Kue Rangi, Kian Terpinggirkan di Kota Bekasi

Editor: Mahadeva WS

165

BEKASI – Kue Rangi, makanan tradisional asli Betawi, pernah menjadi idola semua kalangan, pada masa jayanya dulu di Kota Bekasi. Tetapi saat ini, makanan tradisional tersebut, hampir tinggal cerita, dan boleh dibilang cukup sulit dijumpai di Kota Bekasi.

Tetapi, oleh Bang Ucak Rangi, begitu Dia akrab disapa, kue Ranggi tetap bertahan. Ucak berdagang keliling, menjajakan Kue Rangi buatannya, memutari kelurahan-kelurahan di Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi.

“Kue Rangi, sudah menjadi makan unik sekarang. Tidak jarang, ibu-ibu selalu membeli, mungkin mereka mengenang masa kecilnya dulu. Saya sudah 12 tahun menjalani jualan Kue Rangi berkeliling dari kampung ke kampung,” ungkap pemilik nama asli Ucak Sutisna, kepada Cendananews, Sabtu (13/10/2018).

Ucak menyebut, saat ini penjaja Kue Rangi terbilang langka. Menurutnya, hanya ada beberapa orang saja, yang berdagang berkeliling di wilayah Kecamatan Bekasi Timur. Padahal, Kue Rangi masih diminati, tidak hanya dikalangan anak-anak tetapi juga orang tua. “Saya tetap bertahan, karena ini jenis makanan unik sekarang. Dan peminatnya masih lumayan banyak, di wilayah perkampungan orang Betawi asli tentunya yang telah lama mengenal Kue Rangi,” paparnya.

Kue Rangi – foto M Amin

Kue Rangi, memiliki bahan dasar berupa kelapa parut, yang dicampur dengan sedikit air garam sebagai pemberi rasa gurih. Campuran tersebut dimasak dengan cara dipanggang menggunakan loyang kecil, berbahan bakar kayu bekas bangunan. Ucak mengaku, mampu menjual tiga hingga lima kilogram kue rangi setiap harinya. Omset itupun akan meningkat apabila cuaca hujan atau dingin. Ucak berjualan mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Berkeliling sampai ke kelurahan Jatisari dari Kelurahan Jatiasih. Kue Rangi yang dijajakan, dijual Rp.3.000 perbarisnya.

Bahan dasar Kue Rangi disiapkan sendiri oleh Ucak setiap harinya. Mulai dari parutan kelapa, gula aren asli, dicampur tepung tapioka, ditambah tepung dari aren. Hingga memberikan citarasa berbeda. Dinamakan Kue Rangi, karena dimasaknya dengan cara dibakar. Saat kelapa yang sudah tua yang menghasilkan parutan kasar dibakar, akan mengeluarkan wangi, maka dibilang Kue rangi khas betawi.

Ucak mendapatkan penghasilannya lumayan dari usahanya tersebut. Sehari Dia bisa mengantongi omset Rp100 ribu. Penjualan Rangi ini tergantung cuaca, saat musim dingin, omset akan meningkat.” Biasanya bisa mencapai lima kilogram sehari, tapi saat musim panas begini ya paling tiga kilogram habisnya sehari,” pungkas Ucak.

Baca Juga
Lihat juga...