Kondisi Internet di Indonesia Dalam Kondisi Buruk

Editor: Koko Triarko

181
Ketua IDSIRTII/CC, Rudi Lumanto -Foto: Sultan Anshori.
BADUNG – Berdasarkan monitoring data dan analisa, Lembaga Pusat Koordinasi dan Respon Insiden Siber Jepang JPCERT/CC, mengungkapkan kondisi internet Indonesia masih masuk kategori buruk.
Analis keamanan informasi Katsuhiro Mori dari Lembaga Pusat Koordinasi dan Respon Insiden Siber Jepang JPCERT/CC, menyebut, hal itu didukung oleh banyaknya open DNS Server dan Open SMNP Server yang beroperasi di Indonesia.
“Kondisi kesehatan internet di Indonesia tergolong buruk dan menunjukkan risiko yang tinggi,” katanya, dalam paparannya di acara CodeBali, Legian, Kuta, Jumat (12/10/2018).
Katsuhiro Mori menambahkan, kelemahan di open DNS Server dan Open SMNP Server dapat dimanfaatkan pihak yang ingin berbuat jahat untuk menyerang, bahkan mengamplifikasi serangan. Akibatnya membawa terjadinya serangan DDoS.
“Dari hasil monitoring itu, celah kotor internet Indonesia banyak ditemukan di alamat IP perusahaan-perusahaan layanan internet (ISP), perusahaan swasta, institusi pemerintahan pusat hingga daerah serta perguruan tinggi negeri dan swasta,” katanya.
Sementara itu, Ketua IDSIRTII/CC, Rudi Lumanto, menuturkan, sebenarnya nilai buruk di dua indikator tersebut bukan satu-satunya gejala potensi terjadinya bencana siber di Indonesia.
Ada banyak indikator lain yang lebih mengerikan, di antaranya semakin banyaknya jumlah perangkat IT yang networked ready, termasuk di dalamnya perangkat IoT yang diprediksi ada sekitar 30 miliar pada 2020.
“Selain itu juga beredarnya aplikasi yang 95 persen memiliki kerentanan, dan kemampuan manusia sendiri yang semakin sulit mengejar dan menutup banyaknya potensi ancaman. Upaya yang sama dan dilakukan selama ini tidak akan mampu. Karena itu, kita perlu segera mencari langkah terobosan dan revolusioner, agar terhindar dari bencana siber,” kata Rudi.
Kata Rudi, sangat berbahaya jika kita terus membiarkan kondisi seperti ini, sementara kita merasa aman-aman saja. Sebegitu kritisnya kondisi ini, mengutip ungkapan Direktur FBI, Rudi mengatakan hanya ada dua tipe perusahaan di dunia siber, perusahaan yang pernah diretas dan perusahaan yang tidak tahu, bahwa dirinya pernah diretas.
Hal itu tentu akan menjadi bom waktu bagi dunia digital nasional. Jika bom waktu bencana siber meledak, maka dapat dipastikan hal itu akan merugikan para pelaku industri digital, serta masyarakat penggunanya, sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Perlu segera dilakukan langkah-langkah terobosan dari mulai perbaikan kerangka hukum, kelembagaan, kerja sama dan peningkatan kapasitas manusia secara masif,” pungkas Rudi.
Baca Juga
Lihat juga...