Kemarau, Untungkan Petani Labu Madu

Editor: Mahadeva WS

288

LAMPUNG – Kemarau yang melanda Kabupaten Lampung Selatan, justru memberi keuntungan berlipat, bagi petani yang bisa menangkap peluang. Seperti yang dilakukan, Robiin (33), warga Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni.

Memanfaatkan lahan di lereng perbukitan Dusun Gubuk Seng, Robiin menanam labu madu (Cucurbita moschata). Buah tersebut di luar negeri dikenal dengan sebutan pumpkin butternut. Pertanian tersebut memanfaatkan aliran sungai Gubuk Seng. Budi daya melon madu tersebut, bermula dari pengalaman Robiin, saat tinggal di wilayah Serang, Banten.

Saat hijrah ke Lampung lima tahun silam, Robiin mencari lahan yang bisa digunakan untuk budi daya labu madu. Memiliki bekal sebagai petani melon, membuat ia tidak kesulitan dalam penyiapan lahan yang disewa, serta proses perawatan tanaman labu madu, yang masih jarang dikembangkan di Lampung.

Labu madu memiliki ciri khas fisik, menyerupai kacang tanah. Sementara buah labu umumnya berbentuk bulat atau oval. Warna kuning mentega pada kulit, membuat labu madu cukup menarik, dan kerap dimanfaatkan sebagai bahan kue, kosmetik. Daging buahnya cukup lembut, dengan rasa manis yang khas.

Khasiat kesehatan labu madu menjadikan permintaan buah tersebut semakin hari semakin meningkat. “Labu madu awalnya dikonsumsi kalangan menengah ke atas, karena harganya di atas labu biasa. Tapi sekarang, karena mulai banyak yang mengembangkan, harga bisa terjangkau dan bisa ditemui di sejumlah pasar tradisional,” terang Robiin saat ditemui Cendana News, Senin (8/10/2018).

Budi daya labu madu dilakukan Robiin dengan memanfaatkan lahan miring di atas sungai Gubuk Seng. Ia dan sejumlah petani hortikultura di wilayah tersebut, memanfaatkan mesin pompa air, agar bisa mengairi lahannya. Sementara, untuk mencegah longsor, penanaman labu madu dilakukan dengan menggunakan mulsa plastik pada bedengan, yang sudah digemburkan dan diberi pupuk kandang.

Di kemarau kali ini, Robiin mengurangi jumlah penanaman. Jika pada musim tanam sebelumnya, ia menanam satu paket benih labu madu, yang berisi 1.000 biji. Pada masa tanam awal Agustus, memperhitungkan pasokan air, Robiin hanya menanam setengah paket atau 500 benih labu madu. Kini tanaman di lahan seluas 2.500 meter persegi tersebut sudah siap panen.

Benih labu madu diakui Robiin dibeli dengan harga Rp30.000 perbungkus berisi 100 biji. Harga benih labu madu cukup bervariasi, tergantung produsen yang membuatnya. Pada masa panen, Robiin menghasilkan 5.000 kilogram labu madu, yang dipanen secara bertahap. Harga jual labu madu di tingkat petani Rp10.000 perkilogram.

Dengan harga tersebut, Robiin bisa memperoleh pendapatan Rp50juta. Dipotong biaya pengolahan lahan, bibit, pupuk, operasional perawatan dan pemanenan, masih ada keuntungan bersih sekira Rp30juta.

Penanaman menggunakan ajir atau tonggak bambu, sebagai penopang batang labu madu yang menjalar. Masa penanaman hingga panen membutuhkan waktu 100 hari. “Prediksi panen sudah dihitung, sehingga saya juga mempersiapkan lahan baru untuk penanaman tahap berikutnya, agar pasokan untuk pasar tidak terputus,” cetus Robiin.

Penanaman labu madu pada musim kemarau menguntungkan, potensi rontoknya bunga rendah. Pembusukan buah sangat minim terjadi. Sehingga, meski pasokan air harus dilakukan dengan mengeluarkan biaya ekstra pembelian bahan bakar, hal tersebut dianggap tidak menyulitkan.

Hasil panen labu madu, dijual ke sejumlah pengepul di wilayah Serang, Banten, selanjutnya dibawa ke Jakarta dan Tangerang. Selain memenuhi kebutuhan pasar tradisional, buah labu madu yang telah disortir, bisa memasuki pangsa pasar modern.

Pola bertani yang baik dan sehat dilakukan, agar produknya bisa memenuhi pasar modern. “Syarat untuk bisa dijual di swalayan tentunya pola penanaman harus terjaga, kondisi fisik serta ukuran harus terjaga,” pungkas Robiin.

Baca Juga
Lihat juga...