Leo Tenada, Panah Tradisional Lamatou

Editor: Satmoko Budi Santoso

261

LARANTUKA – Puluhan laki-laki mengenakan Nowing (sarung tenun khusus laki-laki) dan mengenakan kaus putih singlet, bersiap di sisi selatan lapangan sepak bola desa Bantala kecamatan Lewolema.

Mereka memegang busur dan anak panah di tangan kanan, bersiap melakukan atraksi memanah yang menjadi tradisi bagi masyarakat Lamatou, Desa Painapan, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (Flotim).

“Leo Tenada merupakan seni memanah tradisional yang dijalankan sebagai ungkapan rasa syukur akan proses pembangunan Koko Padak Bale atau rumah adat,” sebut Petrus Eban Tukan, salah seorang pemanah, Jumat (5/10/2018).

Aktivitas memanah, kata Petrus, juga dilakukan untuk menguji keterampilan ataupun ketangkasan bagi anak-anak suku tertentu, terutama laki-laki apabila akan berlaga di medan perang.

Bupati Flotim (baju hitam kedua kiri) bersama wakil bupati Flotim (baju hitam kanan) sedang melakukan kegiatan memanah Padu. Foto : Ebed de Rosary

Sebelum proses Leo Tenada atau memanah terjadi, terangnya, terlebih dahulu dilakukan tarian Hedung atau semacam tarian Tandak oleh peserta dari suku Lamahewe sebagai Jutera atau anak yang terlebih dahulu memanah.

“Setelah Jutera memanah, baru diikuti oleh anak-anak suku lain hingga semua anak suku saling berebutan memanah. Sambil terus diiringi oleh suara tabuhan gong dan gendang,” terangnya.

Paulus Ike Ruron, salah seorang tetua asal Lamatou yang ikut memanah menjelaskan, sebelum proses Leo Tenada dijalankan, orang tua Lewotana membuat kesepakatan bersama menentukan salah satu anak suku memasang Padu atau obyek yang menjadi sasaran memanah.

Padu atau objek yang berasal dari bambu ditancapkan di tengah lapangan, kata Paulus, diibaratkan musuh yang dimanifestasikan dalam kayu.

“Kayu atau padu yang dipasang bukanlah kayu yang asal dipilih, namun melalui perenungan mendalam. Juga merupakan harga diri seorang anak suku tertentu yang memasang padu atau obyek tersebut,” tuturnya.

Dalam aktivitas memanah, tambah Paulus, akan dilihat dari cepat atau lambatnya anak panah mengenai sasaran. Setiap orang berlomba-lomba memanah Padu tersebut.

Apabila salah satu anak panah sudah mengenai di kaki, tengah atau bagian atas (kepala) dari Padu atau kayu yang berada di ujung tiang padu, maka proses memanah berakhir. Orang yang mengenai Padu dieluk-elukan bahkan digotong tanda kebanggaan.

Bila anak panah mengenai Padu, maka musuh tersebut sudah dilumpuhkan. Tarian kemenangan mengiringi semua rangkaian tersebut.

“Seiring waktu dengan perkembangan arus globalisasi, proses Leo Tenada perlahan mengalami gerusan. Semoga dengan momen Nubun Tawa membangkitkan semangat terutama untuk generasi muda yang sedang tumbuh dengan memberikan praktik agar tidak hanya menjadi cerita,” pungkasnya.

Disaksikan Cendana News, Padu ditancapkan di bagian ujung bambu, setinggi sekitar 5 meter dan dipasang di tengah lapangan di sisi utara, berjarak sekitar 50 meter dari para pemanah yang berada di sisi selatan lapangan.

Para pemanah berlomba-lomba memanah, dan hanya ada 3 anak panah yang mengenai dan menancap di Padu. Dalam atraksi ini, semua tamu dan undangan diberi kesempatan memanah menggunakan busur dan anak panah tradisional.

Baca Juga
Lihat juga...