Kesadaran Masyarakat Sikka Mengelola Sampah Belum Baik

Editor: Mahadeva WS

135

MAUMERE – Kesadaran warga Kota Maumere dan sekitarnya mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya, masih jauh dari harapan. Hal tersebutlah yang mendorong Bank Sampah Flores menggelar World Clean Up Day.

“Lembaga kami telah banyak melakukan edukasi, namun kesadaran di masyarakat untuk bersama memerangi sampah belum juga tumbuh,” sesal Wenefrida Eufodis Susilowati, pendiri Bank Sampah Flores, Rabu (3/10/2018).

Dikatakan Susi, pihaknya telah banyak melakukan sosialisasi, edukasi dan mendaur ulang sampah, dengan sasaran pelajar mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga mahasiswa. Kegiatan juga dilakukan kepada warga masyarakat, melalui lembaga pemerintahan desa dan kelurahan. “Miris melihat kesadaran masyarakat yang belum membuang sampah pada tempatnya. Meski berbagai usaha telah dilakukan, belum mampu merubah perilaku masyarakat. Mengatasi permasalahan sampah di kota Maumere dan Flores bukan hanya ada di pundak Bank Sampah Flores saja,” tandasnya.

Semua pihak, mulai dari masyarakat, agama, lembaga adat, lembaga sosial, dan lembaga pendidikan, sudah seharusnya ikut berperan dalam membangun perilaku tersebut. Pemerintah seharusnya berada di barisan terdepan, dalam mengatasi permasalahan sampah. Namun faktanya, peran pemerintah masih belum berjalan maksimal. “Halaman kantor pemerintah pun masih banyak sampah bertebaran dan hampir tidak ada tempat sampah di lingkungan kantor,” sesal Susi.

Susi menyebut, aksi bersih-bersih yang melibatkan banyak orang, tidak terlalu efektif bila dilihat dari aksinya. Namun, minimal pesan yang ingin disampaikan bisa tertanam di dalam pikiran dan ditindaklanjuti lewat perbuatan. “Seper sepuluh saja yang menjalankan pesan yang kami sampaikan, tentu sudah sangat bagus. Sulit memang merubah kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan namun kita tetap harus berusaha terus menerus,” tegas Susi.

Kepala SMPK Frateran Maumere, Frater Herman Yosef, BHK – Foto Ebed de Rosary

Kepala SMPK Frateran Maumere, Frater Herman Yosef, BHK, mengaku senang sekolahnya dilibatkan dalam aksi bersih-bersih. Hal itu membantu anak didiknya, bisa mengetahui dan memahami persoalan sampah. “Ini penting agar sejak duduk di bangku sekolah, kebersihan harus selalu ditanamkan. Sekolah kami, selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan menyediakan tempat-tempat sampah di depan kelas, halaman dan juga taman,” ungkapnya.

Kelas yang tidak menjaga kebersihan, dikenakan hukuman sehari melaksanakan kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan pendingin ruangan. Saat apel pagi pun kebiasaan buruk ini diumumkan. “Sekolah harus keras, sebab mengharapkan masyarakat berubah, itu sulit. Untuk itu, para pelajar harus jadi panutan apalagi umur mereka masih muda dan menjadi generasi masa depan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...