Lestarikan Budaya, Ibu Tien Soeharto Raih Penghargaan Cipta Pratama

Editor: Mahadeva WS

168

JAKARTA – Mantan Manager Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Masud Thoyib Jayakarta Adiningrat menyebut, Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, sosok pemakarsa TMII, mendapatkan penghargaan dari Mendagri Amir Mahmud, saat TMII diresmikan pada 1975.

Mantan Manager Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Masud Thoyib Jayakarta Adiningrat pada talkshow bertajuk “Ibu Tien dan Pemikirannya Tentang Museum di TMII,” di Bay Al Qur’an dan Museum Istiqlal TMII,Jakarta, Minggu (28/10/2018). Foto : Sri Sugiarti.

TMII yang diresmikan oleh Presiden ke-2 Indoensia Jenderal Besar HM Soeharto, menjadi museum miniatur Indonesia. “Ibu Tien Soeharto mendapat penghargaan, gelar Cipta Pratama dari Menteri Dalam Negeri, Amir Mahmud,” kata Masud pada talkshow bertajuk, Ibu Tien dan Pemikirannya Tentang Museum di TMII, Minggu (28/10/2018).

Dia menjelaskan, Cipta bermakna, sosok yang mampu mewujdukan mimpinya.Sedangkan Paramitha berarti, ilmu pengetahuan yang luar biasa. TMII, yang diprakarsai Ibu Tien Soeharto, proses pembangunannya, tanpa disadari membangun suatu kebudayaan bangsa dan wawasan ilmu pengetahuan. “Sehingga cita-cita Beliau, TMII adalah gambaran atau representasi dari masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang bagi bangsa Indonesia,” jelasnya.

Oleh sebab itu dengan adanya masa lalu yang tercermin dari ide cemerlang Ibu Tien Soeharto tersebut, kemudian dibangun museum-museum yang modern di TMII. Masa kini, bermakna kemajuan yang  sedang berjalan dimasa kini, terutama dekade 1975-1996.

Di dalam IPTEK, dibangun, satu museum yang sesungguhnya sangat luar biasa waktu itu. Yaitu museum nuklir, tapi kemudian supaya tidak terkesan angker. Karena yang dimaksud Ibu Tien Soeharto adalah, tentang kemajuan bangsa mengikuti modernisasi,  tapi yang bersifat positif. Misalnya, nuklir untuk tenaga listrik, tenaga air dan kebutuhan lainnya. Dari ide tersebut, dibangun Museum Energi Baru. Yang sampai hari ini, dikenal dengan Museum Listrik dan Energi Baru TMII.

Contoh lain adalah, Museum Olahraga, dengan desain gedung berbentuk bola besar. Ini adalah ide cemerlang Ibu Tien, yang dituangkan dalam upaya pelestarian budaya olahraga Indonesia, yang pernah berjaya harus senantiasa sejarahnya terbingkai.  Begitu pula dengan Museum Purna Bakti Pertiwi, dengan desain berbentuk tumpeng. Museum ini menampilkan ragam cinderamata dari beberapa negara yang didapat Pak Harto dan Ibu Tien, ketika berkunjung ke berbagai negara. “Ibu Tien adalah manusia yang sangat langka, kalau menurut saya. Karena pemikiran Beliau sangat maju, tapi tetap lugu, apa adanya,” jelas Mas’ud.

Pemikiran lain adalah Museum Keprajuritan. Kala itu, di awal peletakan batu pertama pembangunan Museum Keprajuritan, Ibu Tien berpesan, kepada Jenderal LB Moerdani, agar museum tersebut bisa selesai dibangun dalam waktu dua tahun. Dalam waktu dua tahun, Museum Keprajuritan dengan desain bangunan segi lima berdiri megah di area TMII. “Itulah contoh tekad mulia Ibu Tien Soeharto, dalam mewujudkan pelestarian budaya dan sejarah bangsa,” ujarnya.

Ide cemerlang lain adalah, pembangunan Plaza Tugu Api Pancasila.  Tugu Api Pancasila, bentuknya keris yang disterilisasikan. Karena waktu itu, dengan kesaktian Pancasila, Indonesia menjadi kuat. Di kaki-kaki tugu, ada filosofi, yaitu gambar-gambar yang merupakan warna-warna simbolisasi dari kebudayaan Jawa. Ada warna merah, kuning, hitam dan putih, yang dikenal sebagai warna spirit.

“Oleh sebab itu yang menjadi masalah bagi para arsitektur biasanya bagaimana menemukan keramik yang sesuai dengan keinginan Ibu Tien Soeharto, misalnya warna dari merah cabe. Itu tidak selalu ada keramik warnanya merah,” tandasnya.

Theater Imax Keong Emas, berwarna kuning, yang demikian menarik. Belum tentu bisa mendapatkan warna emas yang diharapkan Ibu Tien Soeharto. Dan hal tersebut disebut Ibu Tien sebagai masalah teknis, dan sudah pasti bisa ditangani. Contoh lain adalah, pada saat Theater Imax Keong Emas sedang dibangun. Ibu Tien ingin dibuatkan pohon yang tumbuh seperti di Jepang tapi berbentuk bonsai.  Permintaan tersebut, dijawab General Manager TMII, Sampurno, untuk menanam pohon berbentuk bonsai, butuh proses lama, bisa mencapai 200 tahun.

Namun hal tersebut langsung dijawab dengan tegas, hal tersebut sebagai persoalan teknis. “Itu urusan kamu. Itu teknisnya. Saya pengen pohon kaya itu,” ujarnya menirukan ucapan Ibu Tien. Hal tersebut menjadi bagian dari kehebatan Ibu Tien Soeharto, di dalam setiap gagasannya. Apa yang Beliau ingin tuangkan dalam pelestarian budaya, mesti bagus. Ibu Tien menurutnya, tidak mau sekedar diberi saja.

Ibu Tien disebutnya, selalu berpikir besar dan maju ke depan. Hanya saja, terkadang pemikiran cemerlang Ibu Tien, dengan ide dan visi yang bagus tersebut, terkadang tidak mudah dipahami masyarakat umum.

Bahkan kala pembangun TMII, banyak yang mendemo ide cemerlang Ibu Tien. Namun kepada pendemo, Ibu Tien malah mengucapkan terima kasih, karena dengan begitu, dirinya harus bekerja ekstra hati-hati. Begitupun kepada para pendukungnya, Ibu Tien mengucapkan terima kasih.

Oleh sebab itu, Ibu Tien bertekad, untuk mewujudkan TMII dengan hati yang ikhlas dan lurus, untuk kemajuan bangsa Indonesia. Dalam perkembangan TMII, 20 museum telah hadir. Kini dalam proses pembangunan Museum Batik Indonesia, yang sudah siap diresmikan. Masud menyakini, setiap tahun akan hadir satu museum di TMII. “Karena yang hidup dari Ibu Tien adalah pemikiran, bukan sekedar cita-cita kosong, tapi sangat mendalam dalam upaya pengembangan dan pelestarian budaya bangsa,” ungkapnya.

TMII yang kini berada dibawah naungan Yayasan Harapan Kita (YHK). Dimana, YHK telah berulang tahun emas pada 23 Agustus 2018 lalu. Maka tema HUT ke 50 YHK adalah, Melanjutkan Harapan Membangun Untuk Indonesia, yang kesemua adalah bagian dari mimpi-mimpi Ibu Tien Soeharto, yang belum terwujud, akan dilanjutkan oleh Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Rukmana, yang tak lain adalah putri sulung Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto.

Untuk mewujudkan mimpi Ibu Tien itu, menurut Masud, ada dua kunci, yaitu kreatif dan militan. “Kreatif dikaitkan militan, dengan Cipta Pratama, yakni harus berpikir terus, sesuatu yang baik, tetapi secara militan, harus diwujudkan tidak sekedar hanya proposal nanti jadi atau tidak?” tukas Sekjen Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA) tersebut.

Sosok Ibu Tien sebagai istri presiden, tugasnya mendampingi Pak Harto. Kalau Pak Harto, memikirkan pembangunan negara, maka Ibu Tien memikirkan pembangunan spiritual yang bentuknya budaya. Oleh sebab itu, Ibu Tien pernah mengatakan, kebudayaan adalah budi daya daya manusia, untuk memenuhi kebutuhan lahir maupun bahtin. TMII adaalah budaya lahir, yang berupa anjungan-anjungan daerah.

Budaya batinnya adalah, hadirnya tujuh rumah ibadah, yaitu masjid, gereja, pura, wihara dan kelenteng. Kesemua rumah ibadah tersebut tampil di TMII sebagai pondasi bangsa. Uniknya lagi, Ibu Tien sangat memikirkan kehidupan masyarakat sekitar TMII. Ibu Tien juga pernah mengatakan, apa yang dibangun di TMII bukan untuk Dia dan keluarganya. Yang utama, TMII harus mempunyai nilai ekonomi, bagi masyarakat yang ada di sekelilingnya.

Bahkan Ibu Tien juga memberikan kesempatan kepada abak-anak yang tanahnya digusur untuk membangun wahana TMII. “TMII harus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitarnya, mereka bisa berdagang di TMII. Saya juga berikan kesempatan kepada anak-anak yang tanahnya digusur untuk bekerja di TMII, meskipun dia tidak sekolah,” ungkap Masud meniru ucapan Ibu Tien, kala itu.

Dalam pelestarian khazanah budaya bangsa yang tersaji di TMII, Masud berharap generasi milinia bisa melestarikan budaya sesuai dengan perkembangan zaman dengan mengikuti kecanggihan teknologi modern tapi tetap berhaluan ketimuran.

Baca Juga
Lihat juga...