Kelompok Remaja Rentan Penularan HIV/AIDS di Jabar

188
Ilustrasi -Dok: CDN

BOGOR — Angka penderita HIV/AIDS di Jawa Barat meningkat setiap tahun, kelompok remaja mulai dari pelajar dan mahasiswa menjadi rentan penyebaran terbesar saat ini.di Jawa Barat meningkat setiap tahun, kelompok remaja mulai dari pelajar dan mahasiswa menjadi rentan penyebaran terbesar saat ini.

“Angka pengidap HIV/AIDS sebanyak 90 persen berusia kisaran 15-49 tahun, 30 persennya berada di usia 20-24 tahun,” kata Ketua Sekretariat Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Provinsi Jawa Barat, Iman Teja Rachmana di Kota Bogor, Kamis (11/10/2018).

Iman memaparkan fenomena HIV/AIDS di Jawa Barat dalam kegiatan Roadshow Pemuda Milenial Aksi Semangat Untuk Indonesia Kondusif yang mengusung tema “Pencegahan Terhadap HIV – AIDS, Narkoba, Kekerasan dan Radikalisme pada Remaja” yang berlangsung di Gedung Kemuning, Kota Bogor.

Lebih lanjut Iman menjelaskan, angka HIV di Jawa Barat tahun 2017 mencapai 5.800 orang, di mana 30 persen dari jumlah tersebut atau sekitar 1.600 sampai 1.800 orang adalah pengidap HIV baru pada rentang usia 20-24 tahun.

Sementara itu di tahun 2016 berjumlah 5.200 orang, 2015 ada 4.600-an orang, 2014 sekitar 4.000-an orang. “Hubungan seksual menjadi transmisi terbesar HIV/AIDS, disusul jarum suntik atau narkoba,” katanya.

Ia menyebutkan, angka HIV pada kelompok ibu rumah tangga muda juga tiga kali lebih banyak daripada angka HIV pada wanita pekerja seksual. “Setiap tahun angka HIV/AIDS mengalami peningkatan dengan komposisi pelajar SMA dan mahasiswa. Tahun ini yang terbesar,” katanya.

Di hadapan para pelajar SMA sederajat se-Kota Bogor, Iman mengatakan, fenomena ini merupakan kenyataan yang harus dipahami.

Melalui kegiatan road show KPA Jawa Barat, mengajak generasi milenial mulai dari pelajar dan generasi muda lainnya untuk menjauhi perilaku negatif yang akan membawa kerugian bagi dirinya pribadi.

“Yang perlu dijauhi adalah perilakunya, bukan orang pengidap HIV/AIDS-nya. Rangkul mereka yang terjangkit, agar bisa bangkit dan tidak terjerumus lebih jauh,” kata Iman.

Menurut Iman, pengguna narkoba dan pelaku radikalisme rata-rata didominasi para generasi muda. Pemahaman generasi muda saat ini juga cukup memprihatikan, kebanyakan pelajar SMA yang tidak paham apa yang dimaksud dengan orientasi seksual.

“Ini menyeramkan, perkembangan teknologi komunikasi memberi kemudahan akses, salah satunya sosial media yang menjadi akses secara terbuka bebas,” kata Iman.

Untuk menumbuhkan kesadaran para pelajar dan remaja di Jawa Barat, KPA telah menggelar “Roadshow Pemuda Milenial Aksi Semangat Untuk Indonesia Kondusif” yang mengusung tema Pencegahan Terhadap HIV – AIDS, Narkoba, Kekerasan dan Radikalisme pada Remaja sejak 2017.

“Kegiatan ini sudah kita lakukan di Sukabumi, Kota Bogor jadi daerah ketiga di Jawa Barat,” kata Iman.

Kegiatan sosialisai ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya vokalis eks PAS Band yang sudah berhijrah menjadi da’i, Ustadz Yuki Arifin Martawidjaja dan Runner up Putri Indonesia Jawa Barat 2018 Jessica Fitriana yang memimpin membacakan deklarasi Aksi Semangat Untuk Indonesia Kondusif.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bogor, Iwan Suryawan, menambahkan, program ini bertujuan untuk menggerakkan, mambangun, memotivasi pelajar, pemuda, remaja dan generasi milenial untuk menciptakan lingkungan yang kondusif khusus di Kota Bogor.

Menurutnya, kegiatan ini sebuah upaya pemerintah agar para generasi milenial memiliki sikap perilaku yang baik, terhindar dari bahaya penyalahgunaan narkoba, HIV AIDS, radikalisme, kekerasan, perundungan dan yang lainnya.

“Jangan sampai para generasi milenial menjadi pelaku utama kasus-kasus tersebut,” kata Iwan. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...