Kemarau, Petani di Bakauheni Jadi Penambang Pasir

137

LAMPUNG – Musim kemarau, berimbas pada lahan pertanian di kecamatan Bakauheni. Lahan pertanian yang semula bisa digarap dengan pasokan air yang lancar, kini mulai ditinggalkan petani, terutama petani dengan modal terbatas.

Robiin (33), salah satu petani menyebut, petani memilih beralih ke pekerjaan lain, seperti tukang ojek di pelabuhan penyeberangan Bakauheni, pasar Bakauheni, untuk mendapatkan penghasilan. Sebagian warga yang tidak memiliki kendaraan bermotor, memilih bekerja sebagai penambang pasir di sungai Gubuk Seng.

Sungai Gubuk Seng merupakan sungai yang mengalir tepat di bawah Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), ruas Bakauheni-Terbanggibesar STA 05. Sungai tersebut menghasilkan pasir melimpah, yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

Kendati demikian, sebagian petani masih bisa bercocok tanam dengan menggunakan mesin sedot untuk pengairan lahan budidaya melon dan labu. “Saya masih bisa bercocok tanam karena menggunakan mesin pompa, namun bagi petani lain yang tidak memiliki modal, memilih menunda bertani, menunggu hujan turun. Diantaranya dengan mencari pasir,” terang Robiin salah satu petani di Dusun Gubuk Seng saat ditemui Cendana News, Jumat (5/10/2018).

Sejumlah lahan pertanian, yang semula digunakan untuk menanam cabai merah, melon dan labu, dibiarkan tidak ditanami. Musim hujan yang diprediksi baru akan tiba pada November mendatang. Sementara para petani sudah tidak bercocok tanam sejak Juli silam.  Lahan yang sudah dibuat guludan dan diberi mulsa, dibiarkan terbengkelai.

Petani Dusun Cilamaya, Desa Kelawi, Hendra (33) mengungkapkan, selama pasokan air terpenuhi, Dirinya bisa menanam jagung. Namun saat musim kemarau, Dia memilih pekerjaan sebagai penambang pasir di sungai Gubuk Seng. Penambang pasir memilih mencari pasir dan mengumpulkan di lokasi yang mudah diangkut dengan kendaraan dum truk. “Saat musim kemarau kendaraan pengangkut pasir bisa masuk ke sungai sehingga pencari pasir bisa langsung melakukan proses pemuatan pasir ke dum truk,” papar Hendra.

Satu kubik pasir, dari sungai Gubuk Seng dijual Rp150.000. Jumlah tersebut terdiri dari upah pekerja bongkar Rp30.000, dan uang untuk kendaraan Rp50.000. Kemudian uang kendaraan dan pencari pasir Rp70.000. Satu kendaraan dum truk dengan isi lima kubik pasir, untuk pengiriman wilayah Sidomulyo diharhagai Rp750.000. Hendra memperoleh uang Rp350.000, untuk lima kubik pasir.

Hasil tersebut dapat diperoleh dua hari sekali, karena selain dirinya, sejumlah warga lain juga mencari pasir di lokasi yang sama. Penjualan pasir dilakukan dengan sistem bergilir, memberi kesempatan bagi pencari pasir lain. Meski demikian, sejumlah pencari pasir tetap bisa memperoleh hasil dari upah muat, yang dilakukan dengan sistem borongan.

Salah satu penyedia pasir, sekaligus pengemudi dum truk, Eri (40) menyebut, setiap hari dirinya mendapatkan permintaan sekitar dua dum truk pasir. Permintaan pasir sebagai bahan bangunan, berasal dari warga yang akan membuat membanhgun rumah.

Sepanjang sepekan terakhir Eri bahkan mengaku mendapat pesanan dari proses pembangunan masjid di wilayah Sidomulyo, dengan harga Rp750.000 per-truk. Keberadaan sungai Gubuk Seng, selain bisa memberi penghasilan bagi pemilik kendaraan, juga memberi penghasilan bagi sejumlah warga.

Baca Juga
Lihat juga...