suatu gempa dapat mempengaruhhi aktivitas vulkanik atau tidak. Salah satunya adalah memakai analisis statis atau pun dinamis momen tensor, yang memperlihatkan pergerakan energi gempa sejauh apa,” papar Ariska.
Berdasarkan analisa tersebut, Ariska menyatakan untuk kasus gunung berapi di Bali dengan kaitannya gempa di Lombok, kecil kemungkinan untuk terjadi erupsi.
“Kecil kemungkinannya untuk mempengaruhi secara langsung atau pun meningkatkan aktivitas Gunung Agung. Karena sebaran energi gempa di Lombok belum sampai ke dapur magma Gunung Agung,” urainya.
Ariska menegaskan, bahwa BMKG selalu memantau aktivitas vulkanik, sehingga jika terjadi peningkatan aktivitas akan langsung terdeteksi.
Hal senada juga disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG, Siti Hidayati, yang menyampaikan, bahwa belum ada riset yang cukup untuk menjelaskan apakah saat ada gempa besar akan menyebabkan transfer tekanan terhadap terhadap sumber-sumber lain di sekitarnya.
“Besar kecilnya magnitudo gempa tergantung pada rigiditas batuan sumber, luas area dan besarnya pergeseran atau slip. Tapi untuk memastikan, bahwa sumber lain dapat terpicu dengan skala yang sama, itu membutuhkan riset. Dan, riset ini belum ada,” ucap Siti.
Terkait rumor, bahwa rentetan gempa ini akan menyebabkan megathrust, Siti menjelaskan, bahwa hal itu sebenarnya adalah nama suatu zona gempa bumi. Bukan suatu kejadian gempa besar.
“Sesuai namanya, megathsrust ini adalah pergerakan sesar naik yang besar. Biasanya merupakan mekanisme gempa yang terjadi di pertemuan lempeng benua atau disebut zona subduksi,” papar Siti.
Di Indonesia, zona ini memanjang mulai dari Sumatra sampai Banda, utara Sulawesi dan di antara Maluku dengan Philipina.
“Para ahli telah mengidentifikasi megathrust ini menjadi beberapa segmen, yaitu Selat Sunda – Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah – Jawa Timur. Berdasarkan kajian kegempaan, setiap segmen mempunyai potensi gempa yang berbeda-beda. Besarnya gempa yang akan terjadi tidak bisa diprediksi, namun telah diketahui potensi maksimum magnitudonya,” ujar Siti.
Siti juga menjelaskan, bahwa pembagian segmen ini didasarkan pada karakteristik deformasi dan geodinamika, yang merupakan kajian multi disiplin ilmu, yaitu geologi, seismologi dan geodesi.
Baca Juga
Lihat juga...