Kulminasi Matahari di Equator Sebabkan Suhu Panas di Beberapa Daerah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

238

JAKARTA — Panas yang dirasakan masyarakat Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara pada beberapa hari belakangan ini, dinyatakan oleh Kepala Bidang Manajemen Operasi Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ariska Rudyanto S.Si, Dipl.Tsu, M.Sc sebagai sesuatu hal yang alamiah.

Ariska menyebutkan, fenomena ini merupakan akibat dari gerak semu matahari yang berada di sekitar khatulistiwa dan Selatan Khatulistiwa, sehingga radiasi yang masuk cukup optimal.

Ditambah dengan aliran massa udara dingin dan kering yang bergerah dari Australia menuju wilayah Indonesia dengan kelembaban udara yang kurang dari 60 persen di ketinggian 3.000 meter dan 5.000 meter dari permukaan.

Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto M.Sc, yang ditemui Cendana News secara rinci menjelaskan kondisi yang sedang dihadapi oleh Indonesia ini.

Suhu yang panas, angin yang bertiup cukup kencang, tidak hujan dalam waktu yang lama, permukaan tanah yang kering dan kelembaban udara yang kurang menjadi pemicu tingkat ketidaknyamanan tubuh terhadap udara lingkungan. Penambahan panas maximum siang hari tersebut, selain karena radiasi langsung matahari yang melimpah karena posisi kulminasi gerak semu matahari yang pada bulan Oktober tepat berada di atas kepala Jakarta.

“Juga merupakan dampak musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara,” kata Siswanto, Rabu (10/10/2018).

Proses kulminasi ini digambarkan Siswanto sebagai suatu kondisi matahari berada tepat di posisi lintang, tegak lurus di atas kepala. Yang menyebabkan setiap benda seakan-akan tidak memiliki bayangan.

“Kulminasi Matahari di bulan ini menyebabkan pancaran radiasi langsung (penyinaran) Matahari terjadi lebih maksimal dan menyebabkan penguapan tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Semakin maksimal radiasi yang diterima permukan bumi, akan semakin besar pula radiasi balik yang dipantulkan Radiasi balik inilah yang kemudian kita rasakan sebagai panasnya udara permukaan. Umumnya hal ini menyebabkan kondisi gerah dan terik yang menyengat ke kulit,” ujar Siswanto.

Data klimatologi 30 tahun BMKG (1981-2010) mencatat bahwa suhu rata-rata dan suhu maksimum yang terjadi siang hari di kota-kota besar di Pulau Jawa meningkat dari bulan Agustus hingga bulan November, puncak suhu tertinggi umumnya terjadi di bulan Oktober.

“Fenomena ini terjadi sebagai akibat revolusi bumi mengitari matahari yang mengakibatkan gerakan semu matahari. Karena posisi geografis Indonesia berada di sebelah utara dan selatan ekuator maka kita akan mengalami kulminasi ini dua kali dalam setahun di beberapa wilayah,” kata Siswanto melanjutkan pemaparannya.

Di Pulau Jawa, kulminasi utama terjadi juga pada bulan Oktober ini. BMKG telah mengeluarkan rilis, misalnya di Jakarta, kulminasi utama terjadi pada 9 Oktober pukul 11.40 WIB dan di Serang pukul 11.42 WIB.

Kulminasi diprediksi akan terjadi di Bandung pada tanggal 11 Oktober pukul 11.36 WIB, di Semarang pukul 11.25 WIB. Di Surabaya, kulminasi dapat dirasakan nanti pada 12 Oktober 11.15 WIB dan di Jogjakarta pada 13 Oktober pukul 11.24 WIB.

Kulminasi ini lah yang menyebabkan suhu di bulan Oktober ini mencapai puncaknya. Tapi menurut Siswanto, belum melampaui suhu maksimum yang pernah tercatat. Walaupun menurut data suhu global dari Badan Adminitrasi Laut Atmosfer Amerika, NOAA, 2018 berpeluang menjadi tahun terpanas keempat yang tercatat dalam data historis suhu global setelah tahun terpanas pada 2015, 2016 dan 2017.

“Hingga hari ini, pencatatan suhu maximum di beberapa kota di Jawa belum menunjukkan indikasi kejadian suhu ekstrem, yaitu lebih dari 35°C atau 3°C lebih panas dari rata-ratanya dan terjadi minimal 3 hari berturut-turut. Di Jakarta, suhu maximum terjadi justru pada tanggal 7 kemarin yaitu 35.4°C tercatat di Kemayoran. Di Semarang juga terjadi pada tanggal 7 sebesar 36.7° dan di Bandung terjadi kemarin 32.4°C,” ujar Siswanto.

Baca Juga
Lihat juga...