Kue Mangkok dan Mutiara Buatan Mama Dete

Editor: Koko Triarko

192
LARANTUKA – Menjual kue Mangkok dan Mutiara, sudah menjadi pekerjaan tetap yang dilakoni Mama Dete, sapaan Dete Ritan, perempuan paruh baya di Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur.
“Saya setiap hari selalu menjual kue mangkok dan mutiara yang dibuat sendiri dari bahan lokal yang ada, untuk menambah kebutuhan keluarga,” sebut Dete Ritan, Sabtu (6/10/2018).
Dete yang ditemui Cendana News saat menjual kue di lokasi pementasan teater dengan lakon Raja Basa Tupa di areal kebun di kampung Leworahang, mengaku selama penyelenggaran festifal dirinya mengantongi keuntungan sekitar 10 kali lipat dari hari biasa.
“Kalau setiap hari, paling saya mendapat untung Rp20 ribu sampai Rp30 ribu saja, sementara kemarin saja saat pembukaan festifal Nubun Tawa di lapangan desa Bantala, kue saya laku hingga Rp1 juta,” terangnya.
Kue mutiara atau semacam lemet yang dibuat dari singkong parut dan kelapa yang dibungkus di daun pisang. -Foto: Ebed de Rosary
Dari penjualan tersebut, terang Dete, dirinya mendapatkan keuntungan Rp300 ribu dan di hari kedua penyelenggaraan festifal ini sejak pagi dirinya sudah mengantongi penghasilan hingga Rp700 ribu pada sekitar pukul 11.30 WITA.
“Hari ini mungkin keuntungan yang saya dapat juga lumayan besar. Besok di hari terakhir festifal, saya juga akan menjual kembali di Leworahang dan Kawaliwu,” paparnya.
Kue mutiara seperti lemet, tutur Dete, dibuat dari singkong yang diparut hingga halus, lalu dicampur dengan kelapa parut dan diremas di wadah hingga campuran merata dan lembek.
“Setelah merata, campuran kelapa dan singkong parut tadi dimasukkan ke dalam daun kelapa, lalu dikukus di dandang hingga matang dan diangkat,” ungkapnya.
Sanitaria Koten, warga Riangkotek lainnya yang setiap hari berjualan kue bersama Dete, menambahkan, dirinya juga mendapatkan penghasilan yang lumayan dari menjual kue mangkok.
“Kue ini saya buat dari tepung beras, beras ditumbuk di Lesung hingga halus dan diayak hingga menjadi tepung. Setelah itu dicampur dengan gula Aren atau gula pasir secukupnya. Masukan sedikit air lalu terus diremas hingga campuran merata,” ungkapnya.
Adonan kue tersebut, lanjut Sanitaria,  dimasukkan ke dalam cetakan dari plastik berbagai bentuk yang biasa dinamakan mangkok, lalu dikukus di dandang hingga matang, terus diangkat dari cetakan.
Dete Ritan, warga Desa Riangkotek, kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, berjualan kue setiap hari. -Foto: Ebed de Rosary
“Kue mangkok ini saya jual Rp1.000 dua buah. Setiap hari berjualan keliling kampung dan bisa meraup keuntungan Rp20 ribu sampai Rp300 ribu saja,” bebernya.
Sementara Dete mengaku menjual kue mutiara seharga Rp1.000 per buah, di mana modal untuk memulai usaha pembuatan kue dipinjamnya dari koperasi sebesar Rp500 ribu.
“Dulu saya merantau ke luar daerah, tetapi setelah kembali ke kampung tahun 2000, saya mulai berjualan kue mangkok dan lemet bersama Sanitaria Koten untuk menambah penghasilan keluarga,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...