Korban Gempa di Sigi Butuh Obat-obatan

Editor: Mahadeva WS

289

SIGI – Warga terdampak gempa dan tsunami Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong dan Pasang Kayu, hingga Sabtu (13/10/2018) masih banyak yang tinggal di sejumlah titik pengungsian. Posko pengungsian yang dibuat di lapangan, berupa tenda, seperti di titik pengungsian di depan Kodim 1306/Donggala.

Setelah penetapan masa tanggap darurat bencana tahap kedua, yang ditetapkan dua pekan sejak Sabtu (13/10/2018) hingga Minggu (28/10/2018) mendatang, warga mulai melakukan perbaikan rumah secara swadaya. Dan selama proses perbaikan dilakukan, warga tetap tingal di tenda pengungsian.

Warga di Desa Omo,Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah membangun tenda darurat disamping rumah yang ambruk [Foto: Henk Widi]
Tinggal di tenda seperti yang dialami Heni, warga Desa Sulasa, Kecamatan Kulawi yang rumahnya rusak berat karena roboh diguncang gempa. Tinggal di tenda, membuat Dia rentan terpapar penyakit, akibat kondisi cuaca tidak bersahabat. “Saya mengalami mual, pusing serta gatal-gatal karena gigitan nyamuk. Obat dari tim medis yang melakukan pemeriksaan kesehatan, sudah habis,” ujar Heni salah saat ditemui Cendana News, Sabtu (13/10/2018).

Heni menyebut, sangat memerlukan bantuan obat-obatan, sanitasi, tenda, selimut, kelambu serta peralatan anak-anak. Dia menyebut, sudah mendapatkan bantuan sembilan bahan pokok (Sembako) berupa mie instan, beras, serta bahan makanan lain. Dua pekan pasca gempa, hujan yang melanda, membuat warga kedinginan saat beristirahat di dalam tenda. Dan selama dua pekan terakhir, sang suami disibukan dengan upaya membuat rumah sementara dari bambu, agar Dia dan keluarganya tidak tinggal di tenda.

Warga lainnya Nurhayati, bersama tiga anaknya juga tidur di tenda. Mereka masih bisa bertahan karena situasi yang belum memungkinkan. Kini ketiga anak dari Nurhayati mulai kerap mengalami demam, batuk, pilek. Kondisi kurang nyaman bagi anak-anak yang tinggal di tenda, dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan psikologis anak. “Anak anak mulai sering nangis karena minta tidur di rumah, namun kondisi rumah masih hancur, perlu saya jelaskan, apalagi gempa skala kecil masih kerap terjadi,” beber Nurhayati.

Nurhayati menyebut, Emilia anaknya yang duduk di bangku kelas dua SD Inpres Salua mengalami batuk pilek. Obat-obatan yang diberikan sudah habis. Dia berharap, ada bantuan rumah dari kayu dengan konstruksi bambu dan atap asbes bantuan dari tetangga.

Kebutuhan obat dan bantuan psikologis, diberikan oleh tim medis dari Yakkum,Yogyakarta. Tim medis yang datang, selain melakukan pemeriksaan kesehatan, juga melakukan trauma healing, kepada anak-anak yang belum bisa bersekolah karena bangunan sekolah yang rusak. Trauma healing dilakukan dengan mengajak anak-anak bermain, menggambar serta membaca buku cerita bergambar. Kondisi tersebut cukup membantu psikologis anak-anak terdampak gempa.

Udin, salah satu warga Desa Talise, Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah berbincang dengan H.Muhamad Yarman (topi kuning) menyampaikan keluhan akibat distribusi bantuan yang tidak merata [Foto: Henk Widi]
Pengungsi lain, Udin, warga Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengaku, masih sangat membutuhkan tenda, obat-obatan dan peralatan untuk merawat bayi. Rumahnya yang berada di dekat Pantai Talise hancur. Udin harus mencari obat di sejumlah warung yang sudah buka. Keluhan tersebut disampaikan juga kepada tim Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto. “Kami mendatangi sejumlah posko namun untuk mendapatkan obat memang sulit sehingga harus mencari ke posko kesehatan di kota,” terang Udin.

H.Muhamad Yarman, Sekretaris YDGRK Siti Hartinah Soeharto menyebut, pihaknya berkoordinasi dengan Yayasan Damandiri, Dharmais dan DAKAB. Bantuan sembako telah diberikan dan atas permintaan sejumlah posko melalui posko Berkarya Peduli. Tim yang bekerjasama dengan purna utama kirab remaja nasional, yang langsung dibawa oleh Yosef Falentinus, membawa obat obatan yang dibutuhkan para pengungsi. Bantuan tersebut merupakan bantuan tahap pertama, dengan harapan bisa meringankan beban korban gempa dan tsunami.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban jiwa akibat gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah 2.073 orang. Korban meninggal di Palu 1.663 orang, di Kabupaten Donggala sebanyak 171 orang, di Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 223 orang dan Pasangkayu di Sulawesi Barat sebanyak 15 orang.

Selain korban meninggal, korban gempa bumi dan tsunami mengalami luka sebanyak 10.679 orang, yang terdiri dari 2.549 orang mengalami luka berat, 8.130 orang mengalami luka ringan. Pengungsi sebanyak 8.725 orang, 78.994 orang diantaranya tersebar di 112 di Sulawesi Tengah.

Salah satu lokasi yang dikunjungi tim YDGRK Siti Hartinah Soeharto adalah Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Yohanes, Kepala Desa Salua menyebut, 373 kepala keluarga dengan 1.120 jiwa menjadi korban. Yang mengalami luka berat ada 25 orang, 162 rumah rusak berat. Korban meninggal delapan orang.

Baca Juga
Lihat juga...