Kreasi Pakaian Tradisional Khas Lampung, Beri Penghasilan Tambahan

Editor: Makmun Hidayat

177

LAMPUNG — Pakaian tradisional Lampung dengan beragam motif termasuk aksesoris pendukung semakin diminati oleh beragam kalangan.

Febrial mengenakan tukus dan kawai balak, usaha kreasi topi dan kaos khas Lampung memberdayakan ibu rumah tangga di Desa Kuripan,Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Febrial (34) salah satu pemilik usaha kecil pembuatan topi khas Lampung salah satunya tukus dan kaos tradisional motif khas Lampung atau dikenal kawai balak. Topi dan kaos tersebut diakui Febrial memiliki keistimewaan memiliki bahan dan aksesoris tapis dengan berbagai warna dan motif.

Berkat tangan terampil Febrial dan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya, usaha tersebut kini semakin berkembang. Sebagai sebuah usaha kecil dengan memanfaatkan kain khas Lampung, Febrial menyebut semula ingin memperlihatkan ciri khas daerah melalui sebuah pakaian, aksesoris yang bisa dikenakan dalam acara formal maupun nonformal.

Topi dan kaos motif tenunan Lampung dalam tapis bahkan dibuat sebagai pekerjaan sampingan sekaligus pemberdayaan bagi sejumlah ibu rumah tangga di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

“Berbagai pilihan pakaian serta aksesoris saat ini mulai beralih ke sesuatu yang modern, namun pada saat tertentu saya melihat tren penggunaan pakaian dan aksesoris tradisional mulai meningkat,” terang Febrial salah satu pemilik usaha pembuatan topi tukus dan kaos motif tapis saat ditemui Cendana News, Selasa (9/10/2018).

Kaos kawai balak, kaos dengan motif tapis Lampung yang juga dibuat oleh bersama tukus – Foto: Henk Widi

Febrial menyebut permintaan akan tukus dan kaos motif Lampung awalnya hanya berjumlah puluhan. Seiring berjalannya waktu, Febrial mengungkapkan kerajinan yang merupakan salah satu bagian dari tim pelaksana inovasi desa (TPID) menjadi andalan bagi desa tempat tinggalnya.

Beberapa acara adat, pemerintahan bahkan kini warga kerap mengenakan tukus sertai kawai balak seperti mengenakan baju batik. Upaya melestarikan pakaian tradisional untuk memberdayakan wanita di sekitar tempat tinggalnya ikut mendukung perkembangan usaha yang dimilikinya.

Pembuatan kerajinan tradisional dengan memanfaatkan keterampilan tangan melalui tekhnik menjahit kain disebut Febrial semula dilatihkan kepada dua orang ibu rumah tangga. Kini Febrial memastikan ada puluhan ibu rumah tangga yang kerap membantu menyelesaikan pesanan terutama pembuatan tukus.

Ia bahkan menyebut sudah berhasil membuat kerajinan topi tukus berjumlah sekitar 1.500 tukus dan ratusan kawai balak. “Pemesan tukus dan kawai balak diantaranya perseorangan,instansi pemerintah serta komunitas pecinta kerajinan tradisional,” beber Febrial.

Proses pembuatan secara manual disebutnya dikerjakan di rumahnya lengkap dengan bahan baku kain, benang, jarum. Setelah semua bahan jadi topi tukus, kawai balak akan disiapkan dalam lemari khusus sembari menunggu pemesan dengan berbagai ukuran.

Sejumlah tukus dan kawai balak bahkan kerap dibuat by order atau berdasarkan pesanan. Pemesan diantaranya bisa meminta beberapa buah bahkan puluhan diantaranya untuk keperluan panitia pernikahan atau khitanan.

Memulai usaha sejak awal Mei tahun 2018 dengan jumlah tukus mencapai ribuan serta kawai balak, ia sudah bisa mendapatkan omzet cukup lumayan. Harga topi tukus diakuinya dijual mulai dari Rp35.000, Rp45.000, Rp75.000 hingga Rp 150.000 tergantung ukuran, motif dan tingkat kesulitan pembuatan.

Produksi tukus mencapai sekitar 1.500 buah dengan rata rata harga Rp75.000 ia menyebut usaha memanfaatkan kain tradisional khas Lampung tapis tersebut bisa memberinya omzet sekitar Rp100juta lebih dalam empat bulan terakhir.

Bahan kain disebut Febrial merupakan kain abung, kain tapis yang dibeli dari sejumlah pengrajin. Beberapa bahan diakuinya dibeli dengan harga permeter mulai dari Rp25.000 hingga Rp75.000 permeter. Semua bahan tersebut dibuat menjadi kerajinan melibatkan sejumlah ibu rumah tangga disela sela pekerjaan mengurus anak anak dan suami.

Hasilnya bahkan bisa dinikmati oleh keluarganya serta sejumlah ibu rumah tangga yang membuat kerajinan tersebut. Sebagian hasil pembuatan tukus,kawai balak disebut Febrial dibeli langsung ke rumahnya dan sebagian pembeli memanfaatkan sistem jual beli online.

Roihana (48) dan Ida (40) ibu rumah tangga di Desa Kuripan menyebut pada awalnya hanya bisa membuat beberapa tukus dan kawai balak. Seiring perjalanan waktu tingkat kemahiran dalam membuat tukus berbahan kain tradisional semakin terasah. Roihana bahkan menyebut ia bisa membuat tukus hingga ratusan buah dalam satu hingga dua pekan sehingga ia bisa memperoleh hasil Rp500ribu dengan asumsi persatu topi tukus ia diberi upah Rp5.000.

“Semua bahan dan alat sudah dipersiapkan jadi para ibu rumah tangga hanya dibekali pelatihan sehingga bisa membuat tukus dengan cepat,semakin banyak membuat hasilnya semakin besar,” tutur Roihana.

Roihana (kiri) dan Ida (kanan) menyelesaikan proses pembuatan tukus – Foto: Henk Widi

Roihana menyebut ada beberapa jenis model tukus yang dibuat diantaranya bentuk ikat,kopiah dikombinasikan dengan kain inuh. Beberapa motif bahkan memiliki warna yang berbeda diantaranya biru, merah, hitam, kuning, putih.

Berbagai jenis tukus yang dibuat sekaligus menyesuaikan minat dan bentuk kepala pemakai sehingga pembeli kerap mencoba terlebih dahulu sebelum membeli. Roihana menyebut saat ada acara khusus dengan jumlah pesanan yang cukup banyak sejumlah ibu rumah tangga bahkan bisa memperoleh hasil sekitar Rp500ribu hingga Rp1juta dalam satu bulan.

Ida, salah satu ibu rumah tangga yang ikut membuat tukus dan kawai balak menyebut tingkat kerumitan terlihat saat proses awal pembuatan. Kini Ida bisa membuat tukus dengan cepat bahkan dalam sehari puluhan tukus bisa dibuat sehingga ia bisa mendapatkan tambahan hasil dan uang jajan bagi anaknya.

Hasil upah pembuatan tukus disebut Ida kerap ditunggu sampai jumlahnya mencapai lebih dari Rp1juta sehingga dirinya bisa mendapatkan tambahan penghasilan dengan tetap bisa menjaga anaknya.

Minat akan tukus yang tinggi diakui oleh Sandi (23) salah satu pemuda dari Lampung Selatan yang sudah membeli tukus hampir tiga kali. Topi tukus tersebut diakuinya merupakan pesanan dari sejumlah kawan yang tertarik mengenakan tukus sebagai salah satu topi khas laki laki Lampung.

Ia menyebut penggunaan yang fleksibel dalam acara santai maupun resmi membuat tukus semakin diminati. Dipadukan dengan pakaian adat maupun baju batik nasional, tukus bisa menambah kepercayaan diri sekaligus melestarikan budaya dalam bentuk kain.

“Saya bangga karena pakaian tradisional jenis kawai balak serta tukus masih dilestarikan dan masih cocok dipakai meski zaman modern,” beber Sandi.

Harga yang terjangkau disebut Sandi dengan berbagai motif membuat dirinya berencana membeli sebagai koleksi. Sebab dengan memiliki sejumlah tukus yang beragam warna dan motif ia bisa mengenakan tukus,kawai balak pada saat tertentu.

Pada acara acara adat ia memastikan masih menggunakan tukus dan kini tukus mulai dikenal di wilayah Lampung berkat produksi yang berkelanjutan dilakukan oleh Febrial. Sandi bahkan menyebut kerap mengenakan tukus pada acara khusus dan memajangnya di jejaring sosial Facebook sehingga semakin banyak orang berminat akan tukus dan kawai balak.

Baca Juga
Lihat juga...