Kemarau Panjang, Tiga Desa di Jembrana Krisis Air

Editor: Satmoko Budi Santoso

167

JEMBRANA – Musim kemarau menyebabkan sejumlah sumber mata air di Kabupaten Jembrana mengalami kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, Ketut Eko Susila Artha Permana, mengatakan, dari data sementara yang dimiliki oleh pihaknya, terdapat dua desa yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang yang melanda Bali khususnya di Kabupaten Jembrana.

Dua desa tersebut yaitu di desa Manistutu dan desa Warna Sari di Kecamatan Melaya, Jembrana.

“Kami dari BPBD Jembrana sudah melakukan tindakan bantuan air bersih kepada dua desa tersebut,” ucap pria yang akrab disapa Pak Eko, Senin (8/10/2018).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana Ketut Eko Susila Artha.-Foto: Sultan Anshori.

Dropping air bersinggungan sudah dilakukan pihaknya sejak minggu lalu dengan mengerahkan sebanyak 13 mobil tangki dengan kapasitas masing-masing tangki sebanyak 5.000 liter.

Pihaknya sudah melakukan droping air bersih ke beberapa desa sejak Minggu lalu. Dengan total puluhan tangki masing-masing tangki berisi 5.000 liter air bersih. Bahkan yang terbaru, masih ada satu desa yang ada di Kecamatan Jembrana tepatnya di desa Batu Agung masyarakatnya juga mengalami kesulitan air.

“Laporan baru kami terima. Informasi sementara, disana terdapat satu tempek (Dusun) yang mengalami kekurangan air. Nah instruksi kami mereka segera mengirim surat ke kantor kami agar bisa kami lanjuti,” imbuh eko.

Sementara itu, pihaknya mengaku belum menerima laporan yang pasti dari masyarakat terkait adanya lahan pertanian yang juga terdampak kemarau panjang. Namun pihaknya akan terus memantau dampak dari musim kemarau itu.

Namun secara umum, dampak kekeringan tersebut disebabkan oleh mengurangnya volume debit air yang terdapat di beberapa sumber air seperti sungai dan sumur-sumur milik warga. Penurunan volume tersebut sekitar satu meter.

“Kebetulan kalau lahan pertanian baik ladang maupun lahan sawah itu wilayah dari Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana. Tapi kami juga terus memantau perkembangan. Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak PDAM Kabupaten Jembrana untuk melakukan pengisian air bersih di beberapa Hydrant yang dimiliki oleh perusahaan air minum daerah tersebut,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Wayan Sutama, belum bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi terkait berapa luas total lahan pertanian yang terdampak akibat musim kemarau di kabupaten paling ujung barat Pulau Dewata.

Namun menurut informasi yang diterima oleh informan di Jembrana, terdapat sekitar 40 hektare sawah yang terdampak kekeringan. Wayan Sunarya, salah seorang petani di Desa Budeng, Kecamatan Jembrana menjelaskan, sudah sekitar sebulan belakangan sawah garapannya kekurangan pasokan air. Padahal, saat ini sudah waktunya musim tanam.

“Ya mau gimana lagi. Airnya tidak ada, kami berharap ini ada solusi dari pemerintah setempat agar kami bisa melakukan aktivitas pertanian. Kalau tidak kita akan merugi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...